SULSEL  

Kondisi Terkini Bendungan Bili-Bili Gowa Pasca Kemarau Panjang

Journalist Independent
Kondisi Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Kondisi Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Fakta Bendungan Bili-Bili Gowa

Bendungan Bili-Bili yang terletak di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air strategis yang memiliki peran penting bagi masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan. Bendungan ini tidak hanya berfungsi untuk menampung air, tetapi juga mendukung kebutuhan irigasi pertanian, penyediaan air baku, pembangkit listrik, dan pengendalian risiko banjir.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Bendungan Bili-Bili memiliki kapasitas tampungan sekitar 375 juta meter kubik air. Kapasitas tersebut menjadikan bendungan ini sebagai salah satu infrastruktur penting dalam pengelolaan sumber daya air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang.

Keberadaan Bendungan Bili-Bili berkaitan erat dengan kebutuhan air masyarakat, khususnya di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar. Pengoperasiannya harus memperhatikan kondisi hidrologi, curah hujan, volume tampungan, serta kebutuhan air di wilayah hilir.

1. Dibangun untuk Mendukung Pengelolaan Air

Bendungan Bili-Bili dibangun pada periode 1992–1999. Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung pengelolaan air secara terpadu, mulai dari penyimpanan air hingga pengendalian dampak banjir.

Dalam pengoperasiannya, bendungan dikelola oleh BBWS Pompengan Jeneberang, yang berada di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum.

Pengelolaan tersebut mencakup pemantauan kondisi air, pengaturan pelepasan air, serta operasi dan pemeliharaan fasilitas bendungan.

Fungsi bendungan menjadi semakin penting ketika wilayah hulu mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Air yang masuk ke waduk perlu dipantau untuk memastikan pengoperasian bendungan tetap sesuai prosedur dan kondisi keselamatan.

2. Memiliki Kapasitas Tampungan 375 Juta Meter Kubik

Salah satu data utama Bendungan Bili-Bili adalah kapasitas tampungannya yang mencapai sekitar 375 juta meter kubik.

Kapasitas tersebut merupakan daya tampung waduk berdasarkan data teknis yang dipublikasikan sebelumnya. Angka ini tidak boleh disamakan dengan volume air yang tersedia pada suatu waktu karena jumlah air di dalam waduk dapat berubah mengikuti curah hujan, aliran masuk, dan pelepasan air.

Kondisi waduk dipantau melalui pengukuran tinggi muka air atau TMA. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan pola operasi bendungan.

Ketika kondisi hidrologi mengharuskan pelepasan air, pengelola dapat mengoperasikan pintu pelimpah sesuai prosedur yang berlaku. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan bendungan dan kondisi aliran sungai di bagian hilir.

3. Mendukung Irigasi 25.783 Hektare Lahan Pertanian

Bendungan Bili-Bili juga berperan dalam mendukung kebutuhan air bagi sektor pertanian di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan informasi resmi BBWS Pompengan Jeneberang yang dipublikasikan pada Februari 2025, bendungan ini mendukung layanan irigasi untuk sekitar 25.783 hektare lahan pertanian.

Luas tersebut terdiri atas:

  • Daerah Irigasi Bissua: 12.793 hektare.
  • Daerah Irigasi Kampili: 10.547 hektare.
  • Daerah Irigasi Bili-Bili: 2.443 hektare.

Dukungan air irigasi menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Ketersediaan air yang dikelola secara terencana membantu petani memenuhi kebutuhan pengairan lahan, terutama ketika curah hujan tidak mencukupi.

Meski demikian, realisasi layanan air irigasi tetap dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan air, pola tanam, serta pengaturan distribusi air di jaringan irigasi.

4. Menjadi Sumber Air Baku

Selain pertanian, Bendungan Bili-Bili berperan dalam mendukung penyediaan air baku dengan kapasitas layanan yang dilaporkan mencapai sekitar 3,52 meter kubik per detik.

Air baku merupakan air yang digunakan sebagai bahan dasar untuk pengolahan lebih lanjut sebelum dimanfaatkan sebagai air bersih.

Ketersediaan sumber air ini penting bagi kebutuhan rumah tangga, kegiatan ekonomi, dan pelayanan publik di wilayah yang dilayani.

Pengelolaan air baku harus memperhatikan keseimbangan antara ketersediaan air di waduk dan kebutuhan berbagai sektor. Oleh karena itu, pemantauan kondisi waduk serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air.

