NEWS  

Fareed Zakaria: Klaim Kemenangan AS atas Iran Terlalu Dini, Perang Justru Menguras Biaya dan Persenjataan

Journalist Independent
Fareed Zakaria
Fareed Zakaria
Journalist Independent, WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat menghadapi pertanyaan besar di tengah perang melawan Iran: apakah keberhasilan militer mengendalikan jalur pelayaran strategis dan menekan ekspor minyak Teheran benar-benar menandai kemenangan, atau justru menunjukkan betapa mahalnya upaya Washington mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah?

Fareed Zakaria, analis politik internasional, menilai klaim kemenangan Amerika atas Iran masih terlalu dini.

Meski militer AS menunjukkan kemampuan operasional yang mengesankan, keberhasilan di medan perang belum tentu menghasilkan tujuan politik yang diinginkan Presiden Donald Trump.

Sejumlah suara konservatif di Amerika mulai menyebut perang tersebut menguntungkan Washington. Komentator Scott Jennings, misalnya, menyatakan, “Kita menang. Iran kalah. Titik.” Hugh Hewitt menyampaikan pandangan serupa, sementara halaman editorial Wall Street Journal menilai keadaan mulai berbalik menguntungkan Amerika.

Namun, Zakaria mengingatkan bahwa kemampuan militer untuk menekan lawan tidak otomatis membuktikan keberhasilan sebuah perang. Menurut dia, persoalan utama justru terletak pada ketidakjelasan tujuan pemerintahan Trump, terutama apakah Washington ingin mengubah kebijakan Iran atau menggulingkan pemerintahan Republik Islam tersebut.

Perang Iran Mengubah Tujuan Amerika

Untuk memahami persoalan itu, Zakaria mengajak publik melihat kembali rangkaian konflik yang membawa Amerika ke situasi sekarang. Pada Juni 2025, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap fasilitas nuklir Iran. Trump kemudian mengklaim program nuklir Teheran telah hancur.

Namun, delapan bulan kemudian, Washington dan Tel Aviv kembali berperang dengan ambisi yang lebih luas. Kali ini, serangan mereka menyasar kepemimpinan Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut dan sejumlah pejabat senior.

Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka. Langkah itu memperlihatkan bahwa perubahan rezim menjadi salah satu sasaran utama operasi militer Amerika.

Akan tetapi, Republik Islam Iran tidak runtuh. Pemerintahannya tetap bertahan, kelompok garis keras mengonsolidasikan kekuatan, dan Teheran mengangkat pemimpin tertinggi baru.

Iran kemudian menggunakan instrumen tekanan yang selama bertahun-tahun menjadi ancamannya, yakni menutup Selat Hormuz. Jalur laut tersebut memegang peranan penting dalam perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewatinya.

Akibatnya, Amerika kini mengerahkan kekuatan besar untuk membuka kembali jalur pelayaran yang sebelumnya beroperasi sebelum perang pecah. Zakaria menilai situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: jika Washington harus menghabiskan begitu banyak sumber daya hanya untuk memulihkan keadaan sebelumnya, apakah langkah itu pantas disebut kemenangan?

Biaya Perang Membebani Amerika

Dampak perang tidak hanya terlihat dari pergerakan pasukan dan kerusakan infrastruktur. Konflik tersebut juga membebani anggaran pemerintah, mempersempit persediaan persenjataan, serta meningkatkan biaya hidup masyarakat Amerika.

Zakaria mengutip data Pentagon yang menempatkan biaya perang sekitar 45 miliar dolar AS. Sementara itu, Congressional Budget Office memperkirakan konflik berintensitas rendah sekalipun dapat menambah pengeluaran sekitar 2 miliar dolar AS setiap bulan.

Sedikitnya 19 personel militer Amerika dilaporkan tewas dalam perang tersebut. Di sisi lain, Washington juga menghadapi persoalan persediaan rudal pencegat pertahanan udara yang semakin menipis.

Menurut Zakaria, Amerika kemungkinan telah menggunakan antara setengah hingga dua pertiga persediaan sejumlah rudal pencegat canggih tertentu. Penggantian persenjataan itu dapat memerlukan waktu lebih dari lima tahun, padahal Washington juga membutuhkan kemampuan pertahanan tersebut untuk menghadapi potensi konflik dengan China.

Pada akhir Juni, sedikitnya enam kapal perang Amerika telah dialihkan dari kawasan Pasifik menuju Timur Tengah. Pengalihan tersebut memperlihatkan bagaimana konflik di satu kawasan dapat mengurangi fleksibilitas militer Washington di kawasan lain.

Tekanan ekonomi juga semakin terasa. Harga minyak mentah Brent rata-rata berada di sekitar 100 dolar AS per barel selama perang, atau sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik.

Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics, memperkirakan hingga Juli perang tersebut telah menambah beban rumah tangga Amerika sekitar 1.000 dolar AS melalui kenaikan harga dan pembayaran bunga.

Masyarakat Amerika juga mengeluarkan sekitar 130 miliar dolar AS lebih banyak untuk membeli bensin dan solar. Kenaikan harga solar mendorong biaya transportasi barang, kegiatan pertanian, dan distribusi pangan. Rumah tangga yang menggunakan minyak untuk memanaskan tempat tinggal bahkan berpotensi menghadapi tagihan 50 persen lebih tinggi pada musim dingin.

