PSM Makassar Hadapi Persebaya yang Lebih Mahal Rp31 Miliar, Duel di Parepare Jadi Ujian Juku Eja

Journalist Independent
PSM Makassar vs Persebaya Surabaya
PSM Makassar vs Persebaya Surabaya

Journalist Independent, PAREPARE – PSM Makassar menghadapi tantangan bukan hanya dari kualitas permainan Persebaya Surabaya, tetapi juga dari perbedaan nilai pasar kedua skuad menjelang pertandingan pekan keenam Super League 2026/2027.

Tim berjuluk Juku Eja itu memiliki nilai pasar pemain sekitar Rp76,04 miliar, sedangkan Bajul Ijo mencapai Rp107,33 miliar.

Kedua tim akan bertemu di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Kamis, 22 Oktober 2026. Pertandingan dijadwalkan dimulai pukul 15.30 WIB atau 16.30 Wita.

Selisih nilai pasar kedua tim mencapai Rp31,29 miliar. Angka tersebut menempatkan Persebaya di atas PSM dari sisi valuasi skuad, meskipun perbedaan harga pemain tidak otomatis menentukan hasil pertandingan di lapangan.

Bagi PSM, bermain di hadapan pendukung sendiri menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kekuatan tim tidak hanya diukur melalui nilai pasar. Organisasi permainan, efektivitas penyelesaian akhir, kedisiplinan pertahanan, serta kemampuan memanfaatkan peluang akan menjadi faktor penting dalam menghadapi tim asal Surabaya tersebut.

Sementara itu, Persebaya datang dengan komposisi pemain yang memiliki valuasi relatif tinggi, terutama pada sektor serangan. Sejumlah pemain asing dan lokal mereka masuk dalam daftar pemain dengan nilai pasar terbesar di antara kedua kesebelasan.

Dusan Lagator Jadi Pemain Termahal PSM Makassar

Di kubu PSM Makassar, posisi pemain dengan nilai pasar tertinggi ditempati bek asal Montenegro, Dusan Lagator. Pemain yang menjadi bagian dari lini pertahanan Juku Eja tersebut memiliki nilai pasar sekitar Rp6,95 miliar.

Nilai tersebut menjadikan Lagator sebagai salah satu aset utama PSM dari sisi valuasi pemain.

Perannya di lini belakang juga penting untuk menghadapi tekanan serangan Persebaya yang memiliki sejumlah pemain dengan kemampuan menyerang dan nilai pasar tinggi.

Di bawah Lagator, bek kiri asal Brasil, Victor Luiz, menempati posisi berikutnya. Pemain yang beroperasi di sisi kiri pertahanan itu memiliki nilai pasar sebesar Rp6,08 miliar.

Keberadaan Victor Luiz memberi PSM pilihan di sektor pertahanan sekaligus dalam membangun serangan dari sisi lapangan. Dalam pertandingan melawan Persebaya, kontribusi pemain di posisi bek sayap dapat menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara bertahan dan membantu serangan.

PSM juga memiliki sejumlah pemain asing lain dengan nilai pasar yang relatif seragam. Nenad Lalic, Aloisio Neto, Stefan Jevtoski, Luka Bulatovic, dan Luka Cumic masing-masing tercatat memiliki nilai pasar sekitar Rp5,21 miliar.

Kesamaan nilai pasar kelima pemain tersebut memperlihatkan bahwa valuasi pemain asing PSM berada dalam kelompok yang cukup berdekatan.

Namun, perbedaan posisi, karakter permainan, serta kontribusi di lapangan tetap membuat peran setiap pemain tidak dapat disamakan hanya berdasarkan angka valuasi.

Di antara pemain lokal PSM, penjaga gawang Hilmansyah menjadi pemain dengan nilai pasar tertinggi. Kiper andalan Juku Eja itu memiliki nilai pasar sekitar Rp3,48 miliar.

Posisi penjaga gawang akan menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi Persebaya.

Ketika tim lawan mempunyai pemain dengan kemampuan individu yang menonjol, konsentrasi penjaga gawang dan koordinasi lini pertahanan dapat menentukan kemampuan tim mempertahankan hasil pertandingan.

PSM membutuhkan permainan kolektif untuk mengimbangi keunggulan nilai pasar lawan.

Dengan selisih valuasi skuad yang cukup besar, kemampuan meminimalkan kesalahan dan menjaga konsistensi selama pertandingan menjadi faktor yang patut diperhatikan.

Miguel Pereira Pimpin Daftar Pemain Termahal Persebaya

Di kubu Persebaya Surabaya, Miguel Pereira menjadi pemain dengan nilai pasar tertinggi.

Penyerang sayap asal Portugal tersebut memiliki valuasi sekitar Rp12,17 miliar, hampir dua kali lipat nilai pasar Dusan Lagator yang menjadi pemain termahal PSM.

Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya valuasi yang dimiliki salah satu pemain ofensif Bajul Ijo.

Sebagai pemain sayap, Miguel Pereira memiliki posisi strategis dalam komposisi serangan Persebaya, meskipun besarnya nilai pasar tidak dengan sendirinya menjamin kontribusi gol dalam pertandingan.

Di bawah Miguel, dua pemain yang berperan di lini tengah, Francisco Rivera dan Ramalho, masing-masing memiliki nilai pasar Rp6,95 miliar.

Kehadiran pemain dengan valuasi tinggi di lini tengah memberi Persebaya sejumlah opsi untuk membangun serangan dan mengatur distribusi bola.

Sektor ini berpotensi menjadi area penting dalam pertandingan karena penguasaan bola dan kemampuan memutus aliran serangan lawan dapat memengaruhi jalannya permainan.