5. Berperan dalam Pengendalian Risiko Banjir

Bendungan Bili-Bili memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting, yakni membantu mengurangi risiko banjir melalui pengaturan tampungan dan pelepasan air.

Informasi BBWS Pompengan Jeneberang pada Februari 2025 menyebutkan bendungan tersebut memiliki kapasitas reduksi banjir hingga sekitar 1.200 meter kubik per detik.

Angka tersebut merupakan informasi teknis mengenai kapasitas reduksi banjir, bukan jaminan bahwa seluruh banjir di wilayah hilir dapat dicegah.

Besarnya dampak banjir tetap dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk intensitas dan durasi hujan, kondisi sungai, aliran dari anak sungai, serta kapasitas drainase perkotaan.

Dalam kondisi tertentu, pelepasan air melalui pintu pelimpah dapat dilakukan sesuai prosedur operasi untuk mengelola volume tampungan. Karena air yang dilepaskan akan mengalir ke bagian hilir, informasi mengenai pengoperasian pintu air perlu disampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.

6. Kondisi Air Harus Dipantau Secara Berkala

Pemantauan tinggi muka air merupakan bagian penting dalam pengoperasian Bendungan Bili-Bili.

Sebagai contoh, BBWS Pompengan Jeneberang melaporkan bahwa saat banjir pada 11 Februari 2025, tinggi muka air waduk mencapai elevasi 100,56 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan masih berada dalam kategori normal berdasarkan evaluasi saat itu.

Informasi tersebut merupakan catatan historis untuk tanggal tersebut, bukan gambaran kondisi waduk saat ini.

Dalam perkembangan kondisi cuaca, tinggi muka air dapat berubah sehingga masyarakat perlu merujuk pada pembaruan resmi dari BBWS Pompengan Jeneberang dan instansi kebencanaan.

Data yang penting untuk diperhatikan antara lain elevasi muka air, tren kenaikan atau penurunan, debit air, status kondisi waduk, serta pengumuman pembukaan pintu pelimpah apabila diperlukan.

Pemantauan yang dilakukan secara berkala membantu pengelola menentukan langkah operasional dan mendukung penyampaian peringatan dini kepada masyarakat.

7. Tidak Semua Banjir di Makassar Berasal dari Bendungan Bili-Bili

Keterkaitan antara Bendungan Bili-Bili dan banjir di wilayah hilir perlu dipahami berdasarkan kondisi geografis serta sistem aliran sungai.

Dalam keterangan resmi yang dipublikasikan BBWS Pompengan Jeneberang pada 21 Februari 2025, pihak pengelola menjelaskan bahwa wilayah terdampak aliran Sungai Jeneberang mencakup kawasan di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar yang berada di sekitar DAS Jeneberang.

BBWS juga menegaskan bahwa anggapan seluruh banjir di Kota Makassar disebabkan oleh luapan Bendungan Bili-Bili tidak benar. Banjir dapat terjadi akibat berbagai faktor, termasuk hujan lokal, luapan sungai lain, dan persoalan drainase.

Karena itu, penentuan penyebab banjir harus didasarkan pada informasi teknis dan hasil pemantauan lapangan, bukan hanya berdasarkan kedekatan waktu antara hujan, pengoperasian bendungan, dan terjadinya genangan.

Pemahaman ini penting agar masyarakat menerima informasi kebencanaan secara akurat serta dapat mengambil langkah antisipasi sesuai kondisi di wilayah masing-masing.

8. Pentingnya Transparansi Informasi Bendungan

Besarnya peran Bendungan Bili-Bili membuat keterbukaan informasi mengenai kondisi waduk menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.

Informasi mengenai tinggi muka air, debit aliran, dan rencana pengoperasian pintu pelimpah perlu disampaikan secara jelas agar masyarakat di wilayah hilir dapat meningkatkan kewaspadaan ketika diperlukan.

BBWS Pompengan Jeneberang memiliki tugas dalam pengelolaan sumber daya air, termasuk pemantauan hidrologi, operasi dan pemeliharaan infrastruktur, serta pengendalian daya rusak air.

Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan instansi terkait apabila terdapat pengumuman peringatan banjir.

Dengan koordinasi yang baik antara pengelola bendungan, pemerintah, dan masyarakat, manfaat Bendungan Bili-Bili dapat terus dioptimalkan sekaligus mendukung upaya mengurangi risiko bencana.