Resistensi insulin, lanjut Yogo, merupakan kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara optimal. Akibatnya, gula darah lebih sulit masuk ke dalam sel sebagai sumber energi sehingga kadar glukosa di dalam darah meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai tahap awal menuju prediabetes dan diabetes.
“Pada pengguna vape, nikotin dapat mengganggu jalur persinyalan insulin di jaringan tubuh. Di saat yang sama, paparan nikotin memengaruhi mitokondria serta sel beta pankreas yang bertugas memproduksi insulin,” terangnya.
Saat cairan vape dipanaskan, pelarut seperti propylene glycol dan vegetable glycerin akan menghasilkan berbagai senyawa reaktif, termasuk reactive oxygen species (ROS) dan senyawa karbonil beracun. Yogo menjelaskan, kedua zat ini memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya.
Stres oksidatif kemudian memicu peradangan kronis pada tingkat sel dan mengganggu kemampuan tubuh menggunakan insulin secara efektif. Meski demikian, Yogo menegaskan bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyatakan vape sebagai penyebab tunggal diabetes.
“Yang lebih kuat ditunjukkan penelitian adalah meningkatnya risiko resistensi insulin dan prediabetes. Risiko diabetes yang signifikan justru lebih banyak ditemukan pada pengguna ganda, yaitu mereka yang menggunakan vape sekaligus merokok konvensional,” katanya.
Bahaya Vape bagi Organ Lain
Jika gangguan metabolik berkembang secara perlahan, paru-paru menjadi organ pertama yang langsung menerima paparan aerosol vape setiap kali seseorang mengisapnya.
Berbeda dengan anggapan umum bahwa vape hanya menghasilkan “uap air”, aerosol yang dihasilkan sebenarnya membawa berbagai zat kimia yang masuk hingga ke saluran napas terdalam.
Menurut Yogo, penelitian memang menunjukkan penggunaan vape dapat meningkatkan tahanan jalan napas dan memicu peradangan. Namun, perubahan fungsi paru jangka panjang masih terus dipelajari karena dipengaruhi banyak faktor, seperti durasi penggunaan, jenis perangkat, kandungan cairan, hingga apakah pengguna juga merokok konvensional.
Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan penggunaan vape dengan meningkatnya risiko asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury (EVALI), yakni cedera paru akut yang pernah menjadi perhatian dunia beberapa tahun terakhir.
“Artinya, meski seseorang belum merasakan sesak napas, proses peradangan dapat saja telah berlangsung di dalam saluran pernapasan,” kata Yogo.
Banyak orang mengira nikotin merupakan satu-satunya zat berbahaya dalam vape. Padahal, menurut Yogo, risiko datang dari berbagai komponen yang ikut terhirup.
Nikotin tetap menjadi zat utama yang perlu diwaspadai karena bersifat sangat adiktif. “Zat ini merangsang sistem saraf simpatis sehingga memicu peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, mengganggu fungsi pembuluh darah, serta memengaruhi metabolisme glukosa,” sebutnya.
Lebih lanjut, kawat pemanas pada perangkat vape dapat melepaskan logam berat seperti nikel, timbal, kadmium, dan kromium ke dalam aerosol yang dihirup pengguna. Paparan logam-logam tersebut diketahui berkaitan dengan stres oksidatif, kerusakan ginjal, bahkan memiliki potensi karsinogenik.
Belum lagi hasil pemanasan cairan vape yang menghasilkan aldehida berbahaya seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein. Senyawa-senyawa ini mampu merusak sel epitel saluran napas, mengganggu mekanisme pembersihan paru, serta memperkuat proses inflamasi.






