Journalist Independent.com, MAKASSAR – Sebanyak 44 ribu siswa kini mengenyam pendidikan di 182 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Program yang digagas pemerintah untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu ini telah berjalan selama satu tahun.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, Sekolah Rakyat tidak sekadar menghadirkan ruang belajar. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan antargenerasi agar anak-anak memiliki kesempatan memperbaiki masa depan mereka.
Hal itu disampaikan Gus Ipul saat memperingati satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.
“Di Sekolah Rakyat, ketiga pasal itu bertemu dalam satu tubuh: seorang anak,” kata Gus Ipul, merujuk pada Pasal 31, Pasal 34 ayat (1), dan Pasal 33 UUD 1945.
Menurut dia, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan pengelolaan perekonomian untuk kemakmuran rakyat menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Ketiganya diwujudkan melalui pendampingan terhadap anak-anak yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan.
Gus Ipul menegaskan, program tersebut berangkat dari gagasan Presiden Prabowo Subianto bahwa kemiskinan tidak boleh diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu harus jadi tukang becak,” ujarnya mengutip arahan Presiden.
Menjangkau anak hingga ke rumah
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, penerimaan siswa Sekolah Rakyat dilakukan melalui penjangkauan langsung. Pemerintah tidak hanya menunggu anak mendaftar, tetapi mendatangi keluarga yang dinilai membutuhkan akses pendidikan.
Pendamping sosial menyisir keluarga kurang mampu berdasarkan data di 497 kabupaten/kota. Dari proses penjangkauan tersebut, pemerintah menemukan lebih dari 180 ribu anak usia sekolah ternyata telah bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan gedung sekolah. Tekanan ekonomi juga membuat sebagian anak harus membantu orang tua, bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan.
Karena itu, Sekolah Rakyat dirancang untuk memberi kesempatan kepada anak-anak tersebut agar kembali mendapatkan hak pendidikan dan menjalani proses belajar dengan pendampingan yang lebih menyeluruh.
Setelah dijangkau, siswa menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan psikologis, matrikulasi, serta pemetaan bakat melalui program Talent DNA.
Dari 11 ribu anak yang telah mengikuti pemetaan bakat, empat dari setiap 10 anak diketahui memiliki potensi kuat di bidang sains dan teknologi.
Gus Ipul mengatakan, kesempatan belajar dapat membantu anak-anak membangun kepercayaan diri sekaligus mengenali kemampuan yang mereka miliki.
“Bagi kami, kebanggaan itu sederhana, ketika mereka tampil dengan percaya diri, kembali bisa membaca, kembali mengenal bangku sekolah,” katanya.
93 sekolah permanen sudah beroperasi
Dalam satu tahun pelaksanaan, Sekolah Rakyat berkembang menjadi 182 titik, terdiri atas 100 titik sekolah permanen dan 82 Sekolah Rakyat rintisan.
Dari 100 titik sekolah permanen tersebut, sebanyak 93 sudah beroperasi, sedangkan tujuh lainnya masih dalam proses pembangunan.
Kemensos terus mendorong penyelesaian pembangunan agar semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu dapat mengakses pendidikan melalui program tersebut.
Secara keseluruhan, sekitar 44 ribu siswa kini tercatat belajar di Sekolah Rakyat. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan pengasuhan didukung hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, serta lebih dari 2.000 wali asrama.
Pendekatan pendidikan yang diterapkan tidak hanya menitikberatkan pada capaian akademik. Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kesehatan fisik, pemenuhan gizi, pembentukan karakter, dan peningkatan kepercayaan diri siswa.
Gus Ipul mengapresiasi para guru dan tenaga kependidikan yang mendampingi siswa selama menjalani pendidikan, termasuk mereka yang tinggal di asrama.
“Mereka bukan sekadar pendidik dan pengasuh. Mereka adalah ayah dan ibu kedua bagi anak-anak,” tuturnya.
Siswa raih prestasi hingga tingkat internasional
Meski baru berjalan satu tahun, siswa Sekolah Rakyat telah mencatatkan sejumlah prestasi di berbagai bidang.
Kemensos mencatat 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi nasional. Selain itu, lebih dari 1.100 siswa meraih prestasi di bidang olahraga, seni, dan sains.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan siswa yang memperoleh kesempatan belajar melalui program ini.
Pemerintah juga mulai menyiapkan kelanjutan pendidikan dan pekerjaan bagi lulusan Sekolah Rakyat. Dari lulusan tingkat SMA tahun ini, tujuh siswa diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa penuh, sementara lima siswa lainnya telah memperoleh pekerjaan sesuai minat dan bakat.
Dengan demikian, pendampingan yang diberikan tidak berhenti ketika siswa menyelesaikan pendidikan di sekolah. Pemerintah juga berupaya memastikan mereka memiliki jalan untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja.
Orang tua siswa mendapat bantuan usaha
Upaya memutus rantai kemiskinan, menurut Gus Ipul, tidak cukup dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada anak. Kondisi keluarga juga perlu diperbaiki agar mereka dapat mendukung proses belajar dan masa depan anak-anaknya.
Karena itu, Kemensos turut menjalankan program pemberdayaan bagi keluarga siswa Sekolah Rakyat.
Kemensos mencatat seluruh keluarga siswa dipastikan menerima bantuan sosial. Selain itu, lebih dari 10 ribu rumah orang tua siswa telah mendapatkan bantuan perbaikan melalui program bedah rumah.
Lebih dari 11 ribu orang tua juga menerima bantuan modal usaha, sedangkan lebih dari 9.000 orang tua mendapatkan layanan rehabilitasi sosial melalui program ATENSI.
Pemberian bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kondisi ekonomi keluarga sehingga anak-anak memiliki lingkungan yang lebih mendukung untuk belajar.
Pemprov Sulsel dukung Sekolah Rakyat
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan kementerian/lembaga yang terlibat dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Ia menyatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan terus mendukung program tersebut, termasuk pembangunan fasilitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sudirman juga menilai Sekolah Rakyat memiliki nilai tersendiri karena memberikan kesempatan kepada anak-anak yang menghadapi keterbatasan untuk mengembangkan kemampuan mereka.
“Kami apresiasi menghidupkan kembali Sekolah Rakyat. Bapak saya adalah alumni Sekolah Rakyat. Tidak banyak pemimpin di daerah dan nasional yang berpikir anak-anak yang memiliki kemampuan terbatas dan di bawah rata-rata,” paparnya.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo beserta jajaran yang telah menginisiasi dan menjalankan program tersebut demi menyiapkan generasi penerus bangsa.
Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat mengusung tema “Satu Indonesia, Sejuta Cita-Cita”. Sekitar 7.000 peserta hadir langsung di GOR Sudiang, mulai dari siswa, orang tua, kepala sekolah, guru, tenaga pendidik hingga unsur pendamping sosial Kemensos. Puluhan ribu peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari Sekolah Rakyat dan sentra Kemensos di berbagai daerah.
Sebanyak 741 siswa dari berbagai penjuru Indonesia turut memeriahkan kegiatan melalui penampilan tarian tradisional, karate, pencak silat, pramuka, baris variasi, drama teatrikal, pembacaan puisi, hingga pembacaan teks Sumpah Pemuda.
Turut hadir Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Ketua Ombudsman RI Nuzran Joher, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan, serta sejumlah pejabat kementerian dan tokoh lainnya. (Iz)





