NEWS  

IHSG Rebound 4,16 Persen ke 5.204,63, Asing Justru Jual Saham Rp1,97 Triliun

Journalist Independent
Ilustrasi Saham.
Ilustrasi Saham.

Journalist Independent, JAKARTA — Pasar saham Indonesia menunjukkan pemulihan tajam setelah tekanan besar akibat polemik klasifikasi pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 4,16 persen pada perdagangan sesi pertama Selasa, 20 Oktober 2026, tetapi kenaikan tersebut belum diikuti arus dana asing yang sepenuhnya positif.

IHSG bertambah 208,02 poin ke level 5.204,63 setelah sebelumnya mengalami tekanan jual besar sejak Jumat, 16 Oktober 2026.

Dalam periode tersebut, indeks tercatat merosot 15,38 persen menyusul munculnya usulan MSCI untuk mengevaluasi kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Lonjakan IHSG pada sesi pertama menjadikan bursa Indonesia sebagai pasar dengan kinerja terbaik di antara sejumlah indeks emerging market Asia Pasifik yang dipantau pada periode yang sama.

Namun, pergerakan indeks yang menguat tidak serta-merta menggambarkan seluruh investor kembali melakukan pembelian.

Data transaksi menunjukkan investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,97 triliun berdasarkan nilai transaksi, meskipun secara volume mereka membukukan pembelian bersih 925,56 juta lembar saham.

Perbedaan antara pergerakan indeks, nilai transaksi, dan volume tersebut menjadi perhatian di tengah upaya pasar memulihkan kepercayaan setelah gejolak akibat evaluasi MSCI.

Saham Perbankan Menjadi Motor Rebound IHSG

Penguatan IHSG pada sesi pertama terutama ditopang saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memimpin kontribusi kenaikan setelah harga sahamnya meningkat 8,27 persen.

Kenaikan BBRI memberikan sumbangan sekitar 31,04 poin terhadap IHSG. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyumbang sekitar 24 poin indeks sehingga turut memperkuat pemulihan pasar.

Pergerakan saham perbankan memiliki pengaruh besar terhadap IHSG karena bobot kapitalisasi pasar emiten-emiten tersebut.

Ketika saham berkapitalisasi besar mengalami kenaikan, indeks dapat terdorong secara signifikan meskipun sejumlah saham lain masih berada dalam tekanan.

Di sisi lain, tidak semua saham bergerak searah dengan indeks. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu pemberat IHSG setelah turun 4,10 persen dan menekan indeks sekitar 6,98 poin.

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga memberikan tekanan dengan penurunan harga 6,87 persen, yang mengurangi sekitar 4,37 poin IHSG.

Dengan demikian, penguatan indeks pada sesi pertama belum menunjukkan pemulihan merata di seluruh saham.

Perbedaan kinerja antar-emiten masih memperlihatkan bahwa investor melakukan seleksi terhadap saham yang dianggap menarik di tengah ketidakpastian pasar.

Transaksi Tembus Rp17,2 Triliun

Nilai transaksi saham Indonesia pada sesi pertama mencapai Rp17,2 triliun. Angka tersebut melampaui rata-rata nilai transaksi harian pekan sebelumnya yang berada di kisaran Rp16,2 triliun.

Volume perdagangan mencapai 40,79 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,66 juta kali. Aktivitas tersebut memperlihatkan tingginya intensitas perdagangan ketika IHSG mencoba bangkit dari penurunan tajam.

Meski demikian, investor asing masih melakukan penjualan bersih berdasarkan nilai transaksi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net foreign sell terbesar, mencapai Rp1,01 triliun.

BBRI menyusul dengan penjualan bersih asing sebesar Rp245,04 miliar, sedangkan BMRI mencatatkan Rp208,97 miliar. Berikutnya, PT Indosat Tbk (ISAT) mengalami penjualan bersih Rp92,67 miliar dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar Rp84,94 miliar.

Sebaliknya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar, mencapai Rp176,67 miliar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berada di urutan berikutnya dengan Rp50,70 miliar.

Investor asing juga mencatatkan pembelian bersih pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp35,99 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp24,17 miliar, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp23,50 miliar.

