BULUKUMBA – Keindahan Tebing Appalarang di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), menyimpan pemandangan yang kontras. Di balik panorama tebing karang dan laut biru yang memikat wisatawan, sejumlah fasilitas di destinasi tersebut dilaporkan terbengkalai dan membutuhkan perhatian.
Hasil kunjungan ke lokasi pada 27 Mei 2024 memperlihatkan kios-kios yang sebelumnya digunakan untuk menjual suvenir kini tampak kosong. Aktivitas perdagangan di sekitar pintu masuk juga terlihat terbatas. Hanya sekitar 10 kios penjual gorengan yang masih berjejer di kawasan tersebut.
Kondisi itu menimbulkan kesan bahwa aktivitas wisata dan pemanfaatan fasilitas di Appalarang tidak seramai sebelumnya. Sejumlah fasilitas yang semestinya mendukung kenyamanan pengunjung juga terlihat mengalami kerusakan.
Padahal, destinasi wisata yang berada di Desa Ara tersebut memiliki daya tarik alam yang kuat. Tebing karang yang menjulang, hamparan laut lepas, serta deburan ombak menjadi pemandangan yang dapat dinikmati wisatawan ketika berkunjung.
Seorang ibu yang menjaga toilet umum di kawasan wisata itu mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung yang semakin jarang menjadi salah satu alasan fasilitas kurang mendapat perhatian.
“Iye pak, sudah jarang pengunjung jadi tidak diperhatikan, “ucap salah seorang ibu penjaga WC Umum.
Kios Suvenir Kosong, Aktivitas Ekonomi Ikut Terdampak
Deretan kios yang kosong menjadi salah satu pemandangan mencolok ketika memasuki kawasan Tebing Appalarang. Tempat yang sebelumnya berpotensi menjadi pusat penjualan cendera mata bagi wisatawan itu kini tidak lagi menunjukkan aktivitas perdagangan seperti yang diharapkan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keberadaan kios dan usaha kecil dapat mendukung kegiatan pariwisata sekaligus memberikan peluang pendapatan bagi masyarakat sekitar.
Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga berpotensi membeli makanan, minuman, maupun suvenir lokal. Aktivitas itu dapat membantu menggerakkan ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada kunjungan wisata.
Namun, apabila jumlah pengunjung menurun dan fasilitas tidak terawat, daya tarik kawasan berisiko berkurang. Pedagang bisa kehilangan pembeli, sedangkan wisatawan mungkin memilih destinasi lain yang menawarkan fasilitas lebih terawat.
Dalam kunjungan tersebut, sekitar 10 kios penjual gorengan masih terlihat berjejer di pintu masuk. Keberadaan pedagang yang bertahan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi belum sepenuhnya berhenti. Meski begitu, kondisi kios suvenir yang kosong memperlihatkan perlunya perhatian terhadap keberlanjutan kegiatan usaha di kawasan wisata.
Belum terdapat data mengenai jumlah pengunjung sebelum dan sesudah penurunan yang dikeluhkan warga. Karena itu, dugaan berkurangnya kunjungan masih perlu dilengkapi dengan catatan resmi dari pengelola atau instansi pariwisata setempat.
Turis Afrika Selatan Tetap Terpukau Keindahan Appalarang
Di tengah kondisi fasilitas yang memprihatinkan, pesona alam Tebing Appalarang masih mampu menarik perhatian wisatawan. Jordan, seorang turis dari Afrika Selatan, mengungkapkan kekagumannya ketika melihat langsung pemandangan di kawasan tersebut.
“It’s so beautifull Place (Sungguh ini tempat yang paling indah), “tutur Jordan.
Kekaguman Jordan memperlihatkan bahwa keindahan alam masih menjadi kekuatan utama Appalarang. Bentang tebing karang yang berbatasan langsung dengan laut menghadirkan panorama berbeda dari pantai yang identik dengan hamparan pasir.
Pemerintah Kabupaten Bulukumba juga pernah memperkenalkan Tebing Apparalang sebagai objek wisata alam yang berada di Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari. Destinasi ini menawarkan pemandangan tebing curam dan deburan ombak yang menghantam kawasan pesisir. <Cite refs={[“turn317029search5”]}/>
Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mempertahankan daya tarik wisata. Akan tetapi, keindahan alam saja belum cukup apabila pengunjung tidak mendapatkan fasilitas yang aman dan terawat.
