Juournalist Independent, GOWA – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat permukaan air Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), terlihat surut, Selasa 13 Oktober 2026.
Kondisi ini tampak dari dasar aliran sungai yang terbuka dan bebatuan yang muncul di sekitar aliran air dari bendungan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, air masih mengalir melalui bagian tengah sungai.
Sementara itu, sejumlah bagian dasar aliran terlihat tanpa genangan sehingga bebatuan di kawasan tersebut tampak jelas. Aliran air yang tersisa membentuk jalur di antara bebatuan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi musim hujan di Sulawesi Selatan mengalami kemunduran dibandingkan pola musim biasanya.
Hujan yang umumnya mulai turun pada Oktober diperkirakan baru meluas pada akhir November hingga awal Desember 2026.
Perubahan pola musim ini juga menjadi perhatian dalam menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.
Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat turut memengaruhi kondisi iklim Indonesia.
Bersama fenomena Indian Ocean Dipole (IOD), kondisi tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan dan mundurnya awal musim hujan di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kombinasi kedua fenomena tersebut dapat memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal pada konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Selasa (22/9/2026).
BMKG juga mencatat kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia hingga awal Oktober 2026.
Wilayah Sulawesi bagian selatan dan tenggara termasuk daerah yang mengalami kondisi minim hujan berdasarkan pemantauan Hari Tanpa Hujan hingga September.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan air di waduk menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan selama kemarau.
Pasokan air dari bendungan dibutuhkan untuk menopang berbagai aktivitas masyarakat, terutama ketika curah hujan belum meningkat.
Data yang tercatat pada 6 Oktober 2026 menunjukkan volume air Waduk Bili-Bili mencapai 82,411 juta meter kubik. Lima hari sebelumnya, volume air waduk masih tercatat sebesar 86,1 juta meter kubik.
Berdasarkan kedua catatan tersebut, volume air berkurang sekitar 3,689 juta meter kubik dalam lima hari.
Bendungan Bili-Bili memiliki kapasitas tampungan sekitar 243,84 juta meter kubik.
Infrastruktur ini menjadi salah satu penopang pengelolaan sumber daya air di Sulawesi Selatan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan di wilayah yang dilayani.
Diperkirakan ketersediaan air masih mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir Desember 2026.
Air dari Bendungan Bili-Bili dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat.
Pasokan tersebut juga mendukung pengairan lahan pertanian di sejumlah wilayah yang terhubung dengan sistem pengelolaan air bendungan.
Selain memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi, bendungan ini turut mendukung pembangkit listrik tenaga air. Infrastruktur tersebut juga berperan dalam pengendalian banjir di wilayah hilir Sungai Jeneberang. (*)






