IHSG Anjlok 1,99% ke 5.266, Rupiah Rp18.156 dan Saham TLKM-AMMN Tertekan

Journalist Independent
IHSG Melemah 0,55 Persen, Pasar Menanti Keputusan BI Pekan Ini.
Ilustrasi aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 22 September 2026.

Journalist Independent, JAKARTA – Tekanan jual kembali mengguncang pasar saham Indonesia pada Selasa, 27 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 106,96 poin atau 1,99% dan menutup perdagangan di level 5.266,13.

Pelemahan ini memperpanjang koreksi IHSG sejak awal pekan menjadi 2,43%, di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan indeks global, pelemahan rupiah, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Penurunan saham berkapitalisasi besar ikut menyeret indeks ke zona merah. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) merosot 4,89%, sedangkan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 5,05%.

Kedua saham tersebut memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan IHSG, dengan TLKM memangkas 10,13 poin indeks dan AMMN menyumbang penurunan sebesar 7,61 poin.

Aktivitas perdagangan berlangsung ramai ketika investor merespons berbagai sentimen negatif. Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp16,35 triliun dengan volume perdagangan sekitar 33,94 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,91 juta kali.

Data perdagangan lainnya mencatat nilai transaksi sekitar Rp16,23 triliun dengan volume 337,63 juta lot. Perbedaan angka tersebut dapat muncul karena perbedaan cakupan atau sumber pencatatan data perdagangan.

IHSG Sempat Menguat Sebelum Tertekan Aksi Jual

Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan memperlihatkan perubahan sentimen yang cukup tajam. Indeks membuka sesi pada level 5.357,97, kemudian sempat menguat hingga menyentuh posisi tertinggi harian di 5.418,14.

Namun, optimisme pada awal perdagangan tidak bertahan lama. Memasuki sesi siang, IHSG mulai bergerak turun secara bertahap. Tekanan jual semakin kuat setelah pukul 14.00 WIB dan membawa indeks menuju titik terendah harian di 5.182,37 sekitar pukul 15.30 WIB.

Dari posisi tertinggi ke titik terendah, IHSG sempat kehilangan sekitar 235,77 poin. Menjelang penutupan, indeks memantul sekitar 83,76 poin dari level terendah, tetapi penguatan tersebut belum cukup untuk membawanya kembali ke zona positif.

Baca Juga  Asuransi Bintang Rombak Direksi, Zafar Dinesh Idham Jadi Presiden Direktur Baru

Luasnya tekanan terlihat dari jumlah saham yang melemah. Sebanyak 657 saham berakhir di zona merah, sedangkan hanya 101 saham menguat dan 215 saham bergerak stagnan. Dominasi saham yang turun menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terpusat pada beberapa emiten besar.

Sektor Energi dan Material Dasar Tertekan

Pelemahan IHSG juga terlihat dari kinerja sektoral. Hampir seluruh sektor mengalami koreksi, sementara sektor industri menjadi pengecualian dengan kenaikan 1,43%.

Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,33%, disusul sektor material dasar yang melemah 3,32%. Data sektoral lainnya menunjukkan tekanan besar pada infrastruktur, yang dilaporkan anjlok 6,1%, material dasar sebesar 3,7%, serta teknologi sebesar 2,9%.

Perbedaan angka tersebut mencerminkan kemungkinan perbedaan klasifikasi atau sumber data yang digunakan. Meski demikian, keseluruhan gambaran perdagangan memperlihatkan tekanan kuat pada sejumlah sektor utama.

Selain TLKM dan AMMN, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turut masuk dalam daftar saham pemberat indeks.

Sebaliknya, sejumlah saham yang masuk dalam kelompok penopang pergerakan indeks antara lain PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra International Tbk (ASII), PT Apollo Global Interactive Tbk (APLI), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Pergerakan saham-saham tersebut menjadi bagian dari dinamika perdagangan yang menentukan posisi akhir IHSG.