Kenyamanan wisatawan juga dipengaruhi kondisi akses, kebersihan, ketersediaan fasilitas umum, serta informasi keselamatan. Pengelolaan yang baik diperlukan agar pengalaman pengunjung tidak hanya bergantung pada pemandangan, tetapi juga didukung pelayanan yang memadai.
Jembatan Roboh, Pengunjung Khawatir Keselamatan
Persoalan yang lebih serius terlihat pada fasilitas jembatan dan sejumlah spot foto. Dalam kunjungan pada 27 Mei 2024, jembatan yang disebut roboh akibat terjangan ombak dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah spot foto juga ikut hancur.
Kerusakan tersebut tidak hanya memengaruhi tampilan kawasan wisata, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai keselamatan pengunjung. Fasilitas yang berada di kawasan tebing dan pesisir membutuhkan pemeriksaan rutin, terutama setelah menghadapi gelombang laut atau cuaca buruk.
Pengelola perlu memastikan area yang rusak tidak digunakan sebelum menjalani pemeriksaan dan perbaikan. Apabila terdapat bagian jembatan yang patah atau struktur yang tidak stabil, pembatasan akses menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Seorang pengunjung bernama Risna menilai kawasan tersebut membutuhkan papan imbauan yang dapat mengingatkan wisatawan agar tidak mendekati area berbahaya.
”Seharusnya ada papan himbauan supaya orang yang datang tidak turun ke bawah, karena bahaya klo tiba-tiba patah itu jembatannnya, “kata Risna, salah seorang pengunjung.
Pernyataan Risna menyoroti kebutuhan informasi keselamatan di lokasi wisata. Papan peringatan dapat membantu pengunjung mengenali area yang tidak aman, terutama ketika kondisi fasilitas belum memungkinkan untuk digunakan.
Namun, keberadaan papan imbauan harus disertai tindakan nyata. Pengelola juga perlu memasang pembatas di sekitar fasilitas yang rusak, memeriksa kondisi struktur, serta mengarahkan pengunjung menjauhi titik yang berpotensi membahayakan.
Butuh Perhatian Pengelola dan Pemerintah Daerah
Kondisi Tebing Appalarang menjadi pengingat bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Perawatan fasilitas, pengawasan keselamatan, dan keberlanjutan usaha masyarakat harus berjalan beriringan.
Data pada Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional Kementerian Pariwisata mencatat Tebing Apparalang di Desa Ara sebagai atraksi wisata alam di Kecamatan Bonto Bahari. Sistem tersebut juga memuat sejumlah informasi mengenai fasilitas, sanitasi, dan aspek keamanan destinasi. <Cite refs={[“turn317029search0”]}/>
Informasi tersebut dapat menjadi salah satu acuan untuk mengevaluasi kebutuhan fasilitas di lapangan. Meski demikian, data inventaris destinasi tidak otomatis menggambarkan kondisi setiap fasilitas pada saat kunjungan 27 Mei 2024. Pemeriksaan langsung tetap diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan kebutuhan perbaikan.
Pengelola bersama pemerintah daerah juga perlu mengevaluasi penyebab berkurangnya kunjungan sebagaimana dikeluhkan penjaga toilet umum. Evaluasi dapat mencakup kondisi fasilitas, promosi wisata, pelayanan pengunjung, hingga upaya melibatkan pedagang dan masyarakat sekitar.
Perbaikan jembatan dan spot foto yang rusak harus menjadi perhatian utama apabila hasil pemeriksaan menunjukkan fasilitas tersebut membahayakan. Setelah itu, pengelola dapat menata kembali kios, memperbaiki kebersihan, dan menyediakan informasi yang jelas mengenai aturan berkunjung.
Dengan penanganan yang terarah, Tebing Appalarang berpeluang mempertahankan daya tariknya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat. Keindahan alam yang memikat wisatawan, termasuk pengunjung dari luar negeri, perlu diimbangi dengan fasilitas yang layak dan lingkungan yang terawat.
Tanpa pengelolaan yang konsisten, potensi wisata tersebut berisiko tertutup oleh persoalan fasilitas dan keselamatan. Sebaliknya, perhatian terhadap perawatan dan pelayanan dapat membantu menjaga Appalarang sebagai salah satu tujuan wisata alam andalan Kabupaten Bulukumba.






