NEWS  

Kualitas Udara Makassar Sangat Tidak Sehat: PM2,5 Tembus 158, Warga Diimbau Pakai Masker

Journalist Independent
Kualitas udara di Makassar masuk dalam kategori tidak sehat. (dok. Paril/JI)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kian mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 terpantau berada pada kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar pada Rabu (14/10/2026), konsentrasi PM2,5 di Makassar mencapai 156,5 µg/m³ pada pagi hari. Angka tersebut menunjukkan tingginya kandungan partikel halus di udara yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena konsentrasi polutan dilaporkan mengalami peningkatan sejak dini hari hingga pagi hari. Berdasarkan data yang disampaikan, konsentrasi PM2,5 pada Selasa (13/10/2026) dini hari tercatat sebesar 127,7 µg/m³, kemudian meningkat menjadi 158,7 µg/m³ pada pagi hari.

Perubahan angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Makassar mengalami fluktuasi dengan tingkat pencemaran yang perlu diwaspadai. Paparan partikulat halus dalam konsentrasi tinggi, terutama apabila berlangsung dalam durasi lama, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada kelompok rentan.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, membenarkan bahwa kualitas udara di Makassar telah masuk kategori sangat tidak sehat.

“Pada jam 9 WITA naik menjadi kategori sangat tidak sehat,” ucapnya, Rabu (14/10/2026).

Kategori tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Selain mengurangi paparan langsung terhadap udara tercemar, masyarakat juga perlu mengikuti perkembangan informasi kualitas udara yang disampaikan oleh instansi terkait.

Partikulat PM2,5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya yang halus, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

Paparan PM2,5 dalam kadar tinggi dapat memicu gangguan pernapasan, memperburuk kondisi penderita asma, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan maupun jantung termasuk kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi udara.

Asap Karhutla Diduga Berkontribusi terhadap Penurunan Kualitas Udara

Berdasarkan data BMKG, buruknya kualitas udara di Makassar diduga tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas di wilayah setempat. Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah daerah lain juga berpotensi menjadi salah satu sumber pencemaran yang terbawa hingga Sulawesi Selatan.

Salah satu kemungkinan sumber asap berasal dari karhutla di Kalimantan. Pergerakan massa udara dan arah angin dapat membawa partikel polutan dari wilayah tersebut menuju Sulawesi Selatan, sehingga memengaruhi kualitas udara di daerah yang dilalui.

Selain dari Kalimantan, pergerakan angin dari arah timur juga memungkinkan asap dari kawasan Papua dan Maluku mencapai wilayah Sulawesi Selatan. Kondisi ini membuat sumber pencemaran udara berpotensi berasal dari beberapa kawasan berbeda, bergantung pada dinamika atmosfer yang berlangsung.

Di samping kiriman asap dari luar daerah, kebakaran lahan lokal juga disebut berpotensi memberikan kontribusi terhadap penurunan kualitas udara di Sulsel.

Selain dari luar, asap Karhutla dari Sulsel sendiri juga mempengaruhi kualitas udara semakin memburruk.

Dengan demikian, tingginya konsentrasi PM2,5 di Makassar perlu dilihat sebagai persoalan yang dapat dipengaruhi oleh berbagai sumber pencemaran. Asap karhutla yang terbawa angin, ditambah kemungkinan emisi dari aktivitas lokal, dapat memperburuk kondisi udara ketika partikel polutan terkumpul di atmosfer.

Masyarakat Tetap Pantau Informasi Resmi

Meski demikian, masyarakat tetap perlu merujuk pada informasi resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan kualitas udara serta kondisi atmosfer terkini. Pemantauan secara berkala penting dilakukan agar warga dapat menyesuaikan kegiatan sehari-hari dengan tingkat risiko paparan polutan.

Kondisi udara yang memburuk juga menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak selalu terbatas pada wilayah tempat kebakaran terjadi. Asap yang terbawa angin dapat menjangkau daerah lain dan menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat yang berada jauh dari titik kebakaran.

Gubernur Sulsel Imbau Warga Jaga Kesehatan

Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan di tengah memburuknya kualitas udara.

Ia menjelaskan, pencemaran udara di Sulsel berpotensi dipengaruhi oleh kiriman polutan dari arah barat maupun timur. Kondisi tersebut membuat kadar polutan di udara mencapai tingkat yang perlu menjadi perhatian, terutama dari sisi kesehatan masyarakat.

“Jadi, saya mengimbau karena kondisi udara di Sulawesi Selatan ini terdapat kiriman-kiriman dari barat maupun dari timur sehingga nilai polutannya pada ambang yang kemudian menjadi perhatian di bidang kesehatan,” ujar Andi Sudirman.

Gubernur berharap masyarakat tidak mengabaikan kondisi udara, terutama bagi mereka yang memiliki pekerjaan atau kegiatan yang mengharuskan berada di luar ruangan dalam waktu cukup lama.

Menurutnya, perlindungan diri menjadi salah satu langkah yang perlu diterapkan untuk mengurangi paparan polusi udara dalam aktivitas sehari-hari.

“Kita berharap ketika warga kami tercinta bekerja di luar untuk waktu-waktu yang durasi lama atau kurun waktu tertentu, dapat menggunakan masker dalam aktivitas kesehariannya,” lanjutnya.

Penggunaan masker menjadi salah satu upaya perlindungan yang dapat dipertimbangkan ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah udara tercemar. Namun, warga juga disarankan mengurangi kegiatan berat di luar ruangan saat kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat, khususnya apabila aktivitas tersebut tidak mendesak.

Selain menggunakan masker, masyarakat dapat mengurangi paparan dengan membatasi waktu di luar rumah, menghindari olahraga berat di ruang terbuka, serta memilih tempat dengan udara yang lebih bersih jika memungkinkan. Kelompok rentan perlu mendapat perhatian khusus, termasuk dengan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing.

Andi Sudirman juga mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pemenuhan kebutuhan nutrisi dan memperhatikan kondisi kesehatan apabila mulai merasakan gejala tertentu.

“Jika ada yang terdampak seperti mungkin flu dan sebagainya, agar memperhatikan asupan nutrisi serta menjalankan protap-protap kesehatan. Yang paling penting, semua masyarakat memperhatikan imbauan resmi dan menyesuaikan diri,” tukasnya.

Masyarakat yang mengalami sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada, atau gejala gangguan pernapasan lainnya di tengah kondisi udara tercemar sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Warga yang memiliki penyakit bawaan juga perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan apabila gejalanya memburuk.

Di tengah tingginya konsentrasi PM2,5, masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan penggunaan masker, tetapi juga disiplin memantau informasi resmi dan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi udara.

Perkembangan kualitas udara di Makassar menjadi perhatian bersama, mengingat pencemaran dapat berdampak langsung terhadap kenyamanan dan kesehatan warga. Kewaspadaan, perlindungan diri, serta kepatuhan terhadap imbauan pemerintah menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko selama kondisi udara masih berada pada kategori sangat tidak sehat. (lam)