SULSEL โ Kebutuhan solar subsidi di Sulawesi Selatan (Sulsel) diproyeksikan mencapai 831.065 kiloliter pada 2026. Angka tersebut melampaui kuota penyaluran yang pemerintah tetapkan sebesar 752.625 kiloliter.
Manager Retail PT Pertamina Patra Niaga Mardian menyampaikan proyeksi kebutuhan solar subsidi Sulsel tersebut. Ia menjelaskan perkiraan kebutuhan bahan bakar bersubsidi hingga akhir 2026.
“Untuk kebutuhan solar subsidi di Sulawesi Selatan pada tahun 2026, kami memproyeksikan sebesar 831.065 kiloliter,” ujar Mardian.
Proyeksi tersebut menunjukkan kebutuhan penyaluran solar subsidi yang lebih besar daripada kuota tahunan pemerintah. Selisih antara kedua angka itu mencapai 78.440 kiloliter.
Kebutuhan Melampaui Kuota Pemerintah
Perbandingan proyeksi kebutuhan dan kuota menunjukkan kebutuhan solar subsidi Sulsel mencapai sekitar 110,4 persen dari alokasi tahunan. Angka tersebut menggambarkan perkiraan kebutuhan bahan bakar bersubsidi hingga akhir tahun.
Pemerintah menetapkan kuota solar subsidi Sulsel sebesar 752.625 kiloliter untuk 2026. Sementara itu, Pertamina Patra Niaga memproyeksikan kebutuhan penyaluran mencapai 831.065 kiloliter.
Selisih tersebut belum menjelaskan apakah pemerintah akan menambah kuota atau mengambil langkah lain untuk menyesuaikan alokasi dengan kebutuhan. Laporan yang tersedia juga belum memuat rincian realisasi penyaluran hingga September 2026.
Pertamina Patra Niaga Sampaikan Proyeksi
Mardian menyampaikan proyeksi kebutuhan solar subsidi Sulsel dalam laporan video yang membahas kebutuhan bahan bakar bersubsidi di wilayah tersebut.
Proyeksi kebutuhan menjadi gambaran bagi penyaluran solar subsidi hingga akhir tahun. Namun, angka proyeksi tidak sama dengan realisasi penyaluran yang sudah berlangsung.
Pemerintah menggunakan kuota sebagai dasar penyaluran bahan bakar bersubsidi. Sementara itu, proyeksi kebutuhan menunjukkan perkiraan jumlah yang masyarakat perlukan sepanjang tahun.
Data Realisasi Masih Diperlukan
Kebutuhan solar subsidi Sulsel berkaitan dengan aktivitas transportasi dan sektor usaha yang membutuhkan bahan bakar diesel. Namun, materi yang tersedia belum merinci pembagian kebutuhan berdasarkan sektor pengguna maupun kabupaten dan kota.
Laporan tersebut juga belum menjelaskan langkah pemerintah atau Pertamina Patra Niaga dalam menghadapi selisih antara proyeksi kebutuhan dan kuota. Karena itu, angka 831.065 kiloliter masih merupakan proyeksi, bukan realisasi penyaluran.
Pemerintah dan Pertamina Patra Niaga dapat menggunakan perkembangan kebutuhan solar subsidi Sulsel sebagai bahan evaluasi penyaluran hingga akhir 2026. Realisasi penyaluran dan kebijakan kuota akan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kebutuhan bahan bakar bersubsidi di Sulawesi Selatan. (*)




