MAKASSAR โ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir, longsor, serta gelombang laut tinggi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).
Peringatan ini didasarkan pada prediksi berbasis dampak Indonesia Flood & Landslide Early Warning System (InaFLEWS). BMKG menyebutkan, potensi banjir dan longsor diperkirakan berlangsung hingga 22 Januari 2026, sementara ancaman gelombang laut tinggi berlanjut hingga 23 Januari 2026.
BMKG mencatat, pada 20 Januari, wilayah yang berpotensi terdampak banjir meliputi Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Maros, Pangkep, dan Takalar. Potensi tersebut meluas pada 21 Januari mencakup Barru, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, dan Takalar. Sedangkan pada 22 Januari, ancaman banjir kembali mengintai Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, dan Takalar.
Selain banjir dan longsor, BMKG juga mengingatkan potensi gelombang laut tinggi di sejumlah perairan Sulsel. Kondisi ini dipicu oleh bibit siklon tropis 975 yang terpantau di perairan utara Australia, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot dan tekanan udara minimum 1001 hPa.
Dampak sistem tersebut menyebabkan peningkatan kecepatan angin hingga lebih dari 25 knot di perairan Sulawesi. Pola angin di wilayah Sulsel umumnya bertiup dari Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar 5โ35 knot, yang berkontribusi terhadap peningkatan tinggi gelombang laut.
BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang setinggi 1,25โ2,5 meter di perairan Pinrang, Pangkep, Bulukumba, Takabonerate, Wajo, Luwu Utara, Barru, Makassar, Selayar, Sinjai, dan Luwu.
Sementara itu, gelombang lebih tinggi dengan ketinggian 2,5โ4 meter berpotensi terjadi di perairan Jeneponto dan Kepulauan Takabonerate.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah rawan bencana serta pengguna jasa pelayaran, agar meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau informasi cuaca terkini.
Tidak hanya itu, BMKG juga mengimbau seluruh pengguna jasa kelautan dan pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan. Kondisi gelombang tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya bagi perahu nelayan saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter.
Selain itu, kapal tongkang berisiko terdampak pada kecepatan angin 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter, sedangkan kapal feri perlu mewaspadai kondisi saat angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
BMKG meminta masyarakat pesisir, nelayan, dan operator pelayaran untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca maritim terkini serta menunda pelayaran jika kondisi dinilai tidak aman. (*)
Hai pembaca setia! Temukan solusi media online Anda di 





