News  

Tito Minta Calon Pemimpin Polri Tak Lagi Mengandalkan Keputusan Berbasis Feeling

Mendagri Muhammad Tito Karnavian saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan Sespim Lemdiklat Polri di Jakarta, Senin (31/8/2026).

JAKARTA โ€” Menjadi pemimpin tidak cukup hanya bermodal kewenangan. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta calon pemimpin strategis Polri membiasakan diri mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan dan data, bukan sekadar perasaan.

Pesan itu disampaikan Tito saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri di Gedung Tribrata Convention Center Dharmawangsa, Jakarta, Senin (31/8).

Tito mengatakan peserta Sespim nantinya akan menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan keputusan cepat sekaligus tepat. Karena itu, setiap persoalan harus terlebih dahulu dipahami melalui referensi, pengumpulan data, serta analisis dengan metodologi yang tepat.

โ€œSetiap pengambilan keputusan, saya minta rekan-rekan selalu mengambil keputusan berbasis science, berbasis data,โ€ kata Tito.

Menurutnya, pendidikan formal seharusnya tidak berhenti pada pencapaian gelar. Pendidikan justru harus membentuk cara berpikir seseorang agar mampu melihat persoalan secara sistematis sebelum mengambil keputusan.

Tito mencontohkan jenjang pendidikan sarjana yang menurutnya dapat mengubah pola seseorang dalam menyikapi persoalan, dari keputusan yang semula hanya berdasarkan feeling menjadi keputusan yang memiliki dasar ilmiah.

โ€œJadi, targetnya S1 itu hanya untuk mengubah cara berpikir, mengambil keputusan yang tadinya hanya feeling-feeling-an menjadi berbasis systematic science, ilmiah,โ€ tegasnya.

Semakin tinggi jenjang pendidikan, lanjut Tito, semakin kompleks pula kemampuan yang harus dimiliki. Seseorang dituntut mampu mencari referensi, menguasai metodologi, membaca data, menganalisis persoalan, hingga menarik kesimpulan.

Kemampuan tersebut dinilai penting bagi seorang pemimpin ketika berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan. Keputusan yang diambil tidak hanya menyangkut dirinya sendiri, tetapi dapat menentukan arah organisasi dan berdampak kepada banyak orang.

Power Saja Tak Cukup

Tito juga mengingatkan peserta Sespim bahwa kekuasaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang kuat. Seorang pemimpin harus mampu menyusun konsep, membaca persoalan, dan menentukan arah yang jelas bagi organisasi.

โ€œStrong leader itulah leader yang tidak hanya memiliki power, kekuasaan. Kita nanti memiliki kekuasaan, kapolres, kapolda, kajati, kajari, [atau] mungkin menjadi komandan di TNI, tapi power is not enough,โ€ tuturnya.

Bagi Tito, pengetahuan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang konseptual. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman, pembelajaran dari orang lain, maupun kebiasaan membaca berbagai referensi.

Semakin banyak referensi yang dimiliki, seorang pemimpin akan memiliki lebih banyak pijakan ketika menghadapi persoalan. Data kemudian menjadi bahan untuk menguji dan memperkuat keputusan yang akan diambil.

โ€œMakin rajin membaca, makin banyak membaca, makin banyak knowledge, maka ketika menghadapi problem, kita akan memiliki referensi yang banyak, tinggal menambah data, terus bisa mengambil keputusan. Itulah, pemimpin yang kuat, strong leader, dia harus memiliki konsep,โ€ kata Tito.

Selain memperkuat kemampuan berpikir, Tito mendorong peserta Sespim memperluas wawasan melalui pendidikan, termasuk kesempatan belajar di luar negeri.

Menurut dia, pengalaman menempuh pendidikan di negara maju dapat memberikan lebih dari sekadar pengetahuan. Peserta juga dapat mempelajari budaya, kedisiplinan, serta membangun jejaring internasional yang dapat menjadi bekal ketika kembali menjalankan tugas di Indonesia.

โ€œKalau sekolahnya luar negeri, apalagi negara maju, negara yang disiplin, less corrupt, keunggulannya kita bisa mendapatkan budaya itu tertular ke kita,โ€ tutur Tito.

Bagi Tito, kombinasi antara pengetahuan, data, pengalaman, dan konsep menjadi bekal penting bagi calon pemimpin strategis. Dengan fondasi tersebut, keputusan yang diambil diharapkan tidak lahir sekadar dari kewenangan, tetapi dari proses berpikir yang terukur. (*)

Sponsored ยท Ar Media Kreatif

Mau Punya Media Online Sendiri?

Bangun brand medianya sekarang bersama Ar Media Kreatif. Profesional sejak 2018. Ratusan media online telah kami bantu wujudkan!

Konsultasi Gratis