SULSEL  

Polresta Gowa Bagi-Bagi Masker Kepada Warga Antisipasi Dampak Asap Karhutla

Journalist Independent
Anggota Polresta Gowa bagi-bagi masker kepada masyarakat
Anggota Polresta Gowa bagi-bagi masker kepada masyarakat.

Dampak Asap Karhutla bagi Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi dan lahan mengandung partikel halus serta berbagai polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Memasuki Oktober 2026, dampak kesehatan akibat karhutla masih menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap, khususnya di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara.

Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, karhutla berdampak terhadap sekitar 10,67 juta penduduk di tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Dalam laporan yang sama, tercatat 4.082 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada tanggal tersebut, dengan jumlah kumulatif mencapai 13.449 kasus yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak. Angka ini merupakan data hingga 27 Agustus 2026, bukan total kasus sepanjang Oktober.

1. Asap Karhutla Memicu Gangguan Pernapasan

Salah satu dampak paling nyata dari paparan asap karhutla adalah gangguan pada sistem pernapasan. Partikel halus yang terkandung dalam asap dapat terhirup hingga mencapai bagian dalam paru-paru.

Paparan tersebut dapat menimbulkan batuk, tenggorokan terasa kering atau sakit, hidung berair, sesak napas, hingga memperburuk penyakit pernapasan yang telah diderita sebelumnya.

ISPA menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai ketika kabut asap menyelimuti permukiman. Risiko dapat meningkat ketika masyarakat terus menghirup udara tercemar, terutama jika aktivitas di luar ruangan tetap dilakukan dalam waktu lama.

Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari. Anak-anak mungkin kesulitan mengikuti kegiatan di luar kelas, sementara pekerja lapangan menghadapi risiko paparan asap yang lebih besar karena harus beraktivitas di lingkungan terbuka.

2. Partikel PM2,5 Berbahaya bagi Tubuh

Asap kebakaran mengandung partikel pencemar dengan ukuran berbeda-beda. Salah satu yang menjadi perhatian adalah PM2,5, yaitu partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Karena ukurannya sangat kecil, PM2,5 dapat menembus jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan partikel ini dapat memicu peradangan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung.

Selain partikel halus, asap kebakaran juga dapat mengandung karbon monoksida dan berbagai senyawa kimia hasil pembakaran. Komposisi polutan bergantung pada bahan yang terbakar serta kondisi kebakaran.

Risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tebal asap terlihat. Udara yang tampak relatif bersih belum tentu bebas dari partikel pencemar. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi kualitas udara dari sumber resmi sebelum memutuskan beraktivitas di luar ruangan.

3. Memperburuk Asma dan Penyakit Paru Kronis

Bagi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap karhutla dapat memicu kekambuhan atau memperburuk gejala yang sudah ada.

Paparan polutan dapat menyebabkan saluran pernapasan mengalami iritasi sehingga penderita lebih mudah mengalami batuk, mengi, dada terasa sesak, dan kesulitan bernapas.

Dalam kondisi tertentu, gejala yang memburuk dapat memerlukan penanganan medis segera. Penderita penyakit paru kronis karena itu disarankan membatasi paparan asap, mengikuti pengobatan yang telah diresepkan, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika keluhan meningkat.

Orang yang sebelumnya tidak memiliki gangguan pernapasan juga dapat mengalami iritasi akibat asap. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap polusi udara tidak hanya diperlukan bagi mereka yang telah memiliki riwayat penyakit.

4. Iritasi Mata, Hidung, Tenggorokan, dan Kulit

Dampak asap karhutla tidak terbatas pada paru-paru. Kontak dengan polutan di udara juga dapat menyebabkan mata merah, perih, dan berair.

Sebagian orang mengalami hidung berair, bersin, tenggorokan terasa tidak nyaman, atau kulit gatal setelah terpapar asap.

Keluhan tersebut dapat mengganggu kenyamanan dan produktivitas masyarakat, terutama ketika kabut asap berlangsung selama beberapa hari. Orang yang memiliki sensitivitas tertentu juga dapat mengalami reaksi yang lebih berat.

Apabila iritasi tidak membaik, muncul nyeri yang berat, atau disertai gangguan penglihatan maupun kesulitan bernapas, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

5. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah

Dampak paparan asap juga perlu diperhatikan dari sisi kesehatan kardiovaskular. Partikel halus yang masuk ke tubuh dapat memicu respons peradangan dan memberikan beban tambahan pada sistem peredaran darah.

Pada orang dengan penyakit jantung sebelumnya, paparan polusi asap berpotensi memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Risiko tersebut tidak berarti setiap orang yang menghirup asap akan mengalami gangguan jantung. Namun, paparan dengan tingkat tinggi, terutama dalam waktu lama, perlu dihindari untuk mengurangi kemungkinan dampak kesehatan yang serius.

Masyarakat yang mengalami nyeri dada, sesak napas berat, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, atau gangguan bicara perlu segera mendapatkan pertolongan darurat.

6. Anak-anak, Lansia, dan Ibu Hamil Lebih Rentan

Kelompok masyarakat tertentu membutuhkan perlindungan ekstra ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Anak-anak termasuk kelompok rentan karena paru-paru mereka masih berkembang dan aktivitas fisiknya sering dilakukan di luar ruangan. Paparan asap dapat mengganggu pernapasan serta memperburuk penyakit yang sudah ada.

Lansia juga perlu mendapatkan perhatian karena lebih mungkin memiliki penyakit kronis yang dapat memburuk akibat polusi udara. Sementara itu, ibu hamil sebaiknya mengurangi paparan asap dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan.

Kelompok lain yang berisiko tinggi adalah penderita asma, PPOK, penyakit jantung, serta orang yang bekerja di luar ruangan dalam waktu lama.

Kemenkes sebelumnya telah meminta fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan tersebut.

7. Cara Melindungi Diri dari Asap Karhutla

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah pencegahan ketika udara tercemar asap.

Pertama, pantau informasi kualitas udara melalui sumber resmi. Masyarakat dapat menggunakan informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan data kualitas udara yang tersedia melalui layanan pemerintah.

Kedua, kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Kegiatan olahraga, pekerjaan fisik berat, dan aktivitas anak-anak di luar ruangan sebaiknya dibatasi sesuai kondisi kualitas udara.

Ketiga, gunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95, apabila harus berada di luar ruangan dalam kondisi berasap. Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus. Penggunaan respirator juga perlu memperhatikan kecocokan dan kemampuan pengguna bernapas dengan nyaman.

Keempat, tutup pintu dan jendela ketika asap berada di luar rumah. Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara dengan filter HEPA di ruangan tertutup. Hindari aktivitas yang menambah polusi dalam ruangan, seperti merokok atau membakar sampah.

Kelima, pastikan anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis mendapatkan perlindungan lebih. Orang yang memiliki obat rutin sebaiknya memastikan persediaannya mencukupi sesuai anjuran dokter.

Keenam, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu.

Pemerintah juga melakukan langkah penanganan untuk mengurangi dampak kesehatan akibat karhutla. Pada Agustus 2026, Kemenkes menyampaikan bahwa 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung penanganan di tujuh provinsi terdampak. Pemerintah juga menyiapkan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat untuk mendukung respons kesehatan.

Selain pelayanan kesehatan, akses terhadap informasi kualitas udara menjadi bagian penting dari upaya perlindungan masyarakat. Pada 23 September 2026, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bersama Kemenkes mengumumkan integrasi informasi pemantauan kualitas udara ke platform SatuSehat agar masyarakat dapat menggunakan data tersebut sebagai acuan dalam menyesuaikan aktivitas sehari-hari.