Udara Makassar Tidak Sehat
Kualitas udara di Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga kini masih dalam katergori tidak sehat. Sejauh ini, sejumlah daerah masuk dalam kategori ini, kecuali Sulsel bagian Utara. Penurunan kualitas udara ini terjadi terutama pada pagi hingga menjelang siang hari.
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulsel, Rizky Yudha, menyatakan penyebaran partikulat hampir merata di setiap Kabupaten/Kota di Sulsel yang berbeda-beda nilai PM2.5 nya.
“Secara penyebaran partikulatnya hampir merata Se Sulsel, kecuali Sulsel bagian Utara. Tapi untuk melihat nilai masing-masing kabupaten perlu dicek juga datanya di Dinkes atau DLH,” kata Rizky kepada wartawan, Senin (12/10/20206).
Rizky mengatakan, saat ini, kualitas udara berada pada konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m3) dengan kategori tidak sehat.
“Partikulatnya, sampai hari ini PM2.5 dan untuk hari ini, masih menunjukkan kategori Tidak Sehat. Potensinya seperti itu, tapi hal ini juga bergantung dari sumber polutannya dan arah anginnya. Jika sumbernya berkurang atau anginnya berubah, kualitas udaranya bisa lebih membaik,” jelasnya.
Grafik Udara di Sulsel
Berdasarkan infografik yang beredar, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menempati posisi tertinggi dengan indeks AQI 149. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif menurut standar AQI Amerika Serikat (US AQI).
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Bantaeng dengan AQI 126 dan Jeneponto dengan AQI 125. Sementara itu, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) serta Barru sama-sama mencatat indeks 122.
Kota Makassar berada di urutan keenam dengan AQI 121, disusul Soppeng 120, Parepare 119, Bone 118, dan Sidenreng Rappang (Sidrap) 118.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan mendominasi daftar kualitas udara terburuk di Sulawesi pada tanggal pengamatan tersebut.
Maros Tertinggi, Makassar Juga Perlu Waspada
Indeks AQI 149 yang tercantum untuk Maros menjadi angka tertinggi dalam daftar 21 wilayah yang beredar. Nilainya mendekati ambang 151, yaitu awal kategori tidak sehat bagi masyarakat umum berdasarkan klasifikasi US AQI.
Pada rentang AQI 101–150, kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan gangguan pernapasan berpotensi mengalami dampak kesehatan akibat paparan polusi udara.
Kondisi serupa perlu diperhatikan di Makassar, yang mencatat AQI 121 dalam daftar tersebut. Sebagai pusat aktivitas ekonomi, perdagangan, dan transportasi di Sulawesi Selatan, kualitas udara Makassar menjadi persoalan penting bagi masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di luar ruangan.
Meski demikian, angka AQI saja tidak dapat digunakan untuk memastikan sumber pencemaran. Diperlukan data konsentrasi polutan, kondisi meteorologi, serta pengamatan lapangan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kualitas udara pada waktu tertentu.






