Journalist Independent, MAKASSAR — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini berdampak pada kesehatan masyarakat sekaligus aktivitas transportasi di Sulawesi Selatan.
Konsentrasi partikulat di udara Makassar meningkat hingga 113,5 mikrogram per meter kubik pada Selasa (13/10/2026).
Sementara sehari sebelumnya tujuh penerbangan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, batal berangkat dan berdampak pada 1.070 penumpang.
Kondisi tersebut menambah kewaspadaan pemerintah daerah dan pengelola bandara. Selain mengimbau warga membatasi paparan polusi, pemerintah juga memantau perkembangan asap yang diduga terbawa angin dari sejumlah wilayah Indonesia.
Data pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat di Makassar meningkat sejak dini hari. Angkanya tercatat 52,4 mikrogram per meter kubik, kemudian naik menjadi 85,6 mikrogram per meter kubik pada pagi hari, sebelum mencapai 113,5 mikrogram per meter kubik pada sore hari.
Kenaikan itu menunjukkan memburuknya kualitas udara. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
BMKG Sebut Partikulat Menyebar di Sulawesi Selatan
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, menjelaskan partikulat menyebar di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Wilayah bagian utara, termasuk kawasan Luwu hingga Toraja, menjadi pengecualian dalam pola penyebaran yang ia sampaikan.
“Secara penyebaran partikulatnya hampir merata Se Sulsel, kecuali Sulsel bagian Utara. Tapi untuk melihat nilai masing-masing kabupaten perlu dicek juga datanya di Dinkes atau DLH,” kata Rizky pada Minggu (11/10/2026).
Rizky juga menyampaikan bahwa Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dalam pemantauan yang ia jelaskan.
“Partikulatnya, sampai hari ini PM2.5 dan untuk hari ini, masih menunjukkan kategori Tidak Sehat. Potensinya seperti itu, tapi hal ini juga bergantung dari sumber polutannya dan arah anginnya. Jika sumbernya berkurang atau anginnya berubah, kualitas udaranya bisa lebih membaik,” jelasnya.
Menurut data BMKG yang disampaikan, asap karhutla di Kalimantan berpotensi terbawa angin menuju Sulawesi Selatan. Pergerakan angin dari timur juga memungkinkan asap dari kawasan Papua dan Maluku mencapai wilayah tersebut. Kebakaran lahan lokal turut menjadi kemungkinan sumber partikulat.
Meski demikian, perubahan kualitas udara bergantung pada pergerakan angin, sumber polutan, serta perkembangan kebakaran. Data dari instansi lingkungan hidup dan kesehatan tetap diperlukan untuk melihat kondisi setiap daerah secara lebih terperinci.
Gubernur Sulsel Minta Warga Gunakan Masker
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan di tengah meningkatnya polusi udara. Ia menyebut wilayahnya berpotensi menerima kiriman polutan dari arah barat maupun timur.
“Jadi, saya mengimbau karena kondisi udara di Sulawesi Selatan ini terdapat kiriman-kiriman dari barat maupun dari timur sehingga nilai polutannya pada ambang yang kemudian menjadi perhatian di bidang kesehatan,” ujar Andi Sudirman.
Ia meminta warga yang bekerja atau beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.
“Kita berharap ketika warga kami tercinta bekerja di luar untuk waktu-waktu yang durasi lama atau kurun waktu tertentu, dapat menggunakan masker dalam aktivitas kesehariannya,” lanjutnya.
Gubernur juga mengingatkan masyarakat menjaga asupan nutrisi dan memperhatikan kondisi tubuh.
Jika mengalami gejala seperti flu atau keluhan lain setelah terpapar udara buruk, warga diminta memperhatikan kesehatan dan mengikuti arahan resmi.
“Jika ada yang terdampak seperti mungkin flu dan sebagainya, agar memperhatikan asupan nutrisi serta menjalankan protap-protap kesehatan. Yang paling penting, semua masyarakat memperhatikan imbauan resmi dan menyesuaikan diri,” katanya.
Tujuh Penerbangan Batal, 1.070 Penumpang Terdampak
Gangguan akibat asap juga memengaruhi operasional Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros. Data operasional pada Senin (12/10/2026) mencatat tujuh penerbangan batal berangkat dengan total 1.070 penumpang terdampak. Pembatalan melibatkan Lion Air, Sriwijaya Air, dan Wings Air.
Rinciannya sebagai berikut:
– Lion Air JT-940 rute Makassar-Sorong, jadwal 02.40 WITA, membawa 189 penumpang.
– Lion Air JT-888 rute Makassar-Ambon, jadwal 09.25 WITA, membawa 196 penumpang.
– Lion Air JT-944 rute Makassar-Sorong, jadwal 11.25 WITA, membawa 168 penumpang.
– Sriwijaya Air SJ-902 rute Makassar-Sorong, jadwal 10.20 WITA, membawa 124 penumpang.
– Lion Air JT-896 rute Makassar-Ternate, jadwal 07.30 WITA, membawa 168 penumpang.
– Wings Air IW-1300 rute Makassar-Mamuju, jadwal 17.10 WITA, membawa 36 penumpang.
– Lion Air JT-980 rute Makassar-Ternate, jadwal 15.15 WITA, membawa 189 penumpang.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, mengatakan pengelola bandara berkoordinasi dengan maskapai untuk menangani penumpang yang terdampak pembatalan.
“Dalam penanganan penumpang terdampak, manajemen bandara berkoordinasi dengan maskapai penerbangan untuk mendukung penyediaan langkah penanganan sesuai kondisi dan ketentuan yang berlaku,” kata Ruly dalam keterangan resmi, Selasa (13/10/2026).
Penanganan tersebut mencakup pengembalian dana tiket atau refund, penjadwalan ulang penerbangan atau reschedule, serta penyediaan area istirahat bagi penumpang.
Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas
Ruly menegaskan pihak bandara terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memantau perkembangan cuaca dan menjaga kelancaran operasional.
Koordinasi dengan AirNav Indonesia dan BMKG juga dilakukan untuk memperoleh informasi terbaru yang menjadi dasar pemantauan penerbangan.
Pembatalan penerbangan menjadi salah satu langkah yang dapat diambil ketika kondisi cuaca atau jarak pandang tidak memenuhi persyaratan keselamatan.
Namun, informasi yang tersedia belum merinci kondisi jarak pandang pada setiap penerbangan yang batal.
Masyarakat yang memiliki jadwal perjalanan dari Makassar diimbau memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.
Penumpang juga dapat menghubungi maskapai untuk memastikan pilihan pengembalian dana atau perubahan jadwal.
Di sisi lain, perkembangan kualitas udara di Sulawesi Selatan masih memerlukan pemantauan berkelanjutan.
Perubahan arah angin dan penanganan sumber kebakaran akan memengaruhi konsentrasi partikulat dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi ini menunjukkan dampak karhutla tidak berhenti di kawasan yang terbakar. Asap dapat melintasi wilayah, menurunkan kualitas udara, mengganggu kesehatan, dan memengaruhi transportasi.
Karena itu, pemantauan lingkungan, informasi yang akurat, serta kepatuhan terhadap imbauan kesehatan dan keselamatan menjadi penting selama kondisi tersebut berlangsung. (*)






