Journalist Independent, MAKASSAR – Kabar mengenai dugaan penyerangan antarkelompok warga kembali membuat kawasan Jalan Rajawali, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, menjadi perhatian.
Pesan berantai yang menyebut adanya rencana serangan pada malam hari beredar melalui grup percakapan, disertai rekaman suara dan video yang memicu kekhawatiran masyarakat.
Dalam pesan tersebut, warga diminta menghindari Jalan Rajawali hingga kawasan Pantai Losari.
Pengemudi ojek daring juga diimbau tidak melintas karena muncul klaim bahwa kelompok tertentu sedang mempersiapkan penyerangan terhadap kelompok warga lainnya.
Pesan yang beredar menyebut kelompok Kokolojia diduga menyewa kendaraan untuk menyerang kelompok Rajawali Rusun. Bahkan, terdapat klaim mengenai bayaran Rp200 ribu per orang untuk mengikuti aksi tersebut.
Informasi itu disebarkan dengan bahasa yang mengesankan situasi keamanan sedang genting.
Rekaman suara yang meminta pengemudi ojek daring menjauhi lokasi serta video seseorang yang meninggal dunia turut disertakan dalam pesan tersebut.
Namun, kepolisian memastikan informasi mengenai ancaman penyerangan yang beredar itu tidak benar.
Masyarakat diminta tidak langsung mempercayai kabar yang belum diketahui sumber dan kepastian faktanya.
Kasi Humas Polrestabes Makassar, AKP Jafar Ahmad, mengatakan dirinya telah mengonfirmasi informasi tersebut kepada Polsek Mariso.
Langkah itu dilakukan untuk memeriksa kabar yang beredar di tengah masyarakat.
“Jangan terpancing berita yang tidak jelas sumbernya atau tidak terverifikasi,” kata Jafar, Selasa, 20 Oktober 2026.
Jalan Rajawali berada di wilayah administratif Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Makassar.
Kawasan tersebut masuk wilayah hukum Polsek Mariso yang berkantor di Jalan Dahlia, Kelurahan Kampung Buyang.
Jafar menilai penyebaran kabar yang tidak akurat dapat menciptakan gambaran seolah-olah Kota Makassar sedang berada dalam kondisi tidak aman. Karena itu, masyarakat diminta lebih cermat menyaring informasi sebelum meneruskannya kepada orang lain.
“Ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi agar Makassar seakan-akan tidak aman,” ujarnya.
Ia berharap warga tidak ikut memperbesar keresahan dengan menyebarkan pesan yang belum dipastikan kebenarannya. Menurut dia, ketenangan masyarakat perlu dijaga agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu oleh informasi yang menyesatkan.
“Kami menginginkan Makassar aman dan teduh, tanpa rasa takut dan keresahan,” tuturnya.
Tawuran Sebelumnya Menewaskan Seorang Warga
Meski klaim mengenai rencana penyerangan dalam pesan berantai tersebut dibantah, Jalan Rajawali memang sempat menjadi lokasi bentrokan antarkelompok warga. Peristiwa itu melibatkan kelompok Kokolojia dan Rajawali Rusun dalam beberapa hari terakhir.
Bentrok paling serius terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 01.30 Wita. Insiden di Jalan Rajawali, Kecamatan Mariso, tersebut menyebabkan seorang warga bernama Khairil meninggal dunia.
Khairil diketahui berasal dari kelompok Rajawali Rusun. Kematian korban kemudian menjadi perhatian aparat kepolisian yang melakukan penyelidikan terhadap dugaan tindak penganiayaan dalam peristiwa tersebut.
Tim Resmob Polda Sulawesi Selatan telah mengamankan tiga orang yang diduga terlibat dalam penganiayaan terhadap Khairil.
Penanganan kasus ini menjadi bagian dari upaya kepolisian mengusut bentrokan yang menimbulkan korban jiwa.
Riwayat bentrokan tersebut menjadi salah satu alasan kabar mengenai potensi serangan kembali menimbulkan kekhawatiran.
Namun, adanya peristiwa kekerasan sebelumnya tidak otomatis membuktikan bahwa setiap informasi mengenai rencana penyerangan yang beredar berikutnya benar.
Karena itu, warga perlu membedakan kejadian yang telah dikonfirmasi dengan klaim mengenai peristiwa yang belum terbukti. Video, rekaman suara, maupun pesan anonim tidak cukup dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa suatu kawasan sedang menghadapi ancaman serangan.
Warga Diminta Memeriksa Informasi Sebelum Membagikannya
Kepolisian mengimbau masyarakat Makassar memeriksa kebenaran informasi keamanan melalui saluran resmi sebelum menyebarkannya. Langkah tersebut penting untuk mencegah kabar yang belum terverifikasi berkembang menjadi kepanikan di tengah warga.
Masyarakat yang menerima pesan mencurigakan juga sebaiknya tidak langsung meneruskannya ke grup keluarga, lingkungan tempat tinggal, atau komunitas pengemudi ojek daring.
Penyebaran berulang dapat membuat informasi yang belum terbukti seolah-olah merupakan kejadian yang sudah dipastikan.
Kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi warga yang beraktivitas pada malam hari. Namun, keputusan mengenai kondisi keamanan sebaiknya didasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata pesan berantai.
Polisi berharap warga tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh kabar yang sumbernya tidak jelas.
Menjaga ketertiban lingkungan membutuhkan kerja sama masyarakat agar informasi yang beredar tidak justru memperkeruh suasana di Kota Makassar. (*)





