SULSEL  

Kebakaran di Makassar Hanguskan 15 Rumah, 27 KK Terdampak

Journalist Independent
Kebakaran yang melanda permukiman padat penduduk di Jalan Teuku Umar 10, Lorong 6 dan 7, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026
Kebakaran yang melanda permukiman padat penduduk di Jalan Teuku Umar 10, Lorong 6 dan 7, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026.

Juournalist Independent, MAKASSAR – Kebakaran yang melanda permukiman padat penduduk di Jalan Teuku Umar 10, Lorong 6 dan 7, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026, mengakibatkan 15 rumah terdampak.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Makassar mengerahkan 25 armada dan 87 personel untuk menjinakkan kobaran api yang meluas di kawasan permukiman tersebut.

Peristiwa ini menambah perhatian terhadap kondisi lingkungan perkotaan Makassar, terutama ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan sedang memburuk.

Asap dari kebakaran permukiman berpotensi menambah gangguan bagi warga di sekitar lokasi, meskipun kontribusi kebakaran ini terhadap kualitas udara secara keseluruhan belum diketahui.

Kepala Damkarmat Makassar, Fadli Wellang, mengatakan pihaknya langsung mengerahkan armada dan personel setelah menerima laporan kebakaran pada Selasa menjelang siang.

“25 unit armada dikerahkan untuk menangani kebakaran di Jalan Teuku Umar 10, Kecamatan Tallo,” kata Fadli dalam keterangannya.

Petugas menerima laporan kejadian pada pukul 11.58 WITA. Setelah bergerak menuju lokasi, tim pemadam tiba sekitar pukul 12.10 WITA untuk melakukan penanganan dan mencegah api terus menjalar ke bangunan lain di sekitarnya.

Damkarmat Makassar mengerahkan 78 petugas pemadam kebakaran dan sembilan personel penyelamatan. Sebanyak 25 kendaraan mendukung operasi tersebut, terdiri atas 16 mobil pemadam kebakaran, delapan mobil tangki air, dan satu kendaraan penyelamatan.

Besarnya jumlah armada yang dikerahkan menunjukkan kebutuhan penanganan intensif di kawasan permukiman yang terdampak. Petugas harus memastikan kobaran api terkendali sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru selama proses pemadaman berlangsung.

Berdasarkan pendataan awal Damkarmat Makassar, kebakaran berdampak terhadap 15 rumah warga. Dua di antaranya merupakan bangunan dengan bentuk petak-petak. Petugas memperkirakan luas area yang terdampak mencapai 30 x 50 meter.

Api akhirnya berhasil dikuasai sekitar satu jam setelah petugas tiba di lokasi. Fadli menyebut timnya berhasil mengendalikan kobaran api pada pukul 13.10 WITA.

“Api berhasil dikuasai pada pukul 13.10 WITA setelah petugas melakukan pemadaman di lokasi,” ujar Fadli.

Setelah memastikan penanganan di lapangan selesai, seluruh armada dan personel meninggalkan lokasi sekitar pukul 14.30 WITA. Damkarmat Makassar mencatat sebanyak 27 kepala keluarga terdampak berdasarkan pendataan awal.

Hingga informasi tersebut disampaikan, penyebab kebakaran belum diketahui. Nilai kerugian material juga belum dapat dipastikan karena petugas masih memerlukan informasi lebih lanjut untuk mengetahui dampak keseluruhan peristiwa tersebut.

Sebelum petugas menyelesaikan operasi pemadaman, kebakaran di Jalan Teuku Umar, khususnya Lorong 7, sempat menarik perhatian warga. Sebuah rumah dua lantai berbahan semi permanen dilaporkan terbakar dengan kobaran api dan kepulan asap tebal yang membumbung ke udara.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan sejumlah warga berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sebelum petugas tiba. Upaya warga tersebut menjadi respons awal ketika api mulai membesar, sementara tim Damkarmat Makassar bergerak menuju lokasi kejadian.

Fadli sebelumnya menyampaikan informasi singkat mengenai pergerakan petugas menuju lokasi dengan mengatakan, “Otw Pos Ujung Tanah.”

Petugas kemudian melanjutkan penanganan hingga api berhasil dikuasai. Meski demikian, penyebab awal munculnya api dan kronologi lengkap kebakaran masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Kualitas Udara Makassar Memburuk

Di tengah penanganan kebakaran permukiman tersebut, masyarakat Makassar juga menghadapi persoalan kualitas udara yang memburuk. Data yang disampaikan BMKG Wilayah IV Makassar menunjukkan konsentrasi partikulat di udara meningkat sepanjang Selasa, 13 Oktober 2026.

Angka yang tercatat mencapai 52,4 mikrogram per meter kubik pada dini hari, kemudian naik menjadi 85,6 mikrogram per meter kubik pada pagi hari. Pada sore hari, nilainya kembali meningkat hingga 113,5 mikrogram per meter kubik.

Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena paparan partikulat halus, terutama PM2.5, dapat mengganggu kesehatan apabila masyarakat menghirupnya dalam konsentrasi tinggi. Namun, data tersebut perlu dibaca sesuai indikator pengukuran dan periode pemantauannya, bukan sebagai ukuran langsung dampak dari kebakaran di Tallo.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, sebelumnya menjelaskan bahwa penyebaran partikulat mencakup sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan. Wilayah utara, termasuk kawasan Luwu hingga Toraja, menjadi pengecualian dalam gambaran sebaran yang ia sampaikan.

“Secara penyebaran partikulatnya hampir merata se-Sulsel, kecuali Sulsel bagian utara. Tapi untuk melihat nilai masing-masing kabupaten perlu dicek juga datanya di Dinkes atau DLH,” kata Rizky, Minggu, 11 Oktober 2026.

Rizky juga menjelaskan bahwa konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik. Ia menyebut kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat berdasarkan informasi yang disampaikannya.

“Partikulatnya, sampai hari ini PM2.5 dan untuk hari ini, masih menunjukkan kategori Tidak Sehat. Potensinya seperti itu, tapi hal ini juga bergantung dari sumber polutannya dan arah anginnya. Jika sumbernya berkurang atau anginnya berubah, kualitas udaranya bisa lebih membaik,” jelas Rizky.

BMKG menyebut sejumlah kemungkinan sumber partikulat, antara lain asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang terbawa angin menuju Sulawesi Selatan. Pergerakan angin dari timur juga memungkinkan asap dari kawasan Papua dan Maluku mencapai wilayah ini. Kebakaran lahan setempat turut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan.

Gubernur Sulsel Minta Warga Gunakan Masker

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan ketika kualitas udara memburuk.

Ia meminta warga memperhatikan kondisi lingkungan dan menggunakan perlindungan diri ketika harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

“Jadi, saya mengimbau karena kondisi udara di Sulawesi Selatan ini terdapat kiriman-kiriman dari barat maupun dari timur sehingga nilai polutannya pada ambang yang kemudian menjadi. (*)