PSM perlu mengantisipasi pergerakan pemain tengah Persebaya agar tidak memberikan terlalu banyak ruang bagi lawan untuk mengembangkan serangan.

Sebaliknya, Juku Eja juga perlu menjaga efektivitas transisi ketika berhasil merebut bola.

Pada sektor pertahanan, Persebaya mempunyai Yuran Fernandes, bek jangkung asal Tanjung Verde yang memiliki nilai pasar sekitar Rp6,52 miliar.

Yuran menjadi salah satu pemain dengan valuasi tinggi di lini belakang Bajul Ijo. Keberadaannya menambah pilihan Persebaya dalam mengawal pertahanan dan menghadapi tekanan dari penyerang lawan.

Bagi PSM, menghadapi barisan pertahanan Persebaya membutuhkan variasi serangan.

Umpan silang, pergerakan dari sisi sayap, serta kombinasi antarpemain dapat menjadi bagian dari pendekatan permainan, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada situasi pertandingan.

Perbedaan karakter pemain di kedua tim juga membuat duel ini menarik untuk dicermati.

PSM mempunyai sejumlah pemain asing dengan nilai pasar yang cukup berdekatan, sedangkan Persebaya memiliki beberapa nama dengan valuasi lebih tinggi di sektor serangan dan tengah.

Saddil Ramdani Jadi Pemain Lokal Termahal Persebaya

Keunggulan nilai pasar Persebaya tidak hanya berasal dari pemain asing. Di kelompok pemain lokal, Saddil Ramdani tercatat sebagai pemain dengan valuasi tertinggi di skuad Bajul Ijo.

Pemain sayap yang pernah memperkuat Timnas Indonesia tersebut memiliki nilai pasar sekitar Rp6,08 miliar. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu pemain lokal dengan valuasi menonjol di Persebaya.

Saddil memiliki posisi penting dalam pilihan pemain sayap tim Surabaya tersebut.

Kecepatan dan kemampuan bermain di sisi lapangan menjadi karakter yang dapat dimanfaatkan untuk membuka ruang dalam pertahanan lawan.

PSM perlu menjaga pengawalan di area sayap agar pemain Persebaya tidak leluasa mengembangkan serangan.

Koordinasi antara bek sayap dan pemain yang beroperasi di depannya dapat menjadi bagian penting untuk mengurangi ruang gerak lawan.

Selain Saddil, Persebaya juga mempunyai sejumlah pemain lokal yang masuk dalam kelompok dengan nilai pasar relatif tinggi. Ernando Ari, Ramadhan Sananta, dan Malik Risaldi masing-masing memiliki valuasi sekitar Rp4,78 miliar.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Persebaya tidak hanya mengandalkan pemain asing untuk membentuk kekuatan tim.

Sejumlah pemain lokal juga memiliki nilai pasar yang cukup besar dan menjadi bagian dari pilihan skuad Bajul Ijo.

Kombinasi pemain asing dan lokal memberi Persebaya kedalaman pilihan di beberapa sektor. Namun, kemampuan tim memaksimalkan komposisi tersebut tetap bergantung pada strategi pelatih, kesiapan pemain, serta kondisi pertandingan.

Selisih Rp31 Miliar Bukan Jaminan Kemenangan

Perbedaan nilai pasar sebesar Rp31,29 miliar membuat Persebaya lebih unggul dari sisi valuasi skuad. Kendati demikian, angka tersebut perlu dipahami sebagai gambaran perkiraan nilai pemain, bukan ukuran pasti kekuatan tim dalam satu pertandingan.

Nilai pasar pemain dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk usia, performa, pengalaman, posisi, dan perkiraan permintaan terhadap pemain tersebut.

Angka valuasi juga tidak selalu menggambarkan kondisi terkini seorang pemain atau kontribusinya dalam pertandingan tertentu.

Karena itu, PSM masih mempunyai kesempatan untuk memberikan perlawanan melalui pendekatan permainan yang tepat.

Keunggulan sebagai tuan rumah di Stadion Gelora BJ Habibie dapat menjadi faktor pendukung, terutama apabila Juku Eja mampu memanfaatkan dukungan suporter dan menjaga intensitas permainan.

Pertandingan ini juga menjadi kesempatan bagi PSM untuk memperlihatkan kualitas pemainnya di tengah perbedaan valuasi dengan Persebaya.

Lini pertahanan perlu menjaga kedisiplinan, sektor tengah harus mampu bersaing dalam perebutan bola, sedangkan lini depan dituntut memaksimalkan peluang yang tercipta.

Bagi Persebaya, status sebagai tim dengan nilai pasar lebih tinggi membawa ekspektasi tersendiri.

Komposisi pemain yang memiliki valuasi besar perlu diterjemahkan menjadi permainan efektif agar keunggulan di atas kertas dapat memberikan dampak nyata.

Duel PSM Makassar melawan Persebaya Surabaya di Parepare pun bukan sekadar pertemuan dua klub dengan perbedaan nilai pasar.

Pertandingan ini menjadi ujian bagi Juku Eja untuk mengimbangi komposisi pemain Bajul Ijo sekaligus memanfaatkan keuntungan bermain di kandang.

Dengan jadwal pertandingan pada Kamis sore, perhatian akan tertuju pada cara kedua tim memaksimalkan kekuatan masing-masing.

PSM perlu membuktikan bahwa kolektivitas dan efektivitas permainan mampu mengimbangi selisih valuasi, sedangkan Persebaya harus menunjukkan bahwa keunggulan nilai skuad dapat mendukung hasil positif di lapangan. (*)