TEL AVIV – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih tidak memberikan dukungan terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Sikap tersebut menjadi sorotan karena keduanya selama ini dikenal memiliki hubungan politik yang erat, terutama dalam sejumlah kebijakan strategis terkait Israel dan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan majalah Time yang dikutip Al Jazeera, Trump beberapa kali menghindari pertanyaan mengenai dukungannya terhadap Netanyahu. Ketika ditanya mengenai kemungkinan kemenangan Gadi Eisenkot, pemimpin partai oposisi Yashar, Trump juga tidak menyampaikan penolakan maupun dukungan secara tegas.
“Saya tidak mendengar hal-hal buruk,” ucapnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Trump belum ingin secara terbuka mengikat posisinya dengan salah satu kandidat dalam persaingan politik Israel. Namun, sikap itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa hubungan Washington dan Tel Aviv akan mengalami perubahan mendasar apabila Netanyahu kehilangan kekuasaan.
Laporan Al Jazeera yang terbit pada awal Oktober juga menggambarkan bagaimana Trump menghindari dukungan langsung kepada Netanyahu meskipun tetap memberikan pembelaan terhadap sejumlah aspek kepemimpinannya.
Persaingan Netanyahu dan Eisenkot Memanas
Pemilihan umum Israel kali ini menjadi ujian politik penting bagi Netanyahu. Pemimpin Partai Likud tersebut menghadapi tantangan dari Eisenkot yang berupaya menyatukan kekuatan oposisi untuk mengakhiri dominasi pemerintahan sayap kanan.
Eisenkot merupakan mantan kepala staf militer Israel yang kini memimpin partai Yashar. Ia membangun dukungan dengan membawa agenda perubahan kepemimpinan, evaluasi kebijakan pemerintahan, dan tuntutan pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan yang berkaitan dengan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Persaingan keduanya berlangsung di tengah masyarakat Israel yang masih menghadapi dampak perang, persoalan keamanan, dan perdebatan mengenai arah kebijakan pemerintah.
Laporan Financial Times pada Juli 2026 menyebutkan bahwa partai Yashar yang dipimpin Eisenkot sempat mengungguli Likud dalam sejumlah survei. Namun, dukungan terhadap suatu partai tidak otomatis menjamin kemampuan membentuk pemerintahan karena sistem parlementer Israel mengharuskan pembentukan koalisi dengan dukungan mayoritas anggota Knesset.
Situasi tersebut membuat hasil pemilu sulit dipastikan hanya berdasarkan popularitas kandidat. Netanyahu masih memiliki peluang mempertahankan kekuasaan apabila koalisi pendukungnya mampu mengumpulkan suara mayoritas, meskipun partainya menghadapi persaingan ketat.
Di sisi lain, Eisenkot perlu memastikan bahwa kekuatan oposisi tidak hanya unggul dalam perolehan suara, tetapi juga dapat menyepakati komposisi pemerintahan dan program bersama.
Dalam konteks ini, sikap Trump menjadi perhatian karena dukungan politik dari Washington selama bertahun-tahun dipandang sebagai salah satu modal diplomatik penting bagi Netanyahu.
Hubungan Trump dan Netanyahu Memiliki Sejarah Panjang
Selama masa jabatan pertamanya pada 2017–2021, Trump mengambil sejumlah keputusan yang disambut baik oleh pemerintahan Netanyahu dan kelompok sayap kanan Israel.
Di antara kebijakan tersebut adalah pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 2018, pengakuan Amerika Serikat terhadap kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada 2019, serta penarikan Washington dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018.
Keputusan-keputusan itu memperlihatkan kedekatan arah kebijakan kedua pemimpin, khususnya dalam persoalan status Yerusalem, keamanan Israel, dan pendekatan terhadap Iran.
Hubungan tersebut berlanjut ketika Trump kembali menjabat sebagai presiden pada Januari 2025. Dukungan Amerika Serikat terhadap keamanan Israel, termasuk kerja sama pertahanan dan pasokan persenjataan, tetap menjadi bagian penting hubungan bilateral kedua negara.
Akan tetapi, kedekatan politik tidak berarti kedua pemimpin selalu memiliki kepentingan yang identik. Perbedaan mengenai strategi militer, biaya perang, diplomasi regional, dan dampak konflik terhadap kepentingan Amerika Serikat dapat memengaruhi hubungan mereka.
