Jadi Beban IHSG, Haji Isam Naikkan Target Akuisisi BYAN Jadi 30,25 Persen

Journalist Independent
Haji Isam atau Samsudin Andi Arsyad. (ANTARA/Mentari Dwi Gayati)
Haji Isam atau Samsudin Andi Arsyad. (ANTARA/Mentari Dwi Gayati)

JAKARTA — Rencana akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam kembali berubah.

Jumlah saham yang menjadi objek transaksi kini bertambah, membuat porsi kepemilikan yang akan diambil melalui PT Jhonlin Baratama naik menjadi sekitar 30,25% dari sebelumnya sekitar 30%.

Perubahan tersebut tertuang dalam amendemen conditional share purchase agreement (CSPA) yang diteken Haji Isam bersama pemegang saham pengendali Bayan Resources, Low Tuck Kwong, dan putrinya, Elaine Low.

Dalam perjanjian awal, transaksi mencakup 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30% dari total saham beredar perusahaan batu bara tersebut.

Setelah perubahan kesepakatan, jumlah saham yang menjadi objek transaksi bertambah 84.087.870 saham menjadi 10.084.088.370 saham. Dengan jumlah tersebut, porsi saham yang akan diakuisisi Jhonlin Baratama mencapai sekitar 30,25%.

Meski jumlah saham bertambah, transaksi belum otomatis rampung. Pelaksanaan dan penyelesaian akuisisi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan yang tercantum dalam perjanjian.

Jika seluruh persyaratan terpenuhi, Jhonlin Baratama akan menguasai 10.084.088.370 saham BYAN.

Kesepakatan Haji Isam dan Keluarga Low

Haji Isam pertama kali menandatangani CSPA dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada 16 September 2026. Kesepakatan tersebut pada awalnya mencakup akuisisi sekitar 30% saham Bayan Resources.

Dalam struktur kepemilikan setelah transaksi awal, Low Tuck Kwong tetap menjadi pemegang saham terbesar sekaligus pengendali Bayan Resources.

Low diperkirakan masih menguasai sekitar 6,95 miliar saham atau 20,85% setelah transaksi, sedangkan Elaine Low memegang sekitar 3,79 miliar saham atau 11,39%.

Perubahan terbaru membuat porsi saham yang akan masuk ke kendaraan investasi milik Haji Isam meningkat dibandingkan kesepakatan sebelumnya.

Tawaran Haji Isam untuk Bayan Resources

Rencana akuisisi tersebut sebelumnya dikaitkan dengan tawaran Haji Isam untuk membeli sekitar 62% saham Bayan Resources dengan nilai sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp53,26 triliun.

Pembayaran transaksi berpotensi dilakukan secara bertahap, bukan seluruhnya sekaligus. Jika terealisasi pada nilai tersebut, transaksi akan mencerminkan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar BYAN pada saat tawaran tersebut mencuat.

Bayan Resources memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$26 miliar atau sekitar Rp461,58 triliun. Sebagian besar kekayaan Low Tuck Kwong berasal dari kepemilikannya di perusahaan batu bara tersebut.

Nilai transaksi yang lebih rendah dari harga pasar dapat berkaitan dengan struktur kepemilikan Bayan yang membuat jumlah saham beredar di publik relatif terbatas. Kondisi tersebut juga dapat membuat harga saham di pasar tidak selalu mencerminkan nilai fundamental perusahaan secara langsung.

Di sisi lain, industri batu bara menghadapi tantangan jangka panjang seiring peralihan konsumen menuju sumber energi yang lebih bersih. Kebijakan pemerintah Indonesia terkait kuota produksi batu bara juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan perusahaan tambang.

Pemerintah telah memangkas kuota produksi sejumlah produsen batu bara besar untuk menjaga keseimbangan pasar dan mendukung harga komoditas tersebut.

Bayan Resources termasuk salah satu perusahaan yang terdampak kebijakan pengurangan produksi tersebut. Sejumlah perusahaan pesaing mengalami tekanan produksi yang berbeda, tergantung kebijakan dan kuota yang diberikan pemerintah.

Prospek Transaksi Masih Bergantung pada Kesepakatan

Pembicaraan mengenai transaksi tersebut masih berjalan dan belum ada kepastian bahwa seluruh kesepakatan akan berujung pada penyelesaian transaksi.

Jika seluruh pihak menyepakati ketentuan akhir dan seluruh persyaratan terpenuhi, transaksi berpotensi selesai sebelum akhir 2026.

Sumber pendanaan juga menjadi bagian penting dalam rencana akuisisi tersebut. Haji Isam disebut berpotensi memperoleh pembiayaan dari sejumlah bank milik negara.

Bayan Resources sendiri memiliki bisnis pertambangan batu bara sekaligus mengoperasikan sejumlah fasilitas pelabuhan di Indonesia. Perusahaan menjual sekitar 68 juta ton batu bara pada tahun lalu dan membukukan pendapatan sekitar US$3,4 miliar atau sekitar Rp60,36 triliun.

Saham BYAN Jadi Beban Berat IHSG

Perubahan rencana transaksi terjadi ketika saham BYAN justru menjadi salah satu pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, IHSG ditutup melemah 0,75% ke level 6.146,72. Indeks sempat menguat pada awal perdagangan hingga 6.214,76, tetapi tekanan jual membuat IHSG berbalik arah dan menyentuh level terendah 6.136,19.

Saham BYAN menjadi salah satu pemberat terbesar indeks dengan kontribusi penurunan sekitar 14,82 poin.

Selain BYAN, tekanan juga datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

Sektor energi menjadi salah satu kelompok saham dengan tekanan terbesar. Sektor tersebut terkoreksi 1,56%, disusul sektor konsumen nonprimer