Gempa M5,1 Guncang Banten, BMKG Ungkap Aktivitas Subduksi Indo-Australia

Gempa bumi.
Ilustrasi: gempa bumi.

JAKARTA โ€” Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Banten pada Jumat, 18 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia.

Berdasarkan pemutakhiran data BMKG, gempa berpusat di laut pada koordinat 8,66 Lintang Selatan (LS) dan 105,67 Bujur Timur (BT). Pusat gempa berada pada kedalaman 33 kilometer.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan analisis lokasi episenter dan kedalaman hiposenter menunjukkan gempa tersebut tergolong dangkal.

โ€œDengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia,โ€ kata Wijayanto dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).

Gempa Memiliki Mekanisme Oblique Thrust Fault

Selain menganalisis lokasi dan kedalaman gempa, BMKG memeriksa mekanisme sumber untuk mengetahui karakter pergerakan yang memicu gempa.

Hasil analisis menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik atau oblique thrust fault. Mekanisme tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik pada zona pertemuan lempeng.

BMKG kemudian memetakan dampak guncangan berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala ini menggambarkan tingkat kekuatan getaran yang dirasakan masyarakat di suatu wilayah.

Semakin tinggi angka MMI, semakin kuat guncangan yang dirasakan. Untuk gempa M5,1 tersebut, BMKG mencatat intensitas mencapai II MMI di Cianjur dan Sukabumi.

โ€œBerdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas II MMI, yakni getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang, di Cianjur, Sukabumi,โ€ jelas Wijayanto.

BMKG Pastikan Gempa Tidak Berpotensi Tsunami

Meski berpusat di laut, BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.

BMKG juga belum mencatat adanya gempa susulan hingga pukul 22.00 WIB. Pemantauan tetap berlangsung untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas kegempaan setelah gempa utama.

โ€œHingga pukul 22:00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock),โ€ ujar Wijayanto.

BMKG akan terus memantau aktivitas gempa dan menyampaikan informasi terbaru kepada pemangku kepentingan serta masyarakat jika terjadi perubahan kondisi.

Masyarakat diminta tetap tenang dan mengandalkan informasi resmi BMKG dalam menyikapi perkembangan gempa tersebut. (*)