IHSG Ditutup Merah di Level 5.373, Investor Waspadai Keputusan The Fed dan Data Ekonomi Global

Journalist Independent
Ilustrasi Saham/IHSG
Ilustrasi Saham/IHSG

Journalist Independent, JAKARTA – Tekanan jual kembali membayangi Bursa Efek Indonesia (BEI) ketika pasar keuangan global memasuki pekan yang dipenuhi agenda ekonomi penting.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, di zona merah setelah sempat menguat pada awal sesi.

Investor kini menghadapi serangkaian pengumuman bank sentral, data inflasi Amerika Serikat, serta perkembangan ekonomi China dan Eropa yang berpotensi menentukan arah pasar berikutnya.

IHSG mengakhiri perdagangan dengan penurunan 66,16 poin atau 1,22 persen ke posisi 5.373,09. Pelemahan ini menunjukkan bahwa optimisme pada pembukaan pasar belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual sepanjang perdagangan.

Pada awal sesi, IHSG dibuka di level 5.442,30. Indeks bahkan sempat mencapai posisi tertinggi harian 5.453,65 sebelum berbalik arah dan melemah tajam menjelang pukul 10.00 WIB.

Tekanan tersebut membawa IHSG menyentuh titik terendah harian di level 5.349,75. Setelah itu, indeks sempat bangkit ke kisaran 5.400, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Memasuki sesi kedua, IHSG bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah di rentang 5.360 hingga 5.390 sampai penutupan perdagangan.

Aktivitas transaksi tetap berlangsung dengan volume mencapai 285,61 juta lot. Nilai perdagangan saham tercatat sebesar Rp12,61 triliun.

Pergerakan IHSG pada awal pekan ini terjadi ketika investor harus mempertimbangkan berbagai risiko global secara bersamaan. Keputusan suku bunga bank sentral, arah inflasi Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi negara maju, serta kebijakan industri China berpotensi memengaruhi pergerakan saham, nilai tukar, obligasi, dan komoditas.

Bagi investor di Indonesia, perkembangan tersebut penting karena dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, dan minat terhadap saham-saham di Bursa Efek Indonesia.

1. Sidang Partai Komunis China Jadi Perhatian Investor

Agenda penting pekan ini dimulai dari Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China yang dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan ekonomi, industri, teknologi, dan pembangunan China dalam beberapa tahun mendatang.

Investor akan mencermati kemungkinan perubahan prioritas pemerintah, penguatan kebijakan industri, serta langkah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi negara dengan pengaruh besar terhadap perdagangan dunia.

Baca Juga  IHSG Berpeluang Menguat ke 6.666, Risiko Koreksi Masih Membayangi

Perkembangan politik dan ekonomi China juga memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Permintaan dari China berpengaruh terhadap pasar sejumlah komoditas ekspor Indonesia, termasuk batu bara, nikel, dan produk berbasis sumber daya alam lainnya.

Apabila pemerintah China memberikan sinyal dukungan yang kuat terhadap aktivitas industri, prospek permintaan komoditas berpotensi membaik. Sebaliknya, kebijakan yang belum mampu mendorong pertumbuhan dapat membebani ekspektasi pasar.

2. Laba Industri China Menentukan Prospek Komoditas

Pada Selasa, 27 Oktober 2026, pasar akan mencermati data laba industri China untuk periode Januari-September yang dijadwalkan dirilis pukul 08.30 WIB.

Sebagai pembanding, laba industri China tumbuh 15,7 persen secara tahunan pada periode Januari-Agustus. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 17,6 persen pada periode Januari-Juli.

Data terbaru akan memberikan petunjuk mengenai kemampuan perusahaan industri mempertahankan profitabilitas di tengah perubahan permintaan dan kondisi ekonomi.

Jika pertumbuhan laba kembali melambat, investor berpotensi mempertanyakan kekuatan permintaan industri China. Kondisi tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap saham pertambangan dan perusahaan berbasis komoditas di Indonesia.

Sebaliknya, peningkatan laba yang lebih kuat dapat memberikan dukungan bagi ekspektasi pemulihan aktivitas industri dan investasi.

3. Keputusan The Fed Menjadi Penentu Arah Pasar

Perhatian investor global selanjutnya tertuju pada Federal Reserve atau The Fed yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu Amerika Serikat, atau Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB. Konferensi pers dijadwalkan berlangsung pukul 01.30 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75-4,00 persen, setelah kenaikan 25 basis poin pada September.

Namun, keputusan mempertahankan suku bunga belum tentu langsung menghilangkan ketidakpastian. Pelaku pasar akan menilai pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi, kondisi tenaga kerja, dan kemungkinan arah kebijakan berikutnya.

