NEWS  

Unhas Beberkan Kronologi Demo Mahasiswa Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Berujung Ricuh

Journalist Independent
Suasana kericuhan di Kawasan Universitas Hasanuddin (Unhas), Tamalanrea, Makassar. (Ist)
Suasana kericuhan di Kawasan Universitas Hasanuddin (Unhas), Tamalanrea, Makassar. (Ist)

Journalist Independent, MAKASSAR – Pihak kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) membeberkan kronologi aksi unjuk rasa mahasiswa mahasiswa dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berakhir ricuh pada Kamis, 22 Oktober 2026 malam.

Diketahui, kericuhan terjadi di Pintu 1 kampus Unhas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Dalam peristiwa tersebut, sebuah sepeda motor listrik milik kampus dilaporkan turut terbakar.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Unhas, Ishaq Rahman, menceritakan kericuhan bermula ketika petugas keamanan kampus berupaya membubarkan kelompok massa yang terlibat dalam aksi tersebut.

“Ketika kelompok massa ini akan diminta membubarkan diri, mereka menyerang balik petugas kemanan kampus,” kata Ishak

Menurut Ishaq, serangan tersebut menyebabkan seorang petugas keamanan kampus mengalami penganiayaan. Petugas itu diketahui tinggal di Kampung Kera-kera, yang berada di sekitar lingkungan kampus Unhas.

“Ada salah seorang petugas keamanan yang sempat dianiaya oleh kelompok massa. Kebetulan petugas keamanan ini tinggal di Kampung Kera-kera samping kampus,” ujarnya.

Informasi mengenai penganiayaan tersebut kemudian sampai kepada keluarga korban. Mereka yang tidak terima atas kejadian itu mendatangi kampus untuk mencari orang-orang yang diduga terlibat.

Kemudian keluarga petugas keamanan tersebut datang dan membuat situasi semakin tidak terkendali. Kelompok massa yang sebelumnya terlibat bentrokan kemudian melarikan diri ke dalam area kampus, termasuk ke depan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).

“Keluarganya yang mendengar petugas ini dianiaya oleh massa, ramai-ramai datang ke kampus, mencari pelaku. Kelompok massa ini melarikan diri ke dalam kampus, termasuk ke depan PKM,” bebernya.

Ishaq menegaskan, orang-orang yang datang setelah mendengar kabar penganiayaan tersebut merupakan keluarga petugas keamanan kampus, bukan kelompok preman.

“Jadi ini bukan preman, tapi keluarga dari petugas keamanan kampus yang dianiaya oleh massa,” sebutnya.

Ia mengakui situasi yang berkembang saat kejadian membuat pengendalian keamanan menjadi sulit. Pihak kampus, kata dia, telah berupaya meminta petugas keamanan menahan diri agar kericuhan tidak semakin meluas.

Namun, keluarga petugas keamanan yang merasa tidak terima atas penganiayaan tersebut diduga mengambil tindakan sendiri.

“Dalam suasana chaos seperti tadi, memang selalu ada hal-hal di luar kendali. Kita berusaha mengendalikan petugas keamanan kampus agar menahan diri. Tapi rupanya keluarganya yang tidak terima dan mengmbil tindakan sendiri,” jelasnya.

Unhas Tidak Halangi Mahasiswa Lapor Polisi

Terkait kericuhan tersebut, Ishaq menyatakan pihak Unhas tidak akan menghalangi mahasiswa yang dianiaya apabila ingin menempuh jalur hukum dengan membuat laporan polisi.

Ia juga menyebut pihak kampus berupaya mengendalikan situasi agar aparat keamanan dari luar tidak perlu masuk ke lingkungan universitas.

“Humas tidak akan menhalangi apabila mahasiswa buat LP terkait kejadian tersebut. Satu hal yang juga perlu menjadi perhatian, kali ini kita berusaha semaksimal mungkin agar aparat keamanan tidak masuk kampus,” tuturnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah insiden yang melibatkan kelompok massa, petugas keamanan kampus, dan keluarga petugas yang diduga menjadi korban penganiayaan.

Meski pihak kampus telah menyampaikan kronologi awal, sejumlah hal masih perlu dipastikan, termasuk identitas orang-orang yang terlibat dalam bentrokan dan pihak yang bertanggung jawab atas terbakarnya sepeda motor listrik.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan kendaraan tersebut terbakar di sekitar lokasi kejadian. Dalam video yang sama, sejumlah orang berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah juga terlihat berada di sekitar kendaraan.

Namun, keberadaan mereka dalam rekaman belum dapat memastikan keterlibatan dalam kebakaran maupun pemicu kericuhan. Penyebab pasti terbakarnya kendaraan tersebut juga belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan video yang beredar.

Karena itu, pengungkapan kejadian secara menyeluruh memerlukan pemeriksaan terhadap saksi dan bukti yang tersedia. Langkah tersebut penting untuk memastikan rangkaian peristiwa serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas dugaan kekerasan maupun kerusakan yang terjadi.

Mahasiswa Bawa Sembilan Tuntutan

Sebelum kericuhan terjadi, ratusan mahasiswa Unhas yang mengenakan almamater merah berkumpul di kawasan Pintu 1 kampus untuk mengikuti aksi unjuk rasa bertajuk Red Card atau kartu merah terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.

Demonstrasi tersebut digelar untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Melalui aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan persoalan yang dinilai belum terselesaikan selama dua tahun pemerintahan berjalan.

Dalam demonstrasi itu, mahasiswa membawa sembilan tuntutan yang mencakup berbagai persoalan nasional, mulai dari konflik agraria, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penanganan bencana, kebebasan demokrasi, hingga kebijakan pendidikan.

Isu konflik agraria menjadi salah satu persoalan yang disuarakan mahasiswa. Persoalan ini berkaitan dengan konflik penguasaan lahan, hak masyarakat atas tanah, serta penyelesaian sengketa yang membutuhkan penanganan pemerintah.

Mahasiswa juga menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan serta penanganan bencana. Kedua isu tersebut berkaitan dengan kesiapsiagaan pemerintah, upaya pencegahan, penanganan dampak, dan perlindungan masyarakat yang terdampak.

Selain itu, kebebasan demokrasi menjadi bagian dari tuntutan yang dibawa dalam aksi Red Card. Mahasiswa menggunakan demonstrasi sebagai sarana menyampaikan kritik dan mengevaluasi kebijakan pemerintah.

Di sektor pendidikan, mahasiswa turut menyuarakan persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap layanan serta kualitas pembelajaran.

Sembilan tuntutan tersebut menjadi dasar mahasiswa menggelar aksi evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di kawasan kampus Unhas.

Namun, demonstrasi yang berlangsung pada Kamis malam itu berakhir ricuh setelah muncul bentrokan di sekitar Pintu 1 kampus.

Berdasarkan keterangan Humas Unhas, kericuhan bermula ketika petugas keamanan berupaya meminta kelompok massa membubarkan diri. Situasi kemudian berkembang setelah seorang petugas keamanan dilaporkan mengalami penganiayaan, disusul kedatangan keluarganya ke kampus.

Rangkaian peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam pengungkapan penyebab kericuhan. Meski begitu, dugaan penganiayaan, keterlibatan pihak-pihak tertentu, dan penyebab kebakaran kendaraan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. (*)