IHSG Sempat Anjlok ke 5.185, Lalu Berbalik Menguat 0,94 Persen di Akhir Perdagangan

Journalist Independent
Ilustrasi Saham.
Ilustrasi Saham.

Journalist Independent, JAKARTA – Tekanan jual yang sempat menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 5.185 pada perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026, tidak bertahan hingga penutupan.

Indeks berhasil membalikkan keadaan dan berakhir di zona hijau, ditopang penguatan saham perbankan, telekomunikasi, serta sejumlah emiten berkapitalisasi besar.

IHSG ditutup pada level 5.328,36, naik 49,47 poin atau 0,94 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Posisi akhir tersebut sekaligus menunjukkan pemulihan signifikan setelah indeks melewati sesi perdagangan yang penuh tekanan.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendah intraday di 5.185,36. Indeks kemudian bergerak naik hingga mencapai posisi tertinggi hariannya pada penutupan pasar.

Perubahan arah ini memperlihatkan bahwa tekanan jual pada paruh pertama perdagangan akhirnya mampu diimbangi oleh aksi beli menjelang akhir sesi.

Sepanjang perdagangan, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang ramai. Investor memperdagangkan 35,06 miliar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 1,83 juta kali. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp17,89 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 369 saham berakhir menguat, sedangkan 308 saham melemah. Sebanyak 116 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan IHSG terjadi ketika jumlah saham yang naik lebih banyak dibandingkan saham yang turun. Namun, pelemahan ratusan saham juga menunjukkan bahwa pemulihan indeks belum sepenuhnya merata di seluruh pasar.

Saham Bank Besar Jadi Pusat Perhatian Investor

Saham perbankan berkapitalisasi besar kembali mencuri perhatian dari sisi nilai transaksi. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai transaksi terbesar, mencapai Rp2,3 triliun. Saham BBCA menguat 1,44 persen ke level Rp5.275 per saham.

Di posisi berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan nilai transaksi sekitar Rp1,4 triliun. Harga saham BBRI naik 0,72 persen menjadi Rp2.810 per saham.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat nilai transaksi sebesar Rp981 miliar. Saham BMRI juga ditutup menguat, meskipun kenaikannya lebih terbatas, yakni 0,27 persen ke posisi Rp3.700 per saham.

Ramainya transaksi pada ketiga bank tersebut memperlihatkan besarnya perhatian investor terhadap saham-saham perbankan utama di tengah perubahan sentimen pasar. Dengan kapitalisasi besar dan peran penting dalam pembentukan indeks, pergerakan saham bank dapat memberikan pengaruh terhadap arah IHSG.

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pelaku pasar pada hari yang sama. Hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode Oktober tersebut memberikan kepastian mengenai tingkat suku bunga, meskipun respons investor tetap dipengaruhi ekspektasi terhadap nilai tukar rupiah dan prospek ekonomi.

Sebelumnya, median proyeksi konsensus yang dihimpun Bloomberg menempatkan suku bunga acuan pada level 5,88 persen. Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan belum seragamnya pandangan pasar mengenai keputusan bank sentral.

Sebagian pelaku pasar memperkirakan suku bunga bertahan di 5,75 persen. Sebagian lainnya memperhitungkan kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen, bahkan kenaikan 50 basis poin hingga 6,25 persen.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan mempertahankan suku bunga yang disertai komunikasi meyakinkan mengenai stabilitas rupiah berpotensi mendukung sentimen di pasar saham perbankan dan obligasi.

“Sentimen saham perbankan dan pasar obligasi berpotensi terbantu,” demikian penilaian dalam riset tersebut.

Meski demikian, penguatan saham bank pada perdagangan Rabu tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan keputusan BI. Pergerakan harga juga dipengaruhi transaksi investor, kondisi pasar, serta penilaian terhadap prospek bisnis masing-masing perusahaan.

TLKM Menguat, SINI Justru Tertekan

Di luar sektor perbankan, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi salah satu emiten dengan transaksi menonjol. Harga saham TLKM naik 2,9 persen ke level Rp2.120 per saham.

Penguatan TLKM juga sejalan dengan kontribusinya terhadap pergerakan IHSG. Saham perusahaan telekomunikasi tersebut menyumbangkan 5,56 poin terhadap indeks.

Selain TLKM, sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya ikut membantu menopang pasar. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi penyumbang kenaikan IHSG terbesar dengan kontribusi 6,25 poin.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyumbangkan 4,94 poin, sedangkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memberikan kontribusi 3,23 poin. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk turut menyumbang 2,96 poin terhadap penguatan indeks.

Di sisi lain, saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mengalami tekanan dengan penurunan 6,99 persen ke Rp9.650 per saham.

