NEWS  

Dalam Sehari, BPBD Sebut 74 Hektare Lahan Terbakar di Sulawesi

Journalist Independent
Petugas Gabungan saat melakukan pemadaman Karhutla di Kalimantan (Ist)
Petugas Gabungan saat melakukan pemadaman Karhutla di Kalimantan (Ist)

Journalist Independent, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda lima daerah di Indonesia dalam sehari, Selasa, 20 Oktober 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 78,55 hektare lahan terbakar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, berdasarkan laporan kejadian hingga Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB.

Luas kebakaran terbesar terjadi di puncak Gunung Ranindi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dengan area terdampak mencapai 60 hektare. Sementara itu, kebakaran di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, menghanguskan 10 hektare lahan, disusul Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, seluas empat hektare.

Dua kejadian lainnya dilaporkan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dengan luas kebakaran 2,55 hektare, serta Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang menghanguskan dua hektare lahan.

Berdasarkan data tersebut, total luas lahan yang terbakar dalam lima kejadian mencapai 78,55 hektare. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian karhutla di Sinjai dan Tojo Una-Una. Informasi mengenai korban jiwa dalam tiga kejadian lainnya belum dirinci dalam laporan yang tersedia.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan BNPB menghimpun laporan itu melalui Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops).

Data kejadian menunjukkan kebakaran terjadi di sejumlah kawasan dengan karakteristik berbeda, mulai dari lahan di permukiman pedesaan hingga kawasan lereng gunung dan wilayah pengelolaan hutan.

Kebakaran Meluas di Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar dalam rangkaian kejadian tersebut. Dua kebakaran dilaporkan terjadi di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Tojo Una-Una pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Kebakaran di Kabupaten Sigi terjadi di puncak Gunung Ranindi sekitar pukul 12.00 WITA. Api membakar lahan seluas 60 hektare di kawasan yang secara administratif disebut berada di Kecamatan Palopo, Kabupaten Sigi.

Laporan awal menyebutkan kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang mengelola pohon damar. Meski demikian, dugaan tersebut masih perlu dibedakan dari penyebab kebakaran yang telah dipastikan melalui pemeriksaan di lapangan.

BPBD Kabupaten Sigi bersama tim gabungan segera melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi area terdampak sekaligus mendukung upaya pemadaman. Petugas juga melakukan penyekatan agar api tidak semakin meluas ke area di sekitarnya.

Penanganan kebakaran menghadapi kendala berupa kondisi medan yang sulit dijangkau. Situasi tersebut menjadi tantangan bagi petugas dalam mencapai titik api dan melakukan pemadaman secara menyeluruh.

Luas lahan yang terbakar membuat kejadian di Gunung Ranindi menjadi penyumbang terbesar terhadap total area karhutla yang tercatat BNPB dalam periode pelaporan tersebut.

Di Kabupaten Tojo Una-Una, kebakaran terjadi di Desa Uekuli, Kecamatan Tojo, sekitar pukul 13.30 WITA. Api melalap lahan seluas 10 hektare, tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.

BPBD Kabupaten Tojo Una-Una mengerahkan satu unit mobil tangki bersama personel untuk mendukung penanganan kebakaran. Petugas juga melakukan asesmen guna mengetahui kondisi lapangan dan kebutuhan penanganan lanjutan.

Koordinasi dilakukan bersama pemerintah desa dan kecamatan setempat untuk mendukung upaya pemadaman.

Dua kejadian di Sulawesi Tengah itu mencatat total luas kebakaran mencapai 70 hektare. Angka tersebut mencakup sebagian besar dari keseluruhan 78,55 hektare lahan yang terbakar dalam lima kejadian yang dilaporkan.

Empat Hektare Lahan Terbakar di Sinjai

Di Sulawesi Selatan, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Dusun Bonto Sunggu, Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Selasa, 20 Oktober 2026.