Usulan MSCI Menambah Kekhawatiran Investor

Analis Phintraco Sekuritas menilai ketidakpastian terkait usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI menjadi salah satu faktor yang membebani IHSG sejak awal pekan.

Usulan untuk memindahkan Indonesia dari kategori Emerging Market ke Standalone Market memunculkan kekhawatiran mengenai potensi arus keluar modal asing. Risiko tersebut dapat meningkat apabila pasar saham Indonesia tidak menunjukkan perbaikan berarti, khususnya dalam aspek transparansi dan struktur perdagangan.

Baca Juga  Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Turun Rp5.000 per Gram

“Pasar saham diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan sideways seiring penantian keputusan The Fed, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, harga minyak yang masih tinggi, serta isu MSCI,” imbuh analis Phintraco dalam catatan kepada investor.

Selain persoalan MSCI, pelaku pasar juga menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, arus modal internasional, dan selera investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.

Rupiah Melemah Mendekati Rekor Terendah

Tekanan di pasar saham berjalan beriringan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,12% terhadap dolar AS hingga mencapai Rp18.156 per dolar AS.

Posisi tersebut mendekati level terendah dalam empat bulan terakhir dan tercatat sebagai rekor terendah rupiah sepanjang sejarah berdasarkan data yang dikutip dalam laporan perdagangan tersebut.

Pelemahan mata uang domestik dapat meningkatkan kekhawatiran investor karena berpotensi menambah biaya impor dan beban perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Kondisi ini juga dapat memengaruhi keputusan investor asing dalam mengelola portofolio mereka di Indonesia.

Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Dari luar negeri, perkembangan konflik Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu pejabat Iran di Teheran pada Senin untuk mendorong penyelesaian konflik melalui dialog.

Keempat negara sepakat melanjutkan pembicaraan guna memperkuat kerja sama perdamaian dan keamanan. Pakistan juga mengusulkan jaringan non-agresi regional serta penyelesaian konflik yang dapat diterima Washington dan Teheran.

Meski upaya diplomatik berlangsung, ketegangan belum mereda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan melancarkan serangan kembali terhadap Iran. Sementara itu, Teheran menuntut pencabutan blokade pelabuhan dan sanksi ekspor minyak sebelum membahas program nuklirnya.

Baca Juga  OJK Tetapkan Modal Minimal Rp1 Triliun untuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Harga minyak dunia terkoreksi pada Senin, 26 Oktober 2026, seiring harapan meredanya konflik. Minyak Brent turun 0,8% menjadi US$115,81 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,46% ke US$101,76 per barel.

Walaupun turun, harga kedua acuan minyak tersebut masih bertahan tinggi. Risiko gangguan pasokan dan pelayaran di kawasan Selat Hormuz membuat investor tetap berhati-hati.

BEI Siapkan Aturan Baru untuk Memperkuat Kepercayaan Pasar

Di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia menyiapkan sejumlah perubahan kebijakan untuk memperkuat pengawasan dan meningkatkan kepercayaan investor. Rencana tersebut mencakup pembekuan rekening efek yang terindikasi melanggar aturan, penguatan investigasi transaksi mencurigakan, serta pengurangan penggunaan pengumuman Unusual Market Activity sebagai langkah awal pengawasan.

BEI juga memperluas komite penilai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration menjadi sembilan anggota, termasuk lima pihak eksternal independen.

Mulai 2 November 2026, saham yang masuk kategori HSC direncanakan tidak lagi diperhitungkan dalam penghitungan IHSG. Perubahan jadwal evaluasi indeks juga menjadi bagian dari rangkaian kebijakan tersebut.

Langkah-langkah ini diarahkan untuk memperkuat transparansi, menjaga kualitas perdagangan, dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Namun, pelaku pasar masih perlu mencermati implementasi aturan tersebut serta perkembangan sentimen global untuk melihat apakah perubahan kebijakan mampu membantu meredakan tekanan terhadap IHSG. (*)