Pergerakan ini menempatkan SINI sebagai salah satu saham dengan pelemahan terdalam sekaligus menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak diikuti seluruh emiten.

PT Astra International Tbk (ASII) justru bergerak positif. Saham ASII menguat 1,33 persen dan ditutup di level Rp4.560 per saham.

Perbedaan arah saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa investor masih melakukan seleksi terhadap emiten di tengah perubahan sentimen pasar. Sebagian saham mampu mencatat penguatan, sementara lainnya masih menghadapi tekanan jual.

STRK Melonjak 34,31 Persen, LUCY Terperosok

Pergerakan paling mencolok pada kelompok saham dengan kenaikan harga terbesar datang dari STRK. Saham tersebut melonjak 34,31 persen ke level Rp137 per saham.

SOLA menempati posisi berikutnya dengan kenaikan 33,9 persen menjadi Rp79 per saham. Sementara itu, SBMA melesat 19,3 persen ke level Rp136 per saham.

Kenaikan tajam ketiga saham tersebut jauh melampaui penguatan IHSG secara keseluruhan.

Meski demikian, persentase kenaikan harga yang tinggi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa suatu saham memiliki likuiditas yang kuat atau prospek fundamental yang lebih baik.

Investor tetap perlu memperhatikan nilai transaksi, volatilitas harga, keterbukaan informasi, serta kondisi fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

Pergerakan saham berharga relatif rendah juga dapat menghasilkan perubahan persentase yang besar dalam waktu singkat.

Pada kelompok saham dengan penurunan terdalam, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) melemah 8 persen ke level Rp92 per saham.

SINI kembali masuk dalam daftar saham yang mengalami tekanan dengan penurunan 6,99 persen menjadi Rp9.650. Adapun PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) anjlok 6,96 persen ke level Rp147 per saham.

Pergerakan yang kontras antara saham-saham dengan kenaikan dan penurunan terbesar memperlihatkan tingginya variasi kinerja emiten pada perdagangan hari itu. Di tengah penguatan indeks utama, investor tetap menghadapi risiko penurunan harga pada saham tertentu.

LQ45 Menguat Lebih Tinggi daripada IHSG

Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45 yang berisi saham-saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar besar. Indeks tersebut naik 1,02 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan IHSG sebesar 0,94 persen.

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menjadi saham dengan kenaikan terbesar di kelompok LQ45, yakni 7,02 persen ke level Rp1.295 per saham.

Berikutnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menguat 5,19 persen menjadi Rp6.075 per saham. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) juga mencatat kenaikan 4,44 persen ke posisi Rp940 per saham.

Kinerja LQ45 yang melampaui IHSG memberikan gambaran bahwa sejumlah saham unggulan memperoleh dorongan beli yang cukup kuat.

Namun, penguatan indeks tersebut tidak berarti semua saham berkapitalisasi besar mencatat kenaikan seragam.

Bagi investor, perbandingan kedua indeks dapat menjadi salah satu indikator untuk membaca luasnya penguatan pasar.

Meski begitu, penilaian terhadap arah pasar tetap perlu mempertimbangkan jumlah saham yang naik dan turun, nilai transaksi, serta konsistensi pergerakan indeks pada hari-hari berikutnya.

Bursa Asia Ditutup Bervariasi

Di kawasan Asia, pergerakan bursa saham pada Rabu juga berlangsung beragam. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,85 persen, sedangkan Straits Times Singapura naik 0,63 persen.

Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong melemah 0,9 persen dan Shanghai Composite China turun 0,6 persen. Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa sentimen investor di pasar regional belum bergerak seragam.

Kondisi bursa Asia menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat diperhatikan investor Indonesia.

Namun, perubahan IHSG tidak hanya ditentukan oleh perkembangan regional karena kebijakan moneter domestik, pergerakan rupiah, dan transaksi saham individual juga memengaruhi pasar.

Penutupan IHSG di level 5.328,36 memperlihatkan kemampuan indeks untuk pulih setelah sempat tertekan hingga 5.185,36.

Nilai transaksi yang mencapai Rp17,89 triliun serta dominasi saham-saham besar dalam daftar penggerak indeks menjadi bagian penting dari dinamika perdagangan tersebut.

Meski berhasil berbalik menguat, arah IHSG selanjutnya masih perlu dicermati. Investor perlu melihat apakah penguatan saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar dapat berlanjut, sekaligus memperhatikan risiko pada saham-saham yang mengalami penurunan tajam.

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga 5,75 persen juga akan tetap menjadi salah satu perhatian pasar, terutama terkait stabilitas rupiah dan prospek kebijakan moneter berikutnya.

Dengan kondisi tersebut, penguatan pada perdagangan Rabu menjadi sinyal pemulihan harian, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan terhadap pasar saham Indonesia telah berakhir. (*)