Journalist Independent, YOGYAKARTA — Kericuhan demonstrasi di kawasan Malioboro dan sekitar gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta meninggalkan puluhan warga dan aparat dengan luka-luka.
Di tengah penanganan para korban, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memastikan pemerintah daerah akan turun tangan agar warga sipil yang tidak memiliki jaminan pembiayaan kesehatan tetap mendapatkan perawatan tanpa terbebani biaya medis.
Hasto mengunjungi sejumlah korban yang menjalani perawatan di rumah sakit pada Kamis, 29 Oktober 2026. Ia meminta jajaran terkait memastikan setiap pasien memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan medis, sekaligus mendata korban yang belum terlindungi sistem jaminan kesehatan.
Data yang dihimpun dari sejumlah fasilitas kesehatan mencatat 116 orang menjadi korban dalam insiden tersebut. Mereka menjalani rawat jalan maupun rawat inap di beberapa rumah sakit, termasuk RS Bethesda, RS Panti Rapih, RS Bhayangkara, dan RS PKU Muhammadiyah. Dari jumlah tersebut, 13 pasien masih membutuhkan perawatan inap.
Hasto menegaskan pemerintah kota tidak ingin membiarkan korban menghadapi kesulitan saat menjalani pengobatan. Pemkot Yogyakarta akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memeriksa status pembiayaan masing-masing pasien dan menanggung biaya warga sipil yang belum terakomodasi oleh skema jaminan kesehatan.
Hasto Minta Korban Demo Mendapat Perawatan Layak
Saat menjenguk korban, Hasto menekankan bahwa pemerintah harus hadir bagi siapa pun yang mengalami luka akibat kericuhan. Menurutnya, perhatian terhadap korban menjadi bagian dari tanggung jawab kemanusiaan, tanpa membedakan latar belakang mereka.
“Kami ingin memastikan bahwa semua terlayani dengan baik. Jangan sampai, karena mereka ini kan menjadi korban dan mereka sudah berjuang bekerja untuk kepentingan keamanan, ketertiban masyarakat dan kita semua. Kalau sampai mereka yang jadi korban saja kita tidak mengurus, kan kita juga akan jauh lebih tidak manusiawi,” tegas Hasto.
Dalam kunjungan itu, Hasto juga menemui seorang warga sipil yang menjalani perawatan di RS Bethesda. Berdasarkan pengakuan korban, ia diduga menjadi korban salah sasaran setelah terjebak dalam situasi kacau saat kericuhan berlangsung pada malam kejadian.
Kasus tersebut menambah perhatian terhadap keselamatan warga yang berada di sekitar lokasi demonstrasi. Orang yang melintas atau berada di kawasan tersebut dapat ikut terdampak ketika situasi berubah menjadi bentrokan. Karena itu, pemerintah kota ingin memastikan korban yang membutuhkan pertolongan memperoleh penanganan tanpa hambatan administrasi maupun biaya.
Hasto meminta Dinas Kesehatan memilah data pasien untuk mengetahui siapa saja yang telah memperoleh jaminan pembiayaan dan siapa yang masih membutuhkan bantuan pemerintah daerah.
“Ini kan ada Bu Kepala Dinas Kesehatan, saya minta untuk nanti memilah. Mana yang sudah ter-cover oleh sistem yang ada, biasanya ada juga yang tidak. Kalau belum ter-cover dengan sistem yang ada, kan kita harus bertanggung jawab,” ujarnya.
Pemerintah kota akan menggunakan hasil pendataan tersebut sebagai dasar untuk menentukan bentuk dukungan pembiayaan. Dengan langkah itu, Pemkot Yogyakarta berharap tidak ada warga sipil yang menunda pengobatan hanya karena khawatir tidak mampu membayar biaya rumah sakit.
RS Bethesda Tangani 40 Pasien Korban Kericuhan
RS Bethesda menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang menerima banyak korban setelah kericuhan di kawasan Malioboro. Direktur RS Bethesda Yogyakarta, dr. Edy Wibowo, menjelaskan bahwa rumah sakitnya menangani 40 pasien, terdiri atas 33 pasien rawat jalan dan tujuh pasien rawat inap.
Para pasien mengalami berbagai jenis cedera, mulai dari patah tulang, luka robek, hingga memar akibat benturan. Tim medis juga menangani seorang pasien dengan kondisi lebih serius berupa fraktur terbuka atau patah tulang yang menyebabkan luka terbuka, disertai cedera kepala ringan.
Pasien tersebut menjalani operasi darurat sekitar pukul 15.00 WIB. Sebelumnya, pasien sempat kehilangan kesadaran dalam waktu singkat akibat cedera kepala. Setelah mendapatkan penanganan, kondisinya menunjukkan perbaikan.
“Sempat enggak sadar sebentar, cedera kepala itu. Tapi sudah membaik tadi, oksigenasinya sudah baik. Mudah-mudahan enggak ada gejala sisa,” kata Edy.
Kondisi pasien tersebut menjadi salah satu perhatian tim medis karena cedera kepala membutuhkan pemantauan setelah penanganan awal. Meski menunjukkan perkembangan positif, dokter tetap berharap pasien dapat pulih tanpa mengalami dampak lanjutan.
Rumah Sakit Siaga Hadapi Korban dalam Jumlah Besar
Edy mengatakan RS Bethesda mengaktifkan kesiapsiagaan instalasi gawat darurat selama 24 jam untuk menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk kedatangan korban dalam jumlah besar setelah insiden.
Rumah sakit juga memiliki tim khusus musibah massal atau Musal yang dapat bergerak ketika terjadi keadaan darurat dengan banyak korban. Sistem tersebut membantu rumah sakit menyiapkan tenaga dan pelayanan untuk menangani pasien sesuai tingkat kegawatan.
“Jadi kita sebagai rumah sakit itu menerima siapa pun ya datang ke sini, dan UGD kita memang standby untuk kasus-kasus apa pun itu 24 jam. Kalau terjadi sesuatu, kami juga punya sistem, punya tim Musal (Musibah Massal),” ujar Edy pada Kamis, 28 Oktober 2026.
Kesiapan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam penanganan dampak kericuhan. Pasien dengan cedera berat memerlukan pertolongan segera, sedangkan korban dengan luka ringan tetap membutuhkan pemeriksaan agar kondisi mereka tidak memburuk.
Pemkot Yogyakarta Data Ulang Pembiayaan Korban
Dengan total 116 korban dan 13 pasien yang masih menjalani rawat inap, pendataan pembiayaan menjadi langkah penting setelah penanganan medis awal. Pemkot Yogyakarta ingin memastikan setiap pasien memperoleh layanan sesuai kebutuhan dan tidak kehilangan akses pengobatan karena persoalan biaya.
Hasto menegaskan pemerintah daerah akan memeriksa pasien yang sudah ditanggung sistem jaminan kesehatan maupun mereka yang belum tercakup. Bagi warga sipil yang belum memiliki perlindungan pembiayaan, pemerintah kota menyatakan siap mengambil tanggung jawab sesuai hasil pendataan.
Langkah tersebut diharapkan membantu korban melewati masa pemulihan dengan lebih tenang. Di tengah proses penanganan pascakericuhan Malioboro, pemerintah kota menempatkan keselamatan dan kebutuhan medis korban sebagai prioritas, sembari memastikan tidak ada warga yang terabaikan ketika membutuhkan pertolongan. (*)