Menjelang pemilu Israel, persoalan itu menjadi semakin relevan. Trump perlu mempertimbangkan dampak kebijakan luar negeri terhadap kepentingan Amerika Serikat, sementara Netanyahu berupaya mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan politik domestik.
Karena itu, keengganan Trump memberikan dukungan terbuka dapat dibaca sebagai langkah menjaga fleksibilitas politik. Sikap tersebut memungkinkan Washington tetap menjalin hubungan dengan Israel tanpa secara langsung mempertaruhkan kredibilitasnya pada hasil pemilu yang belum pasti.
Perang Iran Menjadi Faktor yang Memengaruhi Hubungan
Dinamika hubungan Trump dan Netanyahu juga tidak dapat dipisahkan dari persoalan Iran. Kebijakan terhadap Teheran selama ini menjadi salah satu titik penting dalam hubungan kedua pemerintahan.
Analis Senior Israel di International Crisis Group, Mairav Zonszein, menilai keraguan Trump dapat berkaitan dengan perbedaan pandangan di dalam pemerintahannya sendiri mengenai peran Netanyahu dalam mendorong keterlibatan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.
“Ini mungkin kombinasi dari perang Iran dan perpecahan dalam pemerintahan Trump dengan orang-orang seperti Wakil Presiden JD Vance, yang sangat menentang peran Netanyahu dalam mendorong AS untuk menyerang Iran,” tegasnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya ditentukan oleh kedekatan personal para pemimpinnya. Kepentingan keamanan nasional, pertimbangan politik dalam negeri, dan perbedaan strategi menghadapi konflik regional juga dapat memengaruhi keputusan Washington.
Bagi Trump, keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Timur Tengah membawa konsekuensi politik dan ekonomi yang tidak kecil. Operasi militer dapat memengaruhi anggaran pertahanan, stabilitas harga energi, serta hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara lain.
Pada saat yang sama, Netanyahu menghadapi tekanan untuk menunjukkan bahwa kebijakan keamanan pemerintahannya mampu melindungi kepentingan Israel.
Perbedaan kepentingan itu dapat menjelaskan mengapa hubungan yang selama ini terlihat dekat tidak selalu menghasilkan dukungan politik terbuka dalam setiap situasi.
Meski demikian, tanpa pernyataan resmi yang secara langsung mengaitkan keputusan Trump dengan pertimbangan tersebut, faktor-faktor itu tetap perlu dipahami sebagai analisis atas dinamika politik, bukan kepastian mengenai motif pribadi presiden Amerika Serikat.
Trump Dinilai Tidak Sepenuhnya Meninggalkan Netanyahu
Kepala Program Palestina-Israel di Arab Center Washington DC, Yousef Munayyer, menilai sikap Trump menunjukkan adanya perubahan dalam dinamika hubungan politik kedua pemimpin.
“Dia tampaknya menjaga jarak lebih jauh dari yang Anda kira, mengingat dukungan masa lalu Trump terhadap sekutu sayap kanan, mengingat sejarah hubungan Trump-Netanyahu, dan betapa dekatnya Trump dan Netanyahu,” tuturnya.
Penilaian itu menggarisbawahi perbedaan antara dukungan terhadap kebijakan Israel secara umum dan dukungan pribadi kepada Netanyahu sebagai pemimpin politik.
Amerika Serikat dapat mempertahankan kerja sama keamanan dengan Israel sekalipun terjadi pergantian pemerintahan. Namun, perubahan kepemimpinan di Tel Aviv berpotensi memengaruhi prioritas diplomatik, pendekatan terhadap konflik Palestina, serta hubungan dengan negara-negara di kawasan.
Direktur Israel-Palestina di lembaga pemikir DAWN, Michael Omer-Man, juga menilai sikap Trump belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ia telah memutus hubungan politik dengan Netanyahu.
“Saya tidak berpikir Trump meninggalkan Netanyahu,” katanya.
Omer-Man memperkirakan pemerintahan yang dipimpin Eisenkot sekalipun belum tentu membatalkan seluruh kebijakan yang telah dijalankan Netanyahu. Perubahan bisa terjadi pada sejumlah aspek, tetapi arah kebijakan keamanan Israel kemungkinan tetap dipengaruhi kepentingan strategis dan dinamika politik dalam negeri.
“Pemerintahan Eisenkot mungkin berhenti mengambil alih setiap puncak bukit di Tepi Barat; mereka mungkin mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza, tetapi mereka tidak akan membalikkan langkah-langkah yang telah diambil,” papar Omer-Man.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa pergantian pemimpin tidak otomatis menghasilkan perubahan menyeluruh dalam kebijakan luar negeri maupun keamanan Israel.
