Journalist Independent.com, MAKASSAR – Asap yang bertebaran di langit Kalimantan hingga ke Papua dikaitkan dengan Dukhan, tanda akan terjadinya kiamat yang disebutkan dalam ajaran islam. Benarkah itu adalah Dukhan atau fenomena lain?
Secara harfiah kata ulama, akademisi, sekaligus guru besar hukum Islam kontemporer asal Sulawesi Selatan (Sulsel), Prof. Muammar Bakry, dukhan berarti asap. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan asap yang muncul dari pembakaran, baik berwarna putih, abu-abu, maupun hitam, seperti asap rokok, pabrik, dan dupa.
Namun, menurut Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) tersebut, makna dukhan dalam konteks kebahasaan tidak bisa langsung disamakan dengan Dukhan yang dibicarakan sebagai salah satu tanda kiamat dalam ajaran Islam.
Dalam Al-Qur’an, dukhan menjadi nama surah ke-44, yakni Surah Ad-Dukhan, yang terdiri dari 59 ayat dan tergolong surah Makkiyah. Istilah tersebut juga muncul dalam ayat ke-10 yang berbicara tentang datangnya kabut atau asap yang nyata.
“Dukhan itu dalam Al-Qur’an atau Surah Ad-Dukhan disebutkan itu nanti akan keluar sebagai awal tanda kiamat. Ya, itu dukhan,” ungkap Prof. Muammar.
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel ini menjelaskan, ayat yang dimaksud berbunyi “Fartaqib yauma ta’tis sama-u bidukhanim mubin”, yang secara umum diterjemahkan sebagai perintah untuk menantikan hari ketika langit membawa kabut asap yang nyata.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami konteks ayat tersebut sebelum menghubungkannya dengan fenomena asap yang terjadi saat ini. Sebab, tidak semua asap yang terlihat di langit dapat langsung dinyatakan sebagai Dukhan yang disebut dalam pembahasan tanda-tanda kiamat.
Asap Karhutla Bukan Berarti Dukhan Akhir Zaman
Prof. Muammar menilai, asap yang menyebar hingga ke sejumlah wilayah Indonesia saat ini lebih berkaitan dengan persoalan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemarau berkepanjangan, serta aktivitas manusia dapat menjadi faktor yang memicu munculnya asap dan menurunkan kualitas udara.
Ia menjelaskan, fenomena El Niño yang dapat meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah juga berpotensi memperburuk kondisi lahan. Ketika lahan gambut mengering, risiko kebakaran menjadi lebih tinggi dan api dapat menghasilkan asap yang menyebar ke wilayah lain mengikuti pergerakan angin.
Selain faktor alam, kelalaian manusia maupun tindakan sengaja membakar lahan juga dapat memicu kebakaran yang berdampak luas.
Fenomena tersebut, menurutnya, perlu disikapi melalui upaya nyata untuk menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran, bukan semata-mata dikaitkan dengan pertanda akhir zaman.
“Ini bisa juga karena kelalaian manusia. Nah, karena ini menjadi perhatian kita bersama dan tentu perlu ada langkah-langkah taktis dari pemerintah dan juga semua umat, semua warga Indonesia,” ucapnya.
Ia menambahkan, asap akibat karhutla di Kalimantan dapat terbawa angin hingga ke wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Makassar. Dampaknya tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat akibat paparan partikulat di udara.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu mengambil langkah untuk mengurangi risiko kebakaran, menjaga lingkungan, serta melindungi warga dari dampak pencemaran udara.
“Jadi belum yang dimaksud Ad-Dukhan yang ada dalam Al-Qur’an sebagai salah satu tanda kiamat. Ini hanya akibat sebagian ulah manusia karena tidak menjaga lingkungan atau karena kepanasan dan ada pemanasan global dengan kemarau yang berkepanjangan akibat El Niño,” tegasnya.