Negara Teluk dan Lebanon Ikut Menanggung Dampak

Kerugian perang meluas jauh melampaui Amerika dan Iran. Negara-negara Teluk menghadapi kenaikan biaya pengiriman, gangguan perdagangan, serta kemerosotan sektor pariwisata. Kepercayaan mereka terhadap Washington juga menghadapi tekanan akibat konflik yang mengancam stabilitas kawasan.

Dubai, misalnya, mengalami penurunan tingkat hunian hotel dari hampir 85 persen pada Februari menjadi 23 persen pada Maret, menurut data yang dipaparkan Zakaria.

Pemerintah negara-negara Teluk juga harus mengeluarkan dana besar untuk memperbaiki infrastruktur dan membangun jalur alternatif agar pengiriman energi tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz. Sementara itu, negara pengimpor energi menghadapi kenaikan tagihan yang membebani perekonomian mereka.

Dampak paling tragis terlihat di Lebanon, negara yang selama puluhan tahun menghadapi persaingan kekuatan regional. Dalam perbincangannya dengan Kim Ghattas, editor kontributor Financial Times, Zakaria menyoroti kehancuran di Lebanon selatan akibat konflik Israel dengan kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Ghattas menggambarkan perubahan dramatis Lebanon, yang dahulu dikenal melalui reputasi Beirut sebagai Paris-nya Timur Tengah.

“Lebanon adalah negara kecil yang saya gambarkan sebagai arena permainan sekaligus ring tinju bagi kekuatan regional dan internasional,” kata Ghattas.

Menurut dia, sekitar 6 persen wilayah Lebanon telah hancur, sementara sedikitnya 600.000 orang mengungsi dari rumah mereka. Angka tersebut sangat besar bagi negara yang berpenduduk sekitar lima juta jiwa.

Ghattas menilai masyarakat Lebanon kembali terjebak di antara kepentingan Amerika dan Israel di satu sisi serta Iran di sisi lain. Negara itu menghadapi kehancuran tanpa kepastian mengenai kapan konflik akan berakhir.

Tekanan Militer Belum Menjamin Iran Menyerah

Zakaria menilai Iran kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Republik Islam berdiri. Selain sanksi ekonomi dan konflik melalui kelompok sekutu regional, Teheran harus menghadapi serangan langsung Amerika dan Israel.

Namun, tekanan tersebut belum tentu memaksa kepemimpinan Iran menyerah. Ghattas menilai konflik berlangsung jauh lebih lama daripada perkiraan awal Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang semula mengharapkan perang singkat dapat menjatuhkan pemerintahan Iran.

Iran juga menghadapi kenyataan bahwa Amerika belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Sebaliknya, Washington terus meningkatkan tekanan militer meskipun konflik telah berlangsung berbulan-bulan.

Persoalannya, menurut Zakaria, Trump belum memberikan arah yang konsisten. Menteri Keuangan Scott Bessent pernah menyampaikan pesan bahwa rezim Iran akan berakhir. Namun, dalam kesempatan lain, pemerintah Amerika menjelaskan bahwa tujuannya juga mencakup tekanan agar Teheran bersedia berunding.

Trump bahkan mempertanyakan apakah Amerika sebaiknya memberikan kesempatan kepada Iran untuk membangun kembali negaranya melalui kesepakatan atau menghancurkan Republik Islam dengan cepat. Pada saat bersamaan, utusan Amerika, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menjalankan negosiasi dengan pejabat Iran.

Kontradiksi tersebut dapat menghambat diplomasi. Jika pemimpin Iran percaya bahwa Washington tetap ingin menggulingkan mereka, apa pun konsesi yang diberikan, mereka memiliki sedikit alasan untuk berkompromi.

Zakaria mengingatkan bahwa kekuatan militer seharusnya membantu memperkuat posisi tawar dalam perundingan, bukan menggantikan penyelesaian politik. Pengalaman Amerika di Vietnam, Afghanistan, dan Irak menunjukkan bahwa kemenangan dalam pertempuran tidak selalu menghasilkan stabilitas jangka panjang.

Karena itu, Washington perlu menentukan sasaran yang realistis. Jika ingin mengubah kebijakan Iran, Amerika harus merumuskan kesepakatan yang jelas, termasuk pembukaan Selat Hormuz, pembatasan program nuklir, dan pengendalian aktivitas militer Iran di kawasan.

Sebaliknya, jika perubahan rezim menjadi tujuan utama, pemerintah Amerika harus memperhitungkan kemungkinan konflik berkepanjangan dan meluas ke negara-negara tetangga.

Bagi Zakaria, selama Washington belum menyelesaikan pertentangan antara tujuan militer dan politiknya, klaim kemenangan hanya akan menjadi pernyataan prematur.

Amerika mungkin mampu menghancurkan sasaran lawan, tetapi keberhasilan perang pada akhirnya bergantung pada apakah kekuatan tersebut menghasilkan penyelesaian yang bertahan lama. (*)