NEWS  

Peneliti Unhas Ciptakan Padi Tahan Kekeringan-Hadapi Kemarau

Journalist Independent
Padi kering yang disiram air. (dok. istimewa)

Journalist Independent, MAKASSAR – Peneliti dari Universitas Hasanuddin (Unhas) menciptakan padi yang tahan dengan kekeringan dan tetap bisa mempertahankan produktivitas di tengah kondisi kemarau panjang.

Seyogyanya padi membutuhkan perairan yang cukup baik, tanpa air padi tak bisa hidup dengan sempurna. Namun, terobosan padi bisa bertahan di tengah kekeringan menjadi hal yang penting.

Pemulia padi Unhas, Dr Muhammad Fuad Anshori, SP, MSi mengatakan perbaikan genetik adalah salah satu pendekatan penting untuk menghasilkan tanaman yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Pemuliaan padi dilakukan dengan proses seleksi dan pengembangan galur yang mempunyai karakter sesuai kondisi target

Galur padi ini diperoleh dari metode penggaluran double haploid atau teknik yang digunakan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat genetik murni hanya dalam satu generasi. Metode ini membantu peneliti dalam hal mempersingkat waktu penelitian.

Peneliti juga mengandalkan teknik mutasi. Kombinasi ini memperluas keragaman galur yang juga digunakan dalam proses seleksi terhadap tekanan kadar garam dan kekeringan.

“Pengembangan yang telah dilaksanakan sudah mencapai tahapan evaluasi dan diakhiri dengan penggaluran. Hasilnya, diperoleh produksi sekitar 6 ton per hektar pada kondisi salinitas dan kekeringan tinggi,” kata Fuad dikutip dari Unhas.

Pada pengujian tersebut, ia menggunakan metode PM AAS, Pertanian Modern – Advanced Agricultural System, salah satu galur padi menunjukkan hasil uji ubinan sekitar 12 ton per hektare. Namun, hasil uji ubinan ini hanya analisis kasar sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut.

“Kalau galur ini dicobakan dengan metode PM AAS, hasil uji ubinan sekitar 12 ton. Itu standar ubinan, jadi penilaiannya masih kasar. Pemupukan juga dilakukan sesuai dengan kebiasaan petani,” jelas Fuad.

Pengembangan galur padi ini selaras dengan SDGs 9 (Sustainable Development Goals) tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Tepatnya, pada bagian inovasi melalui riset ilmiah dan pengembangan teknologi untuk menjawab tantangan pertanian.

Apa Itu PM ASS?

PM-AAS adalah singkatan dari Pertanian Modern – Advanced Agriculture System, yaitu sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian Indonesia.

Sistem ini mengadaptasi pola pertanian presisi dari Arkansas, Amerika Serikat, yang dipadukan dengan kearifan lokal seperti sistem jajar legowo.

Panduan Lengkap Budi Daya PM AAS

Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM AAS) merupakan modernisasi sistem budi daya padi terstruktur yang mengintegrasikan mekanisasi canggih, pola tanam rapat, serta pengelolaan berbasis teknologi digital. Pendekatan intensif ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak efisiensi penggunaan input serta memaksimalkan produktivitas padi sejak awal musim tanam. Berikut tahapan teknis pelaksanaan PM AAS dari fase persiapan lahan hingga penanganan pascapanen.

1. Persiapan Lahan

Fase awal ini berfokus pada perbaikan kondisi fisik dan kimia tanah untuk menciptakan media tumbuh yang optimal.

  • Pengolahan Tanah I: Lahan digenangi air setinggi 2–5 cm selama 2–3 hari sebelum dibajak. Lakukan olah tanah pertama menggunakan traktor roda 2/roda 4/rotavator disertai perbaikan pematang sawah secara merata.
    Aplikasi Bahan Organik dan Kapur: Aplikasikan pupuk organik minimal sebanyak ± 3 ton/ha. Tambahkan dolomit sebanyak ± 1 ton/ha untuk mengejar target pH tanah di kisaran 6–7.
  • Pengolahan Tanah II: Lahan kembali digenangi setinggi 2–3 cm selama 2–3 hari. Lakukan pengolahan tanah kedua menggunakan rotary sekitar 1 minggu setelah olah tanah pertama.
    Fase Menjelang Tanam: Aplikasikan herbisida pratumbuh setidaknya 5 hari sebelum tanam (H-5). Kondisikan lahan agar tetap lembap (macak-macak), bersih dari gulma, dan pastikan tidak tergenang air selama 1–2 hari sebelum proses penanaman.

