Kabut Asap Lumpuhkan Penerbangan di Bandara Rendani Monokwari

Journalist Independent
Pengendara melintas di tengah kabut asap akibat karhutla di jalan menuju Bandara Rendani, Manokwari, Papua Barat, Selasa (6/10/2026). ANTARA/Fransiskus Salu Weking/aa.
Pengendara melintas di tengah kabut asap akibat karhutla di jalan menuju Bandara Rendani, Manokwari, Papua Barat, Selasa (6/10/2026). ANTARA/Fransiskus Salu Weking/aa.

PAPUA BARAT — Kabut asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla membuat aktivitas penerbangan di Manokwari, Papua Barat, terhenti total.

Seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Rendani pada Selasa (6/10/2026) batal beroperasi setelah jarak pandang turun hingga hanya sekitar 1 kilometer pada siang hari.

Kondisi tersebut membuat maskapai tidak dapat menerbangkan pesawat karena jarak pandang berada di bawah batas keselamatan operasional.

Gangguan tidak hanya berdampak pada penerbangan komersial, tetapi juga sejumlah penerbangan perintis yang menjadi jalur penting bagi mobilitas masyarakat di Papua Barat.

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas II Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan kabut asap membuat jarak pandang pilot tidak memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.

“Hari ini semua rute penerbangan dibatalkan karena jarak pandang saat pagi hari itu hanya sekitar 3 kilometer, dan siangnya hanya 1 kilometer saja,” ujar Herman di Manokwari.

Seluruh Rute Penerbangan Manokwari Dibatalkan

Sejumlah rute penerbangan komersial terdampak pembatalan. Jalur Jakarta-Manokwari, Makassar-Manokwari, Manokwari-Sorong, Kaimana-Manokwari, Jayapura-Manokwari, dan Nabire-Manokwari tidak dapat beroperasi.

Tiga rute penerbangan perintis pada siang hari juga ikut terdampak. Ketiganya yakni Wasior-Manokwari, Manokwari-Kambuaya, dan Manokwari-Teminabuan.

Herman menegaskan maskapai tidak dapat memaksakan penerbangan dalam kondisi jarak pandang yang berada di bawah standar keselamatan.

“Penerbangan komersial maupun perintis tidak bisa beroperasi, karena jarak pandang di bawah ketentuan keselamatan operasional,” katanya.

Menurut dia, pembatalan tersebut merupakan langkah untuk mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat. Pihak bandara meminta masyarakat memahami kondisi tersebut karena kabut asap berada di luar kendali operasional penerbangan.

Bandara Rendani Pantau Kondisi Kabut Asap

UPBU Kelas II Rendani Manokwari terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG untuk memantau perkembangan kondisi cuaca.

Hasil pemantauan akan menjadi salah satu pertimbangan bagi maskapai dalam menentukan apakah penerbangan dapat kembali beroperasi atau harus tetap ditunda.

“Kami tentu berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dapat kembali normal,” ujar Herman.

Gangguan penerbangan juga berdampak langsung kepada penumpang yang telah memiliki jadwal perjalanan dari Manokwari.

Ari Pomanto, salah seorang penumpang rute Manokwari-Jakarta, mengatakan maskapai telah memberitahukan pembatalan penerbangan sekaligus memberikan jadwal pengganti.

“Saya harusnya berangkat siang ini tapi batal dan dipindahkan ke Kamis. Kalau mau refund juga bisa tapi ada potongan 10 persen,” kata Ari.

Asap Karhutla dari Sejumlah Wilayah Selimuti Manokwari

Kabut asap yang mengganggu penerbangan di Manokwari tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sekitar wilayah tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Papua Barat, Danang Tri Soesilo, mengatakan asap kiriman dari Papua Selatan dan Papua Nugini turut memperburuk kondisi udara di Manokwari.

Di Papua Barat sendiri, karhutla terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Kaimana, dan Fakfak.

“Termasuk juga karhutla dari Maybrat, Papua Barat Daya yang asapnya kena sampai ke Manokwari,” ujar Danang.

Kondisi tersebut membuat konsentrasi kabut asap semakin tebal dan berdampak pada jarak pandang di sekitar Bandara Rendani.

Bagi penerbangan, penurunan jarak pandang menjadi persoalan serius karena pilot membutuhkan kondisi visual yang memenuhi standar untuk melakukan proses lepas landas maupun pendaratan.

Jika kabut asap terus bertahan, gangguan perjalanan udara dari dan menuju Manokwari berpotensi berlanjut. Karena itu, perkembangan kondisi cuaca dan kuali. (*)