Ikan Indonesia Rp200 Triliun Lebih Dicuri Nelayan Negara Lain

Ilustrasi ikan.

JAKARTA โ€” Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti persoalan daya saing nelayan Indonesia yang dinilai masih lemah. Menurutnya, keterbatasan armada membuat potensi perikanan nasional belum dapat dimanfaatkan secara optimal dan rentan dicuri oleh nelayan dari negara lain.

Zulkifli Hasan atau Zulhas bahkan menyebut nilai ikan dari perairan Indonesia yang dicuri setiap tahunnya diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan Zulhas saat menghadiri peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).

Ia mengungkapkan informasi mengenai pencurian ikan tersebut sebelumnya disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono. Sejumlah negara yang disebut mengambil ikan dari perairan Indonesia antara lain Vietnam, Thailand, India, dan Jepang.

“Kalau nelayan kita lemah, kata Pak Trenggono, Menteri KKP, ikan kita dicuri per tahun kira-kira Rp200 triliun lebih oleh Vietnam, Thailand, India, Jepang,” kata Zulhas dalam acara launching buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).

Armada Nelayan Jadi Persoalan

Menurut Zulhas, salah satu faktor yang membuat nelayan Indonesia sulit bersaing adalah kapasitas armada. Nelayan dari sejumlah negara disebut mampu menggunakan kapal berukuran besar karena didukung kondisi ekonomi yang lebih kuat.

Sebaliknya, banyak nelayan Indonesia masih menggunakan kapal berukuran kecil. Kondisi itu membuat jangkauan mereka dalam mencari ikan menjadi lebih terbatas.

“Karena mereka nelayannya tangguh, karena makmur, punya kapal-kapal besar. Kita tidak punya, kita hanya dekat karena kapal-kapal kecil,” ujarnya.

Zulhas menilai persoalan tersebut tidak berhenti pada kemampuan nelayan menjangkau wilayah penangkapan. Setelah memperoleh hasil laut, nelayan juga masih menghadapi persoalan daya tawar ketika menjual ikan.

Keterbatasan posisi tawar membuat nelayan berpotensi menerima harga rendah, terlebih ikan merupakan komoditas yang mudah rusak apabila tidak segera terjual.

“Nelayan itu karena dia tidak punya daya tawar, tidak punya pendukung, dia serajin apapun kalau dapat ikan, dia tidak punya daya tawar, tetap ditawarnya rendah, harganya murah, kalau enggak ikannya busuk,” kata Zulhas.

Berkaitan dengan Kemiskinan

Ia menilai kondisi nelayan memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat pesisir. Ketika pendapatan nelayan rendah, dampaknya dapat merembet pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk pendidikan dan pangan.

“Jadi dampaknya luas sekali, itu baru kita ngomong nelayan. Belum terhadap pertumbuhan ekonomi, belum terhadap kemiskinan. Nelayan itu kalau tidak dibantu beras, tidak dibantu bantuan tunai, dia enggak bisa sekolah, enggak bisa makan,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah disebut akan mengembangkan sektor pangan secara bertahap. Zulhas mengatakan tidak semua komoditas akan menjadi prioritas dalam waktu bersamaan.

Saat ini, pemerintah masih berfokus pada sejumlah komoditas utama sebelum memperluas program ke sektor pangan lainnya.

“Oleh karena itu, tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap, sekarang beras, jagung, ya, kemudian ini kita akan berkembang ke gula, sama garam, terus ikan, daging belakangan, enggak mudah juga daging itu. Tapi kalau ikan kita bisa,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Zulhas juga menyinggung potensi pengembangan perikanan melalui budidaya ikan salin. Ia menyebut sejumlah negara, termasuk Vietnam dan China, telah mengembangkan sektor tersebut.

Menurutnya, pengembangan budidaya menjadi salah satu peluang yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan produksi perikanan sekaligus memperkuat daya saing sektor kelautan Indonesia.

Sponsored ยท Ar Media Kreatif

Mau Punya Media Online Sendiri?

Bangun brand medianya sekarang bersama Ar Media Kreatif. Profesional sejak 2018. Ratusan media online telah kami bantu wujudkan!

Konsultasi Gratis