Journalist Independent, MAKASSAR – Hujan yang mulai diperkirakan turun di Makassar pada November 2026 membawa harapan bagi warga yang beberapa hari terakhir menghadapi kabut asap.
Namun, masyarakat diminta tidak terburu-buru menganggap hujan pertama sebagai pertanda kondisi udara sudah aman.
Dinas Kesehatan Kota Makassar mengingatkan adanya risiko kesehatan ketika hujan mulai turun saat konsentrasi partikel polutan di udara masih tinggi. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit bawaan, diminta lebih berhati-hati agar tidak langsung terpapar hujan pertama.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Andi Mariani, mengatakan masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan sebelum beraktivitas di tengah hujan yang baru pertama kali turun setelah periode cuaca kering dan berasap.
“Kalau hujan pertama kali turun, sebaiknya jangan langsung terkena hujan itu,” ujar Andi Mariani, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut dia, kewaspadaan diperlukan karena Makassar masih menghadapi persoalan pencemaran udara akibat partikel halus PM2,5. Partikel polutan di udara dapat terbawa turun bersama air hujan sehingga masyarakat perlu menghindari paparan langsung, terutama ketika kondisi udara belum membaik.
Andi Mariani secara khusus mengingatkan keluarga yang memiliki anak kecil, lansia, maupun anggota keluarga dengan penyakit penyerta agar lebih berhati-hati ketika hujan pertama mulai mengguyur wilayah Makassar.
Ia menilai masyarakat tidak seharusnya langsung beraktivitas di bawah hujan hanya karena menganggap turunnya air dari langit akan membuat udara menjadi lebih bersih.
“Anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit bawaan sebaiknya diupayakan tidak terkena hujan pertama,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa paparan polutan dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki gangguan kesehatan sebelumnya. Karena itu, masyarakat diminta tetap menjaga diri selama kualitas udara belum menunjukkan perbaikan yang konsisten.
Meski demikian, penjelasan mengenai risiko kesehatan tersebut tidak berarti setiap hujan pertama pasti menyebabkan penyakit. Masyarakat tetap perlu memperhatikan kualitas udara, mengurangi paparan asap, serta mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan pernapasan atau gejala lain yang mengkhawatirkan.
PM2,5 Maros Turun, tetapi Kualitas Udara Masih Perlu Diwaspadai
Di tengah peringatan kesehatan tersebut, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar mencatat konsentrasi PM2,5 di wilayah pengamatan Maros mengalami perubahan dalam beberapa jam terakhir.
Ketua Tim Kerja Klimatologi BBMKG Wilayah IV Makassar, Muflihah, menyebut konsentrasi PM2,5 pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 08.00 tercatat sebesar 76,5 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pengukuran pada 14 Oktober 2026 yang mencapai 156 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi sebelumnya itu masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan keterangan yang disampaikan BMKG.
Meski terjadi penurunan, kondisi tersebut belum bisa dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa persoalan kabut asap di Sulawesi Selatan telah berakhir. Konsentrasi partikel halus masih dapat berubah mengikuti pergerakan massa udara dan masuknya polutan dari wilayah lain.
” Kondisi ini fluktuatif, jadi kita tidak bisa mengatakan berapa poin penurunannya,” kata Muflihah.
Ia menjelaskan, perubahan konsentrasi PM2,5 berlangsung dari waktu ke waktu. Kondisi udara di Sulawesi Selatan juga dipengaruhi oleh kiriman polutan asap dari daerah lain sehingga pergerakannya tidak selalu dapat diperkirakan hanya berdasarkan pengukuran pada satu waktu.
BMKG turut mencatat angin masih dominan bertiup dari timur. Pola tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau pergerakan polutan.
“Prediksi angin kita masih berada di timur, belum ada perubahan signifikan,” ujarnya.
Modifikasi Cuaca Belum Diperlukan
Walaupun kabut asap masih menjadi perhatian, BMKG menilai kondisi di Sulawesi Selatan belum berada pada tingkat kedaruratan yang memerlukan teknologi modifikasi cuaca (TMC).
Muflihah mengatakan, langkah tersebut biasanya dipertimbangkan ketika situasi sudah sangat mendesak dan penanganan membutuhkan intervensi tambahan. Menurut dia, kondisi kabut asap di Sulawesi Selatan belum sebanding dengan kejadian di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera yang mengalami asap sangat pekat.
“Modifikasi cuaca dilakukan jika kondisi betul-betul darurat,” tuturnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan TMC juga memerlukan permintaan resmi dari instansi terkait, seperti pemerintah daerah atau pihak yang membutuhkan dukungan tersebut.
Hingga Kamis, belum ada permintaan modifikasi cuaca dari Pemerintah Kota Makassar sebagaimana disampaikan Muflihah.
Dengan demikian, penanganan saat ini masih berfokus pada pemantauan kondisi atmosfer dan kualitas udara, sembari menunggu perubahan cuaca yang berpotensi membantu mengurangi konsentrasi polutan.
Musim Hujan Makassar
Harapan terhadap perbaikan kualitas udara turut bertumpu pada prakiraan hujan dalam beberapa pekan mendatang. BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas rendah hingga sedang mulai berpeluang turun di Makassar pada November 2026.
Sementara itu, awal musim hujan secara klimatologis diprediksi berlangsung pada awal Desember 2026. Artinya, hujan yang turun pada November belum tentu menandai masuknya musim hujan secara penuh.
“Untuk wilayah Makassar, prakiraan hujan dalam sebulan sudah ada di November, dengan kategori rendah hingga sedang,” kata Muflihah.
Turunnya hujan diharapkan membantu mengurangi partikel yang melayang di udara. Namun, perubahan kualitas udara tetap bergantung pada intensitas hujan, kondisi angin, dan keberlanjutan sumber polusi di wilayah sekitar.
Sambil menunggu hujan lebih rutin, warga Makassar diminta tidak mengabaikan perlindungan kesehatan.
Mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai saat harus keluar rumah, serta memantau informasi kualitas udara menjadi langkah yang dapat dilakukan.
Masyarakat juga perlu memberi perhatian lebih kepada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.
Penurunan angka PM2,5 pada satu waktu belum menjamin udara telah bersih, sementara prakiraan hujan November masih perlu dibedakan dari awal musim hujan yang diperkirakan baru berlangsung pada Desember. (*)