2. Pemilihan Varietas Unggul dan Model Tanam Rapat

PM-AAS mengandalkan populasi tanaman yang tinggi dikombinasikan dengan benih bermutu tinggi.

  • Kriteria Benih: Gunakan Varietas Unggul Baru (VUB) yang memiliki daya kecambah >80%, berkarakteristik malai lebat, batang kokoh, perakaran kuat, tahan terhadap penyakit blas dan kresek (Hawar Daun Bakteri), serta memiliki sifat anaerobic germination (mampu berkecambah dengan baik meskipun dalam kondisi tergenang). Contoh varietas yang direkomendasikan antara lain Inpari 42 GSR, Inpari 47, Cakrabuana, dan IR Nutri Zinc.
  • Persiapan Benih: Kebutuhan benih berkisar antara 80–100 kg/ha. Benih wajib direndam selama 12 jam dan diperam selama 12 jam hingga mencapai fase melentis. Pada daerah dengan gangguan burung yang tinggi, lakukan seed treatment menggunakan insektisida atau fungisida yang sesuai.
  • Sistem Tanam Rapat (Tabela): Penanaman dilakukan dengan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) menggunakan alat drum seeder atau direct seeder (TR4) pada kondisi lahan macak-macak bebas genangan. Jarak tanam diatur rapat tanpa jarak dalam baris, dengan pola Legowo 4:1 atau 6:1 (lorong kosong ± 50 cm). Jarak antar titik ditentukan ± 3 cm dengan kepadatan maksimal 3 benih per titik.
  • Catatan Cuaca: Sebelum menentukan tanggal sebar benih, lakukan pengecekan prakiraan cuaca guna memastikan kondisi lahan aman dari hujan lebat selama 5 hari berturut-turut setelah tanam.

3. Manajemen Pemeliharaan Tanaman

A. Pemupukan Presisi

Dosis dan jadwal aplikasi pupuk makro serta mikro diatur secara ketat berdasarkan fase tumbuh.

  • NPK: Berikan 300 kg/ha pada umur 20–25 Hari Setelah Tanam (HST), disusul 100 kg/ha pada 40–45 HST.
  • Urea: Berikan 175 kg/ha pada umur 40–45 HST, dilanjutkan dengan 175 kg/ha saat tanaman memasuki fase primordia.
  • Pupuk Organik dan Silika: Tambahkan pupuk organik cair sesuai kebutuhan. Untuk memperkuat batang tanaman dan mencegah kerebahan, aplikasikan silika padat ± 400 kg/ha sebelum atau saat tanam, serta silika cair pada umur 25, 35, 45, dan 55 HST.
  • ZPT: Berikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang disesuaikan dengan fase vegetatif dan generatif tanaman.

B. Pengelolaan Air Metode AWD (Alternate Wetting and Drying)

Pengaturan air menggunakan pipa pemantau AWD (bahan PVC diameter 4–5 inci, panjang ± 30 cm, dilubangi setiap 15–20 cm) yang ditanam sedalam 20 cm di area sawah yang representatif. Jadwal pengairan diatur sebagai berikut.

  • 0–21 HST: Kondisi lahan dijaga macak-macak.
  • 21–45 HST: Fase wetting (lahan digenangi +5 cm; irigasi ulang dialirkan kembali jika air di dalam pipa pantau AWD turun menyentuh kedalaman -15 cm).
  • 45–55 HST: Fase drying (lahan dibiarkan mengering secara alami).
  • 55–85 HST: Fase wetting (penggenangan kembali untuk mendukung pembungaan dan pengisian gabah).
  • 85–100 HST: Fase drying akhir menjelang panen.

C. Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma harus dituntaskan secara mekanis atau kimiawi sebelum pemupukan dilakukan.

