152 Pendaki Gunung Sumbing Dievakuasi di Tengah Karhutla, Jalur Pendakian Ditutup

Journalist Independent
Ratusan pendaki Gunung Sumbing berhasil turun setelah sempat terjebak kabut asap, Selasa (20/10/2026).
Ratusan pendaki Gunung Sumbing berhasil turun setelah sempat terjebak kabut asap, Selasa (20/10/2026).

Journalist Independent, JAKARTA — Sebanyak 152 pendaki Gunung Sumbing berhasil turun dengan selamat setelah menghadapi situasi berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di kawasan pegunungan Jawa Tengah.

Kabut asap dan kondisi jalur yang licin membuat proses penjemputan membutuhkan tenaga ekstra, sementara petugas harus memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal.

Seluruh pendaki telah berhasil dievakuasi hingga Rabu, 21 Oktober 2026. Kepastian tersebut disampaikan Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja setelah tim gabungan melakukan penanganan di jalur pendakian yang terdampak kebakaran.

“Dari total 152 pendaki, semuanya sudah turun,” kata Ricky.

Ia memastikan tidak ada pendaki yang mengalami kecelakaan maupun luka-luka selama proses evakuasi. Keberhasilan ini menjadi kabar melegakan bagi keluarga pendaki, mengingat kebakaran di kawasan Gunung Sumbing belum sepenuhnya dapat dipadamkan.

Penanganan difokuskan pada keselamatan manusia sebelum petugas melanjutkan koordinasi untuk menghadapi kebakaran. Pemerintah dan unsur terkait juga mengambil langkah pencegahan agar tidak ada pendaki baru yang memasuki kawasan berisiko.

40 Ranger Dikerahkan Menjemput Pendaki

Proses evakuasi melibatkan personel dari Polres Wonosobo, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Puskesmas Kalikajar, Palang Merah Indonesia (PMI), pengelola basecamp, serta unsur terkait lainnya.

Sebanyak 40 personel ranger dari basecamp dikerahkan untuk menjemput pendaki hingga Pos III. Petugas harus bekerja ekstra karena perjalanan dari Pos III menuju basecamp diperkirakan memerlukan waktu sekitar enam jam.

Kondisi jalur yang licin turut memperberat pergerakan tim di lapangan. Dalam situasi seperti ini, proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara terburu-buru karena petugas harus mempertimbangkan keselamatan pendaki sekaligus personel penyelamat.

Koordinasi antartim menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh kelompok pendaki dapat turun secara teratur.

Petugas juga perlu memantau kondisi jalur dan perkembangan kebakaran agar proses penjemputan tidak menambah risiko baru.

Kapolres Wonosobo menegaskan, keselamatan pendaki menjadi prioritas utama dalam penanganan kejadian tersebut.

“Prioritas kami memastikan keselamatan mereka terlebih dahulu,” ujarnya.

Setelah seluruh pendaki berhasil turun, penanganan berikutnya diarahkan pada pemantauan kebakaran dan pengendalian akses menuju kawasan pendakian.

Jalur Pendakian Gunung Sumbing Ditutup

Untuk mencegah bertambahnya jumlah orang yang berada di kawasan berbahaya, petugas menutup jalur pendakian Gunung Sumbing melalui sejumlah basecamp.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi selama karhutla belum dinyatakan padam.

Penutupan juga membutuhkan koordinasi lintas wilayah karena kawasan Gunung Sumbing mencakup wilayah administratif dan yurisdiksi kepolisian yang berbeda.

Polres Wonosobo berkoordinasi dengan Polres Temanggung dan Polresta Magelang untuk memastikan kebijakan penutupan jalur berjalan secara menyeluruh.

Keseragaman langkah diperlukan agar pendaki tidak masuk melalui jalur lain ketika akses dari satu wilayah telah ditutup.

Tim gabungan turut mendirikan posko pusat kendali di Basecamp Gajah Mungkur.

Posko tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi penanganan, pemantauan informasi, serta penerimaan pengaduan dari keluarga yang mencari kabar mengenai pendaki.

Keberadaan posko membantu mempercepat pertukaran informasi antara petugas lapangan dan pihak yang membutuhkan kepastian kondisi anggota keluarganya.

Petugas juga menyiapkan langkah evakuasi darurat bersama BPBD untuk mengantisipasi perubahan situasi di kawasan gunung. Meski seluruh pendaki telah turun, penutupan jalur tetap penting selama potensi bahaya akibat kebakaran belum terkendali.

Karhutla Gunung Sumbing Belum Padam

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Sumbing hingga kini masih menjadi perhatian petugas. Api yang belum sepenuhnya padam membuat upaya penanganan tidak berhenti setelah evakuasi pendaki selesai.

Karhutla di kawasan pegunungan berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari kerusakan vegetasi, hilangnya habitat satwa, hingga gangguan kualitas udara akibat asap. Pada area dengan tutupan lahan yang mudah terbakar, api juga dapat meluas ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran kebakaran.

Asap yang terbawa angin berpotensi mengurangi jarak pandang dan mengganggu pernapasan.

Bagi pendaki, kondisi tersebut dapat menyulitkan orientasi selama perjalanan, terutama ketika kabut asap bercampur dengan kabut alami pegunungan.

Sementara itu, jalur yang licin dan medan terjal dapat memperbesar risiko kecelakaan saat pendaki berusaha meninggalkan kawasan terdampak. Karena itu, penghentian sementara aktivitas pendakian menjadi langkah pencegahan yang penting.

Dampak kebakaran juga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas wisata. Vegetasi yang terbakar dapat mengganggu fungsi ekologis kawasan pegunungan, sedangkan kerusakan tutupan lahan berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap erosi ketika hujan turun.

Besarnya dampak tersebut bergantung pada luas area terbakar, tingkat kerusakan vegetasi, serta kondisi lingkungan setempat.

Namun, luas kebakaran, jumlah titik api, penyebab munculnya api, dan tingkat kerusakan kawasan Gunung Sumbing belum dirinci dalam keterangan yang tersedia.

Oleh sebab itu, dampak aktual kebakaran terhadap ekosistem dan masyarakat sekitar masih memerlukan pendataan lebih lanjut.

Kapolres Wonosobo menyampaikan bahwa penanganan kebakaran akan terus dikoordinasikan dengan instansi terkait, termasuk kepolisian di tingkat daerah yang lebih tinggi, untuk memperoleh dukungan lanjutan.

Keselamatan Pendaki Menjadi Prioritas

Keberhasilan mengevakuasi 152 pendaki tanpa korban luka menunjukkan pentingnya koordinasi antara petugas, pengelola basecamp, dan tim penyelamat ketika menghadapi keadaan darurat di gunung.

Meski demikian, keberhasilan evakuasi tidak berarti kawasan pendakian sudah aman untuk kembali dikunjungi.

Selama kebakaran belum padam dan kondisi lapangan masih berpotensi membahayakan, masyarakat diminta mematuhi penutupan jalur serta mengikuti informasi resmi dari petugas.

Calon pendaki juga perlu menunda perjalanan sampai akses dinyatakan aman dan dibuka kembali oleh pihak berwenang.

Memaksakan pendakian di tengah karhutla dapat meningkatkan risiko terjebak asap, tersesat, atau mengalami kesulitan ketika harus turun melalui medan yang berat.

Untuk saat ini, seluruh 152 pendaki telah dipastikan selamat. Fokus penanganan selanjutnya adalah mengendalikan kebakaran, memantau kondisi kawasan Gunung Sumbing, dan mencegah munculnya korban baru akibat aktivitas di wilayah terdampak. (*)