Para siswa menolak mengikuti pelajaran sebagai bentuk solidaritas terhadap teman-teman perempuan mereka yang berhijab. Mereka meminta pihak sekolah mengizinkan para siswi tersebut masuk dan mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.
https://www.instagram.com/reel/DeRn4glE3dd/?utm_source=ig_web_copy_link&srtk=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Jurnalis Azerbaijan, Tural Sadigli, turut menyebarkan video dan unggahan yang menyoroti meningkatnya protes terhadap pembatasan tersebut.
Perbincangan kemudian melibatkan tokoh publik, aktivis, dan jurnalis, dengan pandangan yang berbeda mengenai penerapan aturan seragam dan batas kebebasan beragama di sekolah.
Di tengah polemik tersebut, seniman Azerbaijan, Roza Ibadova Kojamaz, mengangkat kembali pengalaman keluarga-keluarga yang pernah menghadapi kesulitan menyekolahkan anak perempuan mereka, terutama di desa-desa sekitar ibu kota Baku.
Kojamaz mengenang perubahan yang terjadi setelah pemimpin Azerbaijan terdahulu, Heydar Aliyev, bertemu dengan para tokoh masyarakat Baku.
Menurutnya, setelah pertemuan itu, keluarga-keluarga mulai mengirimkan anak perempuan mereka ke sekolah, baik yang mengenakan hijab maupun yang tidak.
Berangkat dari pengalaman tersebut, ia berharap Presiden Ilham Aliyev dapat mengambil keputusan yang mengakhiri kontroversi saat ini.
Ia menginginkan agar siswi berhijab tetap dapat mengenyam pendidikan tanpa harus melepaskan hijabnya. Kojamaz juga menyatakan kepercayaannya kepada negara untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Perbedaan pandangan semakin terlihat dalam perdebatan di ruang publik Azerbaijan. Peneliti sekaligus analis politik, Ulviya Zulfiqar, membela prinsip sekularisme dalam pendidikan. Ia berpandangan bahwa kebebasan beragama tidak bertentangan dengan kewajiban mematuhi peraturan internal sekolah.
Menurut Zulfiqar, aturan seragam yang diterapkan secara seragam dimaksudkan untuk menjaga lingkungan pendidikan tetap sekuler. Pandangan ini menekankan pentingnya kepatuhan siswa terhadap ketentuan pakaian yang berlaku di sekolah.
https://www.instagram.com/reel/DeRK90To13J/?utm_source=ig_web_copy_link&obrf=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Sementara itu, jurnalis sekaligus aktivis media Azerbaijan, Nigar Ughiday Abdullazadeh, melontarkan kritik keras terhadap pembatasan tersebut. Ia memperingatkan bahwa kebijakan itu dapat memperburuk hubungan antara masyarakat dan pemerintah.
Ughiday Abdullazadeh menuding sejumlah pihak di dalam lembaga negara turut memengaruhi kebijakan pendidikan dan memperbesar sentimen permusuhan terhadap Islam. Ia mendesak Presiden Ilham Aliyev turun tangan untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai serangan terhadap nilai-nilai agama dan moral di Azerbaijan.
Perdebatan mengenai hijab di sekolah Azerbaijan juga mendapat perhatian di luar negeri. Di Istanbul, Turki, sejumlah orang menggelar aksi protes di depan Konsulat Azerbaijan. Mereka menuntut agar pembatasan terhadap perempuan berhijab dicabut.
Aksi tersebut memperlihatkan bahwa polemik aturan seragam sekolah di Azerbaijan tidak hanya menyangkut penerapan ketentuan berpakaian di lingkungan pendidikan.
Persoalan ini juga menyentuh perbedaan pandangan mengenai kebebasan beragama, kewenangan lembaga pendidikan, dan penerapan prinsip sekularisme dalam kehidupan masyarakat. (mui)