Data tersebut memperlihatkan bahwa arus dana asing tidak bergerak seragam. Penjualan besar pada saham perbankan berlangsung bersamaan dengan pembelian pada sejumlah emiten lain, sehingga perubahan strategi investor perlu dibaca berdasarkan saham dan nilai transaksinya.

IHSG Ungguli Bursa Asia Pasifik

Kinerja IHSG pada sesi pertama berbanding terbalik dengan sejumlah pasar saham regional. Indeks KOSPI Korea Selatan melemah 4,27 persen, sedangkan NIFTY India turun 1,11 persen dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,95 persen.

Di antara indeks yang dipantau, hanya dua pasar lain yang masih mencatatkan kenaikan, yakni FBMKLCI Malaysia sebesar 0,20 persen dan PCOMP Filipina sebesar 0,03 persen.

Perbandingan tersebut menempatkan rebound IHSG sebagai salah satu pergerakan paling mencolok di kawasan.Namun, kenaikan tajam setelah penurunan sebelumnya perlu dibedakan dari pemulihan fundamental yang berkelanjutan.

Pasar dapat mengalami rebound ketika harga saham telah terkoreksi dalam, antara lain karena pembelian kembali oleh investor yang melihat peluang harga lebih rendah.

Meski demikian, arah berikutnya tetap bergantung pada perkembangan sentimen, kondisi likuiditas, serta kepastian kebijakan pasar modal.

Mengapa Evaluasi MSCI Begitu Berpengaruh?

MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan banyak manajer investasi, reksa dana, dan produk exchange-traded fund (ETF).

Indeksnya digunakan untuk menyusun portofolio, mengukur kinerja investasi, serta menentukan alokasi dana berdasarkan negara dan kategori pasar.

Ketika status suatu negara atau komposisi saham dalam indeks berubah, pengelola dana yang mengikuti acuan tersebut dapat menyesuaikan kepemilikannya.

Proses itu berpotensi memicu pembelian maupun penjualan dalam jumlah besar, terutama pada saham dengan bobot signifikan.

Berdasarkan data September 2026 dalam materi yang tersedia, terdapat sembilan saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes, yakni BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII, BRPT, BBNI, BRMS, dan UNTR. Sementara itu, MSCI Small Cap Indexes mencakup 34 saham Indonesia.

Karena itu, evaluasi MSCI bukan sekadar persoalan perubahan daftar saham. Keputusan tersebut berkaitan dengan akses investor global, likuiditas perdagangan, dan persepsi mengenai kelayakan pasar Indonesia sebagai tujuan investasi.

MSCI sebelumnya menyampaikan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia setelah menerima kekhawatiran pelaku pasar terkait transparansi kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi.

Pengumuman tersebut memicu gejolak besar, termasuk penghentian sementara perdagangan atau trading halt ketika tekanan jual muncul.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menekankan pentingnya pelaksanaan reformasi secara nyata.

Perbaikan tidak cukup hanya diumumkan, tetapi perlu dibuktikan melalui keterbukaan data, pengawasan yang konsisten, serta tindak lanjut atas dugaan transaksi tidak wajar.

Rebound Belum Menghapus Risiko Pasar

Penguatan IHSG sebesar 4,16 persen menjadi sinyal pemulihan setelah koreksi tajam, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan tekanan telah berakhir.

Penjualan bersih asing berdasarkan nilai transaksi dan perbedaan pergerakan saham menunjukkan bahwa kepercayaan investor masih perlu dipulihkan.

Perhatian pasar berikutnya tertuju pada langkah konkret otoritas dalam memperbaiki transparansi kepemilikan, kualitas data free float, dan pengawasan perdagangan.

Konsistensi pelaksanaan kebijakan tersebut akan menjadi faktor penting bagi investor dalam menilai prospek pasar saham Indonesia.

Bagi investor, lonjakan indeks perlu dilihat bersama dengan pergerakan saham individual, arus dana asing, dan perkembangan kebijakan MSCI.

Pemulihan yang lebih kuat membutuhkan bukan hanya kenaikan harga, melainkan juga kejelasan aturan serta kepercayaan terhadap integritas pasar modal. (*)