IHSG Menguat, Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS dan Arah The Fed

Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

JAKARTA โ€“ Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Kamis dengan penguatan. Namun, kenaikan tersebut berlangsung ketika investor masih menghadapi sejumlah sentimen penting, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

IHSG dibuka naik 37,05 poin atau 0,56 persen ke level 6.632,83. Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin melalui indeks LQ45, yang bertambah 3,30 poin atau 0,51 persen ke posisi 655,17.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan ruang penguatan IHSG masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas level tertentu.

โ€œSelama IHSG mampu bertahan di atas area 6.510, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.635 dan peluang tutup area gap di level 6.733, next area gap di level 6.858,โ€ ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, kondisi pasar tetap perlu dicermati karena IHSG juga berpotensi mengalami aksi ambil untung. Jika tekanan tersebut terjadi, indeks berpeluang kembali menguji level support 6.551, 6.510, hingga 6.454.

Dari luar negeri, perhatian investor tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk fasilitas pertahanan udara, radar, dan komunikasi.

Iran kemudian dilaporkan membalas dengan serangan rudal balistik terhadap pangkalan Marinir AS di Yordania. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan serta potensi gangguan jalur perdagangan energi strategis di Selat Hormuz.

Tekanan geopolitik tersebut ikut membuat investor mencermati pergerakan harga energi dan dampaknya terhadap inflasi. Pada saat yang sama, kenaikan yield obligasi pemerintah di sejumlah negara kembali memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga global dapat bertahan tinggi lebih lama.

โ€œPasar semakin bergantung pada perkembangan data ekonomi, terutama laporan tenaga kerja dan inflasi, dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya,โ€ kata Liza.

Dari Amerika Serikat, data ekonomi yang beragam turut membuat investor bersikap hati-hati. ADP Employment Change mencatat sektor swasta AS hanya menambah 38.000 tenaga kerja pada Agustus 2026, di bawah ekspektasi 47.000. Angka tersebut menjadi laju penciptaan lapangan kerja paling lambat sejak Januari 2026.

Di sisi lain, pesanan baru barang manufaktur pada Juli 2026 meningkat 0,9 persen secara bulanan menjadi 663,6 miliar dolar AS. Angka tersebut melampaui perkiraan kenaikan 0,7 persen. Beige Book The Fed juga menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat secara moderat di sebagian besar wilayah.

Pasar kini menunggu laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis Jumat (4/9). Data tersebut dipandang penting untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja sekaligus memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed.

โ€œInvestor kini akan memusatkan perhatian pada data Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk Agustus yang akan dirilis Jumat (04/09), sebagai petunjuk penting terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter The Fed,โ€ ujar Liza.

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kesepakatan pemerintah dan Komisi XI DPR mengenai asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2027. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS, serta yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen.

Selain itu, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan 6,0-6,5 persen, tingkat pengangguran terbuka 4,30-4,87 persen, penciptaan 2,57-3,49 juta lapangan kerja baru, serta GNI per kapita sebesar 5.800-5.840 dolar AS.

Liza menilai target pertumbuhan 6 persen menunjukkan ambisi pemerintah untuk mendorong perekonomian Indonesia keluar dari pola pertumbuhan sekitar 5 persen. Namun, pencapaiannya masih menghadapi tantangan setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, melambat dari 5,61 persen pada kuartal sebelumnya.

โ€œAkselerasi pertumbuhan membutuhkan peningkatan investasi produktif, kapasitas produksi, produktivitas, serta peran sektor swasta agar target tersebut dapat tercapai secara berkelanjutan,โ€ ujar Liza.

Pergerakan bursa global juga menjadi bagian dari perhatian investor. Bursa Eropa pada Rabu (2/9) bergerak melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 0,10 persen, FTSE 100 Inggris 0,30 persen, DAX Jerman 0,50 persen, dan CAC 40 Prancis 0,26 persen.

Sementara itu, sejumlah indeks Wall Street bergerak menguat pada perdagangan yang sama. Nasdaq Composite naik 0,45 persen ke 26.217,83 dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,56 persen ke 53.061,95. Indeks S&P 500 tercatat di level 7.666,60.

Di kawasan Asia, penguatan juga terlihat pada sejumlah bursa. Nikkei naik 0,08 persen ke 64.382,00, Shanghai menguat 0,43 persen ke 3.958,4, Kospi naik 0,92 persen ke 6.622,28, Hang Seng bertambah 0,56 persen ke 25.453,00, dan Straits Times menguat 0,47 persen ke 5.771,08.

Dengan beragam sentimen tersebut, arah IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi kemampuan indeks mempertahankan level teknikal penting sekaligus respons investor terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik. (*)

Sponsored ยท Ar Media Kreatif

Mau Punya Media Online Sendiri?

Bangun brand medianya sekarang bersama Ar Media Kreatif. Profesional sejak 2018. Ratusan media online telah kami bantu wujudkan!

Konsultasi Gratis