NEWS  

Prabowo Targetkan Eksplorasi LTJ Mamuju Dimulai 2027, DEN Percaya Tak Bahayakan Masyarakat

Journalist Independent
Simposium Nasional ICM Unhas bahas peran dan optimalisasi, di Kampus Unhas. (dok. iz/JI)

Journalist Indepedent, MAKASSAR — Presiden Prabowo Subianto menargetkan eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) yang ada di Mamuju Sulawesi Barat (Sulbar) bisa mulai eksplorasi pada 2027 mendatang yang normalnya enam tahun.

Percepatan itu akan dilakukan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) bersama Institute for Critical Mineral (ICM) Universitas Hasanuddin (Unhas).

“Pak Presiden sendiri memberikan target Perminas kan tahun depan, itu sudah mulai eksplorasi. Jadi yang tadinya 6 tahun kalau normal, itu di-cut sampai 1 tahun,” ujar Ketua ICM Unhas, Prof Adi Maulana usai Simposium Nasional ICM Unhas, di Kampus Unhas, Senin (12/10/2026).

ICM Unhas akan menggandeng kampus-kampus yang paten di bidangnya, salah satunya adalah University of Queensland yang punya pengalaman di bidang LTJ.

“Jadi mereka sudah punya puluhan tahun pengalaman bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan, konsultan, maupun negara-negara lain untuk pengembangan logam tanah jarang,” kata Prof Adi.

Direktur Eksekutif Global Research Institute (GRI) Unhas ini juga menyampaikan, rintangan tentu saja akan terjadi, termasuk geopolitik. Semua kendala akan dibicarakan dengan Kementerian ESDM sebagai leading sektor, termasuk juga Badan Industri Meneral (BIM) dan juga Mind.ID.

“Semua nanti kita akan bicarakan sehingga kita bisa dudukkan permasalahannya sesuai dengan porsinya masing-masing gitu,” tukasnya.

DEN Yakin Tak Bahayakan Masyarakat

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Surono, belum bisa memastikan radiasi yang dihasilkan dari Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) ini membayakan manusia atau tidak. Namun, ia menegaskan sebelum memulai penambangan diawali oleh kajian lingkungan selama beberapa kali.

“Setiap penambangan itu diawali itu dengan kajian lingkungan. Kajian lingkungan itu diuji bertubi-tubi di Kementerian Lingkungan itu dan dokumen lingkungan itu harus dijalankan dari proses penambangan sampai reklamasi agar tidak mengganggu lingkungan,” tegas Surono.

“Tidak ada keraguan, apakah ini nanti membahayakan masyarakat atau tidak. Masyarakat harus mengetahui dan diedukasi apa sebenarnya.

Itu saja. Ilmu pengetahuan kan hanya boleh salah, tidak boleh bohong.

Dan inilah tempatnya Unhas yang bisa mengedukasi masyarakat, bisa membantu industri dan sebagainya,” tambah Surono.

Ia berharap, ketika LTJ di Mamuju ini mulai dieksploitasi masyarakat lokal harus diikutsertakan.

“Masyarakat di sekitarnya jangan ditinggalkan, kalau LTJ ini membuat kaya negara, masyarakat di sekitarnya harus sejahtera dong,” ungkap Surono.

Surono juga bilang, Presiden juga menaruh harapan besar agar LTJ ini segera berjalan.

“Iyalah, karena boleh dikatakan LTJ adalah saya melihat, jangan Prabowonya, LTJ itu kunci negara maju. Sebagai contoh, gudangnya LTJ, penghasil LTJ,” tukasnya.

ESDM Akan Terlibat

Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Prof Tirta Nugraha Mursitama, menyampaikan ICM Unhas ini sudah mempunyai regulasi dengan ESDM, Badan Industri Mineral (BIM) dan instasi terkait dengan mensukseskan program Presiden Prabowo Asta Cita.

“Kami dari Kementerian ESDM sangat mendukung inisiatif ini. Artinya Pak Menteri Bahlil Lahadalia langsung bicara dengan Pak Rektor prof JJ ya, kebetulan kami juga ada di situ, senang Pak Adi juga semuanya. Makanya beliau mengirim kami ke sini dan menjadikan ICM ini, Unhas sebagai hub,” kata Prof Tirta di lokasi.

Dia bilang, bukan hanya Unhas yang akan terlibat, semua kampus akan dirangkul untuk mensukseskan ICM.