  • Herbisida Pratumbuh: Diaplikasikan 5 hari sebelum tanam atau selambat-lambatnya 3 hari sebelum tanam.
  • Herbisida Purnatumbuh: Diaplikasikan pada 2 dan 4 Minggu Setelah Tanam (MST) menggunakan herbisida selektif sistemik daun lebar dan sempit. Rekomendasi bahan aktif meliputi Fenoksaprop-p-etil 69 g/l dan Etoksisulfuron 20 g/l.
  • Pengendalian Manual: Penyiangan manual hanya efektif dilakukan pada umur 2–3 MST. Gulma yang telah melewati umur 4 MST akan sangat sulit dikendalikan secara manual. Jika diperlukan, netralisasi lahan menggunakan biochar atau pupuk organik.

4. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Perlindungan tanaman dilakukan secara terpadu mengacu pada jenis hama dan penyakit endemik.

  • Tikus Sawah: Pasang sistem Trap Barrier System (TBS) dengan ukuran 25 × 25 m yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap yang ditanam 3 minggu lebih awal. Sistem TBS ini efektif melindungi area di sekitarnya dengan cakupan hingga 8–10 ha. Lakukan juga sanitasi habitat, gropyok massal, fumigasi, atau aplikasi rodentisida sesuai dengan stadia tanaman padi.
  • Keong Mas: Pada fase pratanam, kumpulkan dan musnahkan keong secara manual. Pada fase vegetatif, keringkan lahan dan aplikasikan pestisida nabati (20–50 kg/ha) atau kimia. Pascapanen, gembalakan itik di sawah untuk memakan sisa-sisa keong.
  • Wereng Batang Cokelat (WBC): Lakukan gerakan tanam serempak dan pantau populasi menggunakan light trap. Ambang kendali kimiawi adalah jika ditemukan 3–5 ekor/rumpun pada fase vegetatif atau 5–7 ekor/rumpun pada fase generatif. Gunakan insektisida berbahan aktif Triflumezopyrim, Pymetrozine, atau Dinotefuran, serta aplikasikan secara sistemik melalui akar jika diperlukan.
    Penggerek Batang Padi: Kendalikan secara mekanis dengan memusnahkan kelompok telur di lapangan. Secara hayati, lepaskan parasitoid Trichogramma japonicum sebanyak 20 pias/ha (1 pias = 2000–2500 telur). Pengendalian kimiawi dilakukan 4 hari setelah ditemukan 1 ngengat menggunakan Karbofuran 20 kg/ha (vegetatif) atau Spinetoram, Klorantraniliprol, dan Dimehipo (generatif) pada sore/malam hari.
  • Tungro: Kendalikan vektor penginfeksi dengan menjaga sanitasi lahan (bersihkan singgang, gulma, eceng). Lakukan eliminasi tanaman bergejala dengan cara dicabut dan dibenamkan. Ambang kendali kimiawi berada pada 2 rumpun terinfeksi per 100 m² menggunakan insektisida khusus wereng.
  • Penyakit Blas dan Hawar Daun Bakteri (HDB): Lakukan tindakan preventif melalui seed treatment (untuk HDB rendam benih di air suhu 50°C selama 30 menit; untuk Blas rendam dengan fungisida selama 24 jam dengan rasio benih dan air 1:2). Pastikan pemupukan unsur Nitrogen (N) dan Kalium (K) berimbang. Lakukan penyemprotan fungisida sistemik secara presisi pada fase anakan maksimum dan awal berbunga, disarankan memanfaatkan teknologi drone spraying (misalnya DJI Agras T20P).

5. Pengelolaan Panen dan Pascapapanen

Penanganan akhir dilakukan secara mekanisasi penuh untuk menekan kehilangan hasil dan menjaga kualitas gabah.

  • Pencegahan Rebah: Keringkan lahan secara total 10 hari sebelum estimasi tanggal panen untuk mengeraskan struktur tanah.
  • Waktu Panen Ideal: Lakukan pemanenan pada fase masak fisiologis, yaitu saat 85–90% bulir padi pada malai telah menguning dengan kadar air gabah berkisar antara 18–22%. Lahan sebaiknya dikeringkan minimal 5 hari sebelum panen agar mempermudah mobilitas alat.
  • Pemanenan Mekanis: Proses panen wajib menggunakan mesin combine harvester. Atur kecepatan operasional mesin secara stabil pada kisaran 2,5–4,5 mph dengan ketinggian pemotongan batang diatur antara 10–15 cm dari permukaan tanah. (iz)