JAKARTA โ Bagi seorang komedian, panggung seharusnya menjadi ruang untuk membuat orang tertawa, bukan tempat untuk menebar ketakutan. Namun, menurut Lies Hartono atau Cak Lontong, keadaan justru menjadi serius ketika lawakan mulai dipandang sebagai ancaman.
Cak Lontong menilai sebuah negara patut mempertanyakan kondisinya jika humor yang semestinya dinikmati dengan santai justru dianggap membahayakan.
โSebuah negara yang betul-betul terancam itu ketika beranggapan lawakan itu adalah ancaman,โ kata Cak Lontong dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang dikutip Bentara.co, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, komedi pada dasarnya merupakan salah satu cara seseorang menyampaikan gagasan melalui humor. Karena itu, ketika sebuah lawakan sampai menimbulkan rasa takut, persoalannya bukan lagi sekadar soal lelucon.
โHal yang seharusnya dinikmati sebagai sesuatu yang humor, guyon, dan santai saja merasa terancam itu kan berarti sangat parah,โ ujarnya.
Cak Lontong kemudian melontarkan perumpamaan yang sederhana, tetapi tajam. Ia menggambarkan keadaan ketika seseorang bertemu badut, namun merasakan ketakutan seolah sedang berhadapan dengan begal atau perampok.
โBayangkan, ketemu badut itu jadi sudah menakutkan seperti mau ketemu begal dan perampok. Berarti kan parah kondisi negaranya, karena tidak bisa membedakan mana badut, mana begal, mana perampok,โ katanya.
Pernyataan tersebut muncul ketika Cak Lontong berbicara mengenai pengalaman pribadinya sebagai komedian yang memiliki pilihan politik.
Ia mengaku pernah merasakan konsekuensi dari pilihan politik tersebut dalam pekerjaannya. Sejumlah undangan tampil yang sebelumnya sudah diterimanya disebut dibatalkan setelah penyelenggara mengetahui pilihan politiknya.
Bahkan, kata Cak Lontong, pembatalan terjadi pada acara yang sebelumnya telah memberikan uang muka atau down payment (DP).
โBahkan yang sudah DP pun ditutup. Tapi tidak diminta duitnya. Mungkin rasa takutnya lebih kuat daripada rasa malunya,โ ujar dia.
Bagi Cak Lontong, pilihan politik dan profesi merupakan dua hal yang semestinya tidak dicampuradukkan. Ketika berada di atas panggung, ia memilih menjalankan tanggung jawabnya sebagai penghibur.
Ia menggambarkan profesinya seperti sebuah piring yang menjadi sumber kehidupannya. Piring itu, menurut dia, tidak mungkin sengaja dipecahkan hanya karena perbedaan pilihan politik.
โSaya ini orang yang kalau saya bilang ini profesi saya, saya tidak mungkin memecahkan piring saya dengan sengaja. Terus saya bagaimana cara makan?โ katanya.
Dalam menjalani profesinya sebagai komedian, Cak Lontong juga memegang pesan dari almarhum anggota Srimulat, Mas Mami. Pesan itu sederhana: seorang penghibur bertugas membuat orang lain merasa senang.
Karena itu, menurut Cak Lontong, ada batas yang tidak boleh dilampaui seorang komedian ketika menyampaikan materi di atas panggung.
โKita ini sebagai penghibur. Tugas kita membuat orang senang. Yang dijaga, jangan pernah menyakiti orang, apalagi dalam menjalankan profesi,โ tuturnya.
Bagi Cak Lontong, tawa seharusnya tetap menjadi tawa. Ketika sebuah lelucon sampai diperlakukan seperti ancaman, barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya isi lawakannya, tetapi juga suasana yang membuat orang takut mendengarnya.(*)
Wartawan: Andi, Editor: Andi






