JAKARTA โ Rupiah membuka perdagangan September dengan penguatan tipis. Mata uang Garuda berada di level Rp17.715 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (1/9/2026) pagi, naik 7 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya.
Penguatan rupiah berlangsung ketika pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS cenderung beragam. Peso Filipina menguat 0,14 persen, sementara ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat penguatan lebih besar dengan apresiasi 0,20 persen.
Namun, sejumlah mata uang kawasan justru bergerak melemah. Dolar Singapura turun 0,06 persen, yen Jepang melemah 0,05 persen, sedangkan yuan China terkoreksi 0,02 persen.
Won Korea Selatan mencatat pelemahan 0,20 persen. Dolar Hong Kong juga turun tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan serupa terlihat pada mata uang negara-negara maju. Dolar Australia menguat 0,06 persen, sementara euro Eropa melemah 0,07 persen.
Poundsterling Inggris turun 0,04 persen, dolar Kanada terkoreksi 0,08 persen, dan franc Swiss melemah 0,14 persen terhadap dolar AS.
Di tengah pergerakan pasar yang belum seragam, investor masih menanti sejumlah data ekonomi dari dalam negeri. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah berpeluang bergerak terbatas pada perdagangan hari ini.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi. Investor cenderung wait and see menantikan data-data inflasi dan perdagangan Indonesia siang ini,” ujar Lukman.
Menurut Lukman, sikap investor yang menunggu data tersebut membuat ruang penguatan rupiah diperkirakan belum terlalu besar. Data inflasi dan perdagangan Indonesia menjadi salah satu perhatian pasar untuk melihat arah perekonomian dan menentukan posisi terhadap rupiah.
Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang perdagangan Selasa.
Dengan posisi pembukaan di Rp17.715, rupiah masih berada di tengah kisaran proyeksi tersebut. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan dolar AS serta respons pasar terhadap data ekonomi Indonesia yang dijadwalkan keluar pada siang hari. (*)






