Journalist Independent, MUNA – Seekor hiu paus tutul berukuran sekitar 3,5 meter mendadak muncul di lokasi yang tidak biasa, yakni sebuah tambak udang milik warga di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Warga Desa Langkoroni, Kecamatan Maligano, segera turun tangan mengarahkan ikan raksasa tersebut keluar dari tambak agar dapat kembali berenang menuju laut lepas.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu siang, 25 Oktober 2026, itu menarik perhatian warga sekitar. Rekaman video yang beredar memperlihatkan hiu paus tutul berenang di parit tambak udang.
Sejumlah warga berkumpul di lokasi, sementara beberapa pria turun ke air untuk membantu mengarahkan satwa laut tersebut menuju jalur keluar.
Kepala Seksi Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Sulawesi Tenggara, Jufri, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan warga langsung melakukan evakuasi tanpa menunggu penanganan lebih lanjut dari petugas.
“Iya benar (terdampar) dan langsung dievakuasi warga untuk kembali ke laut,” kata Jufri kepada wartawan, Selasa, 27 Oktober 2026.
Berdasarkan informasi yang diterima petugas, hanya satu ekor hiu paus tutul yang ditemukan terjebak di area tambak. Panjang tubuh satwa tersebut diperkirakan mencapai 3,5 meter. Warga kemudian berupaya mengarahkannya keluar dari saluran tambak hingga kembali menuju perairan terbuka.
“Kalau informasi yang kami dapat dari warga itu hanya satu ekor dan panjangnya sekitar 3,5 meter,” beber Jufri.
Diduga Masuk Tambak Saat Mencari Makanan
Hingga kini, penyebab pasti hiu paus tutul tersebut masuk ke tambak udang belum diketahui. Jufri menduga satwa itu bergerak mendekati kawasan tambak ketika mencari mangsa di perairan sekitar Desa Langkoroni.
Hiu paus dapat memakan organisme kecil, termasuk ikan-ikan berukuran kecil yang berada di perairan. Ketika mengikuti pergerakan mangsa, satwa laut berukuran besar tersebut berpotensi memasuki kawasan perairan dangkal atau saluran yang terhubung dengan tambak.
Meski demikian, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi mengenai penyebab kejadian di Muna. Petugas masih mengandalkan informasi warga yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
“Dugaannya bisa terkait mengejar ikan-ikan kecil untuk dimakan dan berakhir di tambak warga,” ujar Jufri.
Warga yang berada di lokasi memilih segera membantu satwa tersebut kembali ke laut. Langkah itu memungkinkan hiu paus tutul meninggalkan area tambak tanpa harus menunggu kedatangan petugas untuk melakukan evakuasi.
Namun, informasi mengenai kondisi fisik hiu paus setelah kembali ke laut belum diterima pihak BPSPL Sulawesi Tenggara. Petugas belum dapat memastikan apakah satwa tersebut mengalami luka selama berada di tambak atau ketika warga mengarahkannya keluar.
“Kami belum dapat informasi kalau pausnya mengalami luka, karena warga langsung arahkan ke laut,” tutup Jufri.
Karena belum ada laporan lanjutan mengenai kondisi satwa tersebut, keadaan hiu paus tutul setelah kembali ke laut masih belum diketahui secara pasti.
Video Evakuasi Hiu Paus Tutul Menarik Perhatian Warga
Rekaman kejadian memperlihatkan hiu paus tutul berenang di saluran air yang berada di kawasan tambak udang. Sejumlah warga tampak berkumpul di tepi saluran untuk melihat kondisi satwa tersebut.
Beberapa pria kemudian masuk ke air dan berusaha mengarahkan tubuh hiu paus menuju jalur yang memungkinkan satwa itu keluar dari tambak. Upaya warga berlanjut hingga hiu paus dapat kembali menuju laut lepas.
Kemunculan satwa laut berukuran besar di tambak tentu menjadi kejadian yang tidak biasa bagi masyarakat setempat. Area tambak memiliki kondisi berbeda dari habitat perairan terbuka, sehingga satwa yang masuk ke saluran sempit berpotensi mengalami kesulitan untuk menemukan jalan keluar.
Dalam situasi serupa, penanganan perlu mempertimbangkan keselamatan manusia sekaligus kondisi satwa. Warga sebaiknya tidak menarik bagian tubuh atau ekor satwa secara paksa, menghindari tindakan yang dapat melukai hewan, serta menghubungi petugas berwenang agar penanganan berlangsung sesuai prosedur.
Hiu paus juga berbeda dari paus dalam kelompok mamalia laut. Hiu paus merupakan ikan terbesar di dunia, bernapas menggunakan insang, dan memiliki pola totol khas pada tubuhnya. Meski ukurannya besar, satwa ini memakan organisme kecil dan bukan predator yang memburu manusia.
Bangkai Hiu Raksasa Juga Ditemukan di Wakatobi
Selain kejadian di Muna, wilayah Sulawesi Tenggara sebelumnya juga mencatat penemuan bangkai hiu berukuran jauh lebih besar di pesisir Kabupaten Wakatobi.
Warga menemukan bangkai sepanjang 9,17 meter di Dusun Melaione, Desa Matahora, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, pada Sabtu pagi, 19 September 2026.
Bangkai tersebut memiliki lebar sekitar 2,9 meter dengan perkiraan bobot mencapai 4 hingga 5 ton. Saat pertama kali melihatnya, warga setempat bahkan mengira benda yang tergeletak di pesisir itu merupakan batang pohon.
“Masyarakat setempat menemukan dan awalnya dikira batang pohon,” kata Kasat Polairud Polres Wakatobi Iptu Jufri pada Senin, 21 September 2026.
Petugas kemudian mendatangi lokasi untuk memeriksa temuan tersebut. Namun, proses evakuasi menghadapi kendala karena air laut sedang surut. Kondisi air yang hanya berkisar 50 hingga 60 sentimeter menyulitkan petugas menarik bangkai berukuran besar itu.
“Ukurannya panjang 9,17 meter, lebar 2,9 meter dan bobot kurang lebih 4-5 ton,” ujarnya.
Petugas meninggalkan lokasi sekitar pukul 12.30 Wita setelah memastikan hiu tersebut sudah mati. Mereka merencanakan evakuasi ketika air laut kembali pasang agar bangkai lebih mudah ditarik ke daratan.
“Kami tinggalkan lokasi pada pukul 12.30 Wita, kondisi sudah mati. Proses evakuasi terhambat karena air laut surut sekitar 50-60 sentimeter,” jelasnya.
Petugas Polairud berencana berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Wakatobi dan masyarakat setempat untuk menangani bangkai tersebut sesuai prosedur yang berlaku.
Kedua kejadian itu memiliki kondisi berbeda. Di Muna, warga menemukan hiu paus tutul dalam keadaan hidup dan berhasil mengarahkannya kembali ke laut. Sementara di Wakatobi, petugas menghadapi bangkai hiu raksasa yang sudah mati dan membutuhkan penanganan khusus.
Untuk kasus di Muna, perhatian berikutnya tertuju pada kondisi hiu paus setelah dievakuasi serta kemungkinan informasi tambahan mengenai penyebab satwa tersebut memasuki tambak udang. (*)






