Journalis Independent, MAKASSAR – Peta persaingan menuju kursi Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan mulai mengerucut menjelang Musyawarah Daerah (Musda) V yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Oktober 2026.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, kini berada di posisi terdepan setelah mengantongi dukungan dari 24 Dewan Pengurus Cabang (DPC) Demokrat se-Sulawesi Selatan.
Dukungan yang terkonsolidasi dari tingkat kabupaten dan kota tersebut membuka peluang besar bagi Munafri, yang akrab disapa Appi, untuk memimpin partai berlambang mercy itu selama lima tahun ke depan.
Bahkan, ia berpeluang menjadi calon tunggal dan memenangkan pemilihan melalui mekanisme aklamasi.
Namun, dukungan mayoritas di daerah belum otomatis memastikan jabatan tersebut berada di tangannya. Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demokrat tetap menjadi bagian penting dalam proses penentuan ketua di tingkat provinsi.
Ketua DPC Demokrat Parepare, Rahmat Sjamsu Alam, mengatakan dukungan terhadap Munafri tidak hanya datang dari 24 DPC, tetapi juga organisasi sayap partai.
“Sudah 24 dukungan DPC ditambah dengan sayap. Jadi, 25 semua, bulat dukung Pak Appi,” kata Rahmat, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurut Rahmat, konsolidasi tersebut memperlihatkan kesamaan sikap kader Demokrat di Sulawesi Selatan dalam mendorong Munafri memimpin kepengurusan tingkat provinsi. Kondisi itu sekaligus memperbesar kemungkinan Musda V berlangsung tanpa persaingan ketat antarkandidat.
“Peluangnya aklamasi,” ujarnya.
Menguatnya posisi Munafri terlihat ketika puluhan pengurus cabang mengantarnya mengembalikan formulir pendaftaran calon Ketua DPD Demokrat Sulsel, Minggu, 18 Oktober 2026.
Rombongan tersebut bergerak dari Hotel Aryaduta menuju sekretariat Demokrat di Jalan Mirah Seruni, Makassar. Kedatangan Munafri diterima Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah, bersama Sekretaris DPD Demokrat Sulsel, Haedar Majid.
Perwakilan Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (BPOKK) DPP Demokrat, Juntak, serta jajaran panitia pengarah dan pengurus daerah juga hadir dalam agenda tersebut.
Kehadiran 24 DPC dalam pengembalian formulir menjadi gambaran dukungan yang telah dibangun Munafri menjelang pelaksanaan musyawarah.
Dengan dukungan tersebut, persaingan untuk memperebutkan posisi ketua diperkirakan semakin mengarah pada penentuan akhir melalui mekanisme internal partai.
Meski demikian, proses pendaftaran dan pengumpulan dukungan belum dapat disamakan dengan keputusan resmi pengangkatan ketua. Munafri masih harus melewati tahapan Musda dan memperoleh keputusan sesuai mekanisme organisasi Demokrat.
Pernah Jadi Pengurus Demokrat Sulsel
Bagi Rahmat, masuknya Munafri dalam bursa kepemimpinan Demokrat Sulsel bukan sekadar kehadiran tokoh politik dari luar struktur partai. Ia menyebut Wali Kota Makassar tersebut pernah menjadi bagian dari kepengurusan Demokrat di tingkat provinsi.
Munafri tercatat dilantik sebagai Ketua Biro Perlengkapan DPD Demokrat Sulsel pada Januari 2011. Rahmat mengaku mengetahui perjalanan tersebut karena dirinya juga dilantik sebagai pengurus DPD Demokrat pada periode yang sama.
“Pak Appi kembali ke rumah besar Demokrat,” kata Rahmat.
Pernyataan itu menjadi salah satu dasar bagi Rahmat dalam melihat pencalonan Munafri sebagai momentum konsolidasi internal.
Pengalaman sebelumnya di tubuh partai dinilai dapat menjadi modal untuk membangun kembali hubungan antarkader sekaligus memperkuat organisasi di Sulawesi Selatan.
Rahmat berharap kepemimpinan Munafri nantinya tidak hanya berorientasi pada pergantian figur di tingkat provinsi.
Ia menginginkan perubahan kepemimpinan tersebut mampu membawa dampak terhadap penguatan struktur partai hingga tingkat daerah.
“Paling penting, Demokrat bisa kembali mengangkat kebesarannya di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Harapan itu muncul di tengah upaya partai mempertahankan dan memperluas pengaruh politiknya di berbagai wilayah.
Dukungan dari DPC menjadi modal awal, tetapi efektivitas kepemimpinan nantinya juga akan ditentukan oleh kemampuan membangun kerja sama dengan kader dan menyusun strategi politik yang sesuai dengan kondisi setiap daerah.
Keputusan DPP Jadi Penentu
Peluang Munafri menuju kursi Ketua DPD Demokrat Sulsel juga perlu dilihat dari pengalaman Musda sebelumnya.
Dalam kontestasi lima tahun lalu, perebutan kepemimpinan berlangsung antara Ilham Arief Sirajuddin dan Ni’matullah.
Pada pemungutan suara ketika itu, Ilham Arief Sirajuddin memperoleh 16 suara DPC, sedangkan Ni’matullah meraih sembilan suara, terdiri atas delapan suara DPC dan satu suara DPD. DPP Demokrat mengambil posisi abstain dalam pemungutan suara tersebut.
Meski kalah dalam perolehan suara di tingkat musyawarah, Ni’matullah akhirnya dipilih oleh Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, untuk memimpin DPD Demokrat Sulsel.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa besarnya dukungan dari pengurus daerah tidak selalu menjadi satu-satunya faktor yang menentukan hasil akhir.
Keputusan pimpinan pusat tetap memiliki peran strategis dalam proses penetapan ketua.
Karena itu, dukungan 24 DPC terhadap Munafri belum dapat dimaknai sebagai kepastian bahwa ia akan langsung menduduki jabatan tersebut.
Restu DPP dan tahapan organisasi yang berlaku masih menjadi bagian dari proses yang harus dilalui.
Musda V Demokrat Sulsel pada 23 Oktober 2026 akan menjadi momentum penting untuk melihat apakah konsolidasi dukungan yang telah terbentuk benar-benar berujung pada aklamasi.
Jika skenario tersebut terwujud, Munafri berpeluang memulai kepemimpinan baru dengan dukungan kuat dari struktur partai di daerah.
Sebaliknya, keputusan akhir tetap bergantung pada dinamika musyawarah dan mekanisme penentuan kepemimpinan yang berlaku di tubuh Demokrat.
Dengan waktu pelaksanaan Musda yang semakin dekat, perhatian kini tertuju pada langkah DPP Demokrat dan hasil akhir proses pemilihan.
Dukungan mayoritas telah menjadi modal besar bagi Munafri, tetapi kepastian kepemimpinannya baru akan terlihat setelah seluruh tahapan organisasi diselesaikan. (*)