Sentimen Publik Israel terhadap Trump Berubah
Sementara itu, dukungan publik Israel terhadap peran Trump juga menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan menjelang pemilihan umum.
Dalam survei Institut Demokrasi Israel yang disebutkan dalam laporan sumber, hanya 44 persen warga Yahudi Israel yang menilai keamanan Israel sebagai pertimbangan utama Trump. Angka tersebut turun dari 61 persen pada Maret 2026.
Penurunan itu mengindikasikan adanya perubahan persepsi sebagian masyarakat Israel terhadap prioritas pemerintahan Amerika Serikat.
Ketika hubungan keamanan kedua negara menjadi perhatian utama, masyarakat Israel juga mempertimbangkan apakah kebijakan Washington benar-benar sejalan dengan kebutuhan keamanan negaranya.
Kritik terhadap Amerika Serikat turut muncul terkait pembatasan operasi militer Israel di Lebanon. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dukungan strategis Washington tidak selalu berarti memberikan kebebasan penuh kepada pemerintah Israel untuk menjalankan seluruh kebijakan militernya.
Bagi Netanyahu, perubahan persepsi ini dapat menjadi tantangan komunikasi politik. Hubungan dekat dengan presiden Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi salah satu simbol kekuatan diplomatiknya kini tidak serta-merta memberikan keuntungan elektoral yang sama.
Strategi Kampanye Netanyahu Mulai Berubah
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Netanyahu disebut mengubah pendekatan kampanyenya dengan mengurangi penggunaan simbol kedekatan personal bersama Trump.
Sebaliknya, kampanye Netanyahu lebih menonjolkan ancaman yang dianggap berasal dari lawan regional maupun internasional Israel. Sejumlah tokoh yang disebut dalam materi sumber adalah Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana isu keamanan tetap menjadi bagian penting dalam strategi politik Netanyahu. Dengan menonjolkan ancaman eksternal, kampanye dapat mengarahkan perhatian pemilih pada persoalan keamanan nasional dan kemampuan pemerintah menghadapi lawan.
Namun, strategi semacam itu juga berhadapan dengan tuntutan masyarakat mengenai pertanggungjawaban pemerintah, kondisi ekonomi, dampak perang, dan arah hubungan Israel dengan sekutu internasionalnya.
Analis Mairav Zonszein merangkum pendekatan tersebut melalui ungkapan:
“Musuh-musuhnya versus teman-temannya,” pungkas Zonszein.
Hasil Pemilu Akan Menentukan Arah Politik Israel
Pemilihan umum pada 27 Oktober 2026 berpotensi menjadi titik penting bagi masa depan politik Netanyahu dan hubungan pemerintah Israel dengan Amerika Serikat.
Apabila Netanyahu kembali memperoleh dukungan mayoritas di parlemen, hubungan bilateral dengan pemerintahan Trump kemungkinan tetap berlanjut dengan berbagai kepentingan strategis yang telah terbangun. Namun, dinamika konflik regional dan perbedaan prioritas kedua negara masih dapat memengaruhi kerja sama mereka.
Sebaliknya, jika Eisenkot dan blok oposisi berhasil membentuk pemerintahan, Israel berpeluang melakukan penyesuaian terhadap sejumlah kebijakan, terutama dalam hubungan dengan mitra internasional, pengelolaan konflik, dan pendekatan terhadap persoalan Palestina.
Meski demikian, perubahan tersebut akan bergantung pada komposisi koalisi, kesepakatan politik antarkelompok, serta kondisi keamanan yang dihadapi pemerintahan baru.
Sikap Trump yang belum memberikan dukungan terbuka kepada Netanyahu memperlihatkan bahwa hubungan politik internasional tidak selalu ditentukan oleh kedekatan personal. Kepentingan nasional, kalkulasi elektoral, dan perubahan persepsi publik turut membentuk keputusan para pemimpin.
Dengan persaingan yang masih berlangsung, perhatian kini tertuju pada kemampuan Netanyahu mempertahankan dukungan pemilih dan langkah Eisenkot menyatukan oposisi. Pada saat yang sama, keputusan Washington akan tetap menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan dalam perkembangan politik Israel, meskipun hasil pemilu pada akhirnya ditentukan oleh pemilih dan proses pembentukan pemerintahan di negara tersebut.






