JAKARTA โ September diprediksi menjadi bulan paling krusial dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah bersiap menghadapi periode tersebut dengan mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC), water bombing, hingga penambahan pasukan darat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut September berpotensi menjadi puncak karhutla. Kondisi itu membuat satu bulan ke depan menjadi periode yang harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menekan penyebaran kebakaran.
“Karena September ini kita di puncak ya, di puncak. Mudah-mudahan betul nanti kalau misalkan September sudah ada hujan, tapi kalau tadi kita dengarkan dari BMKG lagi saya dengar baru awal Oktober nanti ada potensi hujan. Jadi sebulan ini adalah battleground kita,” kata Raja Juli dalam keterangannya, Senin (31/8).
Menurut dia, OMC menjadi salah satu strategi yang perlu dimaksimalkan selama kondisi cuaca masih memungkinkan. Upaya tersebut dinilai penting untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah yang membutuhkan penanganan karhutla.
“Karena bagaimanapun yang paling efektif ini memang OMC. Operasi Modifikasi Cuaca. Dan mumpung kita masih punya window untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca ini kita minta saran dari OMC,” ujarnya.
Namun penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan hujan buatan. Pemerintah juga menyiapkan water bombing dan memperkuat pasukan darat di wilayah yang memiliki banyak titik panas.
Raja Juli meminta penempatan pasukan disesuaikan dengan sebaran hotspot. Pergantian personel juga harus diatur agar petugas yang bekerja di lapangan tidak mengalami kelelahan.
“Yang ketiga tentu saja pasukan darat, satgas darat. Saya berharap sekali nanti deployment-nya bisa diatur sedemikian mungkin Pak. Di tempat masing-masing yang banyak hotspot-nya, berapa kali sehari mereka harus bergantian,” katanya.
Kementerian Kehutanan juga berupaya menambah kekuatan personel melalui mekanisme bantuan kendali operasi atau BKO. Jumlah personel tambahan yang disiapkan disebut mencapai lebih dari 1.000 orang.
“Termasuk kami juga di Kementerian Kehutanan berusaha untuk melakukan BKO sekitar 1.000 orang lebih, bertambah,” ujar Raja Juli.
Menurut dia, tambahan personel diperlukan untuk membantu pasukan utama sekaligus mengantisipasi kelelahan petugas. Bahkan personel yang tidak memiliki keahlian khusus dalam pemadaman api tetap dapat dilibatkan untuk pekerjaan pendukung di lapangan.
Kesiapan tersebut dilakukan ketika sejumlah wilayah masih menghadapi tingginya aktivitas titik panas.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mencatat hotspot di Kalimantan Barat masih meningkat. Jumlahnya bertambah 3.553 titik menjadi 7.377 titik, sementara fire spot naik 16 titik menjadi 72 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut juga dilaporkan kurang dari 1 kilometer.
Di Kalimantan Tengah, hotspot turun 147 titik menjadi 5.244 titik. Namun fire spot meningkat 16 titik menjadi 72 titik dengan jarak pandang kurang dari 1 kilometer.
Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Selatan. Hotspot turun 405 titik menjadi 504 titik, sedangkan fire spot bertambah tiga titik menjadi 55 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut kurang dari 2 kilometer.
Sementara di Sumatera, aktivitas kebakaran relatif menurun di Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi. Meski demikian, Sumatera Selatan masih mencatat peningkatan hotspot.
Di Riau, hotspot turun 202 titik menjadi 62 titik dan fire spot turun dua titik menjadi 12 titik. Jarak pandang berada pada kisaran 4-5 kilometer.
Sumatera Selatan justru mencatat kenaikan hotspot sebanyak 209 titik menjadi 1.013 titik. Namun fire spot turun tujuh titik menjadi 11 titik dengan jarak pandang kurang dari 5 kilometer.
Adapun di Jambi, hotspot turun 86 titik menjadi 49 titik, sementara fire spot tercatat empat titik. Jarak pandang di wilayah tersebut berada pada kisaran 6-7 kilometer.
Dengan potensi September menjadi puncak karhutla, pemerintah kini menempatkan satu bulan tersebut sebagai masa penting untuk mengendalikan api sebelum peluang hujan yang lebih besar diperkirakan muncul pada awal Oktober. (*)