“Pesan dari Pak Menteri, jadikan ini tempat untuk bisa transfer teknologi, pengembangan SDM ya, ada nanti didukung oleh apa namanya LPDP, didukung oleh Kementerian Perindustrian, didukung oleh industri-industri di mineral juga, sehingga ke depan SDM-nya itu juga bisa terbangun dengan baik gitu,” ucap Tirta.

“Jadi ini adalah satu strategi jangka panjang dalam rangka hilirisasi yang nanti memberikan manfaat kepada masyarakat. Poin utamanya ya, tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan pajak dan nonpajak, tetapi adalah masyarakat lebih sejahtera, khususnya di sektor yang ada pertambangan dari,” lanjutnya.

LTJ Akan Digunakan Industri Kendaraan Listrik

Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (SDK), mengungkapkan hasil pertemuannya dengan Badan Industri Mineral (BIM), PT Perminas, dan Danantara terkait pengembangan potensi rare earth element (REE) atau logam tanah jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju.

Pertemuan yang berlangsung di Jakarta itu membahas langkah awal pengembangan mineral strategis nasional yang saat ini menjadi perhatian dunia karena digunakan dalam berbagai industri modern. “Saya dipanggil ke Jakarta untuk rapat bersama Badan Industri Mineral, PT Perminas, dan Danantara terkait tanah jarang. Dalam rapat tanggal 13 Mei lalu, saya mendengarkan paparan mengenai potensi LTJ di Mamuju,” kata SDK, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki cadangan mineral tanah jarang yang cukup besar dan berpotensi menjadi aset strategis nasional di masa depan. “Mineral tanah jarang sangat dibutuhkan dunia saat ini dan menjadi komponen penting dalam berbagai industri modern,” ujarnya.

SDK menjelaskan, LTJ digunakan dalam industri kendaraan listrik, teknologi pertahanan, pesawat tempur, hingga sistem peluru kendali. Karena itu, keberadaan mineral tersebut dinilai memiliki nilai strategis dalam geopolitik global. “Mineral tanah jarang menjadi bagian dari kekuatan geopolitik suatu negara apabila memiliki cadangan seperti itu,” lanjutnya.

Ia menambahkan, Presiden Republik Indonesia menargetkan Indonesia menjadi salah satu negara penghasil produk hilirisasi LTJ di masa depan. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menunjuk Danantara dan membentuk PT Perminas sebagai bagian dari pengelolaan industri strategis nasional.

Meski memiliki potensi besar, SDK menegaskan pengembangan LTJ di Mamuju masih berada pada tahap penelitian dan belum memasuki fase produksi industri. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan teknologi pengolahan LTJ yang saat ini masih dikuasai sejumlah negara tertentu.

“Teknologi pengolahan LTJ masih banyak dikuasai Cina. Indonesia belum memiliki teknologi itu, sementara negara lain seperti Amerika Serikat juga masih bergantung pada Cina,” katanya.

Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, seperti Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia, masih melakukan riset terkait teknologi pengolahan logam tanah jarang dalam skala laboratorium. “Jadi LTJ di Mamuju ini masih dalam tahap penelitian. Teknologi yang ada sekarang masih skala laboratorium dan masih akan diuji untuk pengembangan lebih lanjut,” ujarnya.

SDK meminta masyarakat tidak beranggapan bahwa eksploitasi dan hilirisasi LTJ di Mamuju akan berlangsung dalam waktu dekat. Menurutnya, proses pengembangan masih membutuhkan waktu panjang.

“Pengembangan LTJ di Mamuju kemungkinan masih membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun ke depan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penelitian saat ini baru dilakukan di area sekitar 10 hektare, meski terdapat delapan blok kawasan potensial LTJ di Mamuju.

“Yang berjalan sekarang baru penelitian sekitar 10 hektare. Jadi nuansanya masih penelitian dan eksplorasi awal,” katanya.

Selain itu, SDK menegaskan tata kelola LTJ ke depan harus mengedepankan aspek lingkungan, kepentingan masyarakat, serta kesejahteraan warga di sekitar wilayah pengelolaan.

Menurutnya, pengembangan industri LTJ wajib memperhatikan keselamatan lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh. Ia berharap hilirisasi logam tanah jarang nantinya mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerah, mulai dari penurunan angka kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal. (iz)