Sikap yang lebih ketat atau hawkish dapat memperkuat dolar AS karena investor memperkirakan suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Situasi tersebut berpotensi menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang.

Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memperbaiki sentimen pasar.

Baca Juga  Jadi Beban IHSG, Haji Isam Naikkan Target Akuisisi BYAN Jadi 30,25 Persen

Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan rupiah, arus modal asing, dan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN).

4. Pertumbuhan Ekonomi AS dan Inflasi PCE Diuji Bersamaan

Kamis, 29 Oktober 2026, menjadi salah satu hari terpenting dalam kalender ekonomi pekan ini. Amerika Serikat dijadwalkan merilis estimasi awal pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2026 dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada pukul 19.30 WIB.

Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2 persen secara kuartalan dalam hitungan tahunan atau annualized. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan yang kuat dapat menunjukkan ketahanan ekonomi AS. Namun, apabila ekspansi ekonomi berjalan bersamaan dengan inflasi yang tinggi, harapan penurunan suku bunga dapat tertunda.

Inflasi PCE menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu indikator utama yang digunakan The Fed untuk menilai tekanan harga.

Pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4 persen secara tahunan, sedangkan inflasi inti mencapai 3 persen.

Untuk September, inflasi PCE inti diperkirakan meningkat 0,3 persen secara bulanan, dibandingkan 0,2 persen pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan naik menjadi 3,1 persen.

Apabila realisasi inflasi melampaui perkiraan, tekanan terhadap pasar keuangan dapat meningkat. Investor berpotensi kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar, meskipun arah kebijakan The Fed tetap bergantung pada perkembangan data berikutnya.

5. ECB Menghadapi Dilema Inflasi dan Perlambatan Ekonomi

Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 20.15 WIB. Konferensi pers akan berlangsung pukul 20.45 WIB.

Pasar memperkirakan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di 2,65 persen dan suku bunga fasilitas simpanan bertahan pada 2,50 persen.

Investor akan memperhatikan penilaian ECB terhadap tekanan harga energi, ketidakpastian ekonomi, dan prospek pertumbuhan kawasan Eropa.

Kebijakan yang terlalu ketat dapat menambah tekanan terhadap aktivitas ekonomi, sedangkan pelonggaran yang terlalu cepat berisiko menyulitkan pengendalian inflasi.

Baca Juga  OJK Siapkan Jalur Pengadilan untuk Kasus Saham Tak Wajar, Pengawasan BEI Diperketat

6. Bank of Japan dan Ekonomi Eropa Menutup Pekan

Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat, 30 Oktober 2026. Konsensus memperkirakan bank sentral Jepang mempertahankan suku bunga di 1,25 persen setelah kenaikan dari 1 persen pada September.

Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk proyeksi inflasi, pertumbuhan, perkembangan upah, serta konsumsi rumah tangga.

Pada hari yang sama, pukul 17.00 WIB, zona euro dijadwalkan merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026.

Ekonomi kawasan tersebut diperkirakan tumbuh 0,2 persen secara kuartalan, melambat dari 0,6 persen pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1 persen, turun dari 1,2 persen.

Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Eropa dan memengaruhi pertimbangan kebijakan ECB berikutnya.

7. Tujuh Bank Sentral Mengumumkan Kebijakan Moneter

Selain The Fed, ECB, dan BOJ, sejumlah bank sentral lain juga dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pekan ini.

State Bank of Pakistan dijadwalkan pada 26 Oktober. Federal Reserve, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, dan Bank of Thailand menyusul pada 28 Oktober. ECB mengambil keputusan pada 29 Oktober, sedangkan BOJ dijadwalkan pada 30 Oktober.

Rangkaian keputusan tersebut membuat pasar menghadapi pekan yang padat dengan potensi perubahan ekspektasi suku bunga global.

Bagi investor saham Indonesia, pergerakan IHSG selanjutnya tidak hanya bergantung pada kondisi domestik, tetapi juga pada bagaimana pasar merespons seluruh perkembangan tersebut.

Setelah ditutup melemah ke level 5.373,09 pada Senin, arah IHSG akan diuji oleh kombinasi sentimen global dan respons investor terhadap data ekonomi terbaru.

Perhatian utama tertuju pada keputusan The Fed dan data inflasi PCE AS karena keduanya dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga, pergerakan dolar, serta aliran dana ke pasar negara berkembang.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor perlu mencermati perkembangan fundamental emiten dan kondisi pasar secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan pergerakan indeks dalam satu sesi perdagangan. (*)