Journalist Independent, JAKARTA – Persaingan mendapatkan kekuasaan politik kembali menjadi sorotan setelah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kegelisahannya mengenai kondisi demokrasi di Indonesia.
SBY menilai praktik politik belakangan ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Ambisi merebut kekuasaan, menurut dia, seolah membuat sebagian pihak tidak lagi mempertimbangkan batas moral, etika, maupun kepatutan.
Kegelisahan itu disampaikan SBY melalui akun X pribadinya, @SBYudhoyono. Ia mempertanyakan arah kehidupan politik nasional yang dinilainya semakin jauh dari prinsip keadaban.
“Kok jadi begini negara kita. Kok begini liar politik kita,” tulis SBY.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena disampaikan langsung oleh mantan kepala negara yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode, yakni 2004-2014.
SBY menyoroti kecenderungan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama, sementara cara untuk mendapatkannya seolah tidak lagi menjadi persoalan. Padahal, menurut dia, politik semestinya tetap memiliki batas yang tidak boleh dilanggar.
Dalam unggahannya, SBY menggambarkan situasi ketika kepentingan memperoleh kekuasaan lebih diutamakan daripada pertimbangan baik dan buruk.
“Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan, cara apa pun dibenarkan. Tidak peduli baik atau buruk, bermoral atau tidak bermoral,” lanjutnya.
Kritik tersebut sekaligus memperlihatkan kekhawatiran SBY terhadap masa depan kehidupan demokrasi Indonesia. Jika persaingan politik terus berlangsung tanpa mengindahkan etika, masyarakat berpotensi menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
SBY Minta Prabowo Kembalikan Politik yang Berkeadaban
Di tengah kegelisahan tersebut, SBY secara khusus menyampaikan permohonan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap pemimpin Indonesia saat ini mengambil peran untuk memperbaiki arah praktik politik nasional.
SBY meminta Prabowo tidak membiarkan politik berkembang menjadi arena perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Sebaliknya, ia ingin nilai moral, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama kembali menjadi landasan dalam kehidupan bernegara.
“Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai negeri ini, saya bermohon kepada Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali politik yang berkeadaban,” tulisnya.
Permintaan tersebut bukan sekadar persoalan menjaga kesantunan dalam perdebatan politik. Politik berkeadaban juga menyangkut bagaimana kekuasaan diperoleh, digunakan, dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
SBY mengingatkan bahwa perebutan kekuasaan tanpa batas etika dapat menciptakan suasana yang tidak sehat. Rakyat seharusnya mendapatkan ketenteraman dalam kehidupan berbangsa, bukan justru diliputi ketakutan akibat konflik kepentingan politik.
Ia juga menempatkan harapannya kepada Prabowo sebagai sebuah tanggung jawab besar yang melekat pada kepemimpinan nasional.
Menurut SBY, menghidupkan kembali politik berkeadaban merupakan panggilan sejarah sekaligus amanah rakyat yang harus diperjuangkan.
“Ini panggilan sejarah. Ini amanah rakyat,” tegasnya.
SBY kemudian menyampaikan harapan agar Prabowo mendapatkan kekuatan dan tuntunan dalam menjalankan tugas tersebut.
Pesan terbuka ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan politik tidak semestinya hanya diukur dari siapa yang berkuasa, tetapi juga dari cara kekuasaan dijalankan dengan menjunjung moralitas, demokrasi, dan kepentingan rakyat. (*)