Kebakaran dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 11.30 WITA. Api membakar lahan seluas empat hektare di wilayah tersebut, tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kejadian itu.

BPBD Kabupaten Sinjai bersama tim gabungan segera bergerak untuk melakukan pemadaman. Petugas berupaya mengendalikan api agar tidak menjalar ke bagian lahan lainnya.

Penanganan berlangsung selama beberapa jam hingga api berhasil dipadamkan pada pukul 15.45 WITA di hari yang sama. Setelah pemadaman, petugas perlu memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Kebakaran Merembet di Lereng Gunung Merbabu

Di Jawa Tengah, kebakaran melanda kawasan lereng Gunung Merbabu yang berada di Kabupaten Boyolali pada Selasa, 20 Oktober 2026, sekitar pukul 09.30 WIB.

Area terdampak meliputi Desa Jelok di Kecamatan Boyolali, Desa Ngagrong di Kecamatan Gladagsari, serta Kelurahan Kemiri di Kecamatan Mojosongo.

Laporan BNPB mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 2,55 hektare. Informasi yang tersedia belum merinci penyebab kebakaran maupun perkembangan terakhir kondisi seluruh titik terdampak.

BPBD Kabupaten Boyolali melakukan kaji cepat untuk mengetahui kondisi lokasi dan kebutuhan penanganan. Koordinasi juga dilakukan bersama instansi terkait, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa setempat.

Relawan serta masyarakat turut dikerahkan untuk membantu proses pemadaman. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan dan membatasi penyebaran api di kawasan lereng gunung.

Kawasan lereng gunung memiliki kondisi medan yang dapat menyulitkan pergerakan petugas, bergantung pada akses menuju lokasi.

Api di Mojokerto Berhasil Dipadamkan

Kebakaran lahan juga terjadi di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa, 20 Oktober 2026, sekitar pukul 14.00 WIB.

Api membakar lahan seluas dua hektare di Petak 5A RPH Kemloko, BKPH Pacet, KPH Pasuruan. Lokasi tersebut secara administratif berada di Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Setelah menerima laporan kejadian, BPBD Kabupaten Mojokerto berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur dan Perhutani untuk melakukan penanganan.

Petugas melakukan upaya pemadaman hingga api berhasil dikendalikan pada pukul 15.45 WIB di hari yang sama. Penanganan kemudian dilanjutkan dengan proses pendinginan pada area terdampak.

Pendinginan dilakukan untuk mengurangi kemungkinan munculnya kembali api dari sisa bara atau bagian lahan yang masih menyimpan panas.

Dengan keberhasilan pemadaman tersebut, kebakaran di Mojokerto menambah dua hektare area terdampak dalam catatan kejadian BNPB pada periode tersebut.

BNPB Imbau Warga Tidak Membakar Lahan

Rangkaian kebakaran di empat provinsi tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Penanganan tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas memadamkan api, tetapi juga pada upaya masyarakat mencegah munculnya sumber kebakaran.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana selama musim kemarau. Ancaman yang perlu diantisipasi meliputi kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang dapat memengaruhi ketersediaan air bersih.

Pemerintah daerah diharapkan memperkuat kesiapsiagaan, memastikan ketersediaan air bersih, dan mengoptimalkan langkah mitigasi. Upaya tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko bencana serta membantu masyarakat menghadapi dampak yang mungkin muncul.

Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membakar lahan untuk membuka atau membersihkan area.

“Jangan membakar lahan atau membuang puntung rokok sembarangan. Jika menemukan titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sebelum kebakaran meluas,” katanya dalam keterangannya.

Selain mencegah kebakaran, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak karhutla diminta menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi paparan asap dan partikel yang dapat mengganggu kesehatan.

Apabila menemukan titik api, indikasi kebakaran, atau kondisi darurat lainnya, masyarakat dapat menghubungi pusat panggilan BNPB melalui nomor 117 atau melapor kepada BPBD di daerah masing-masing.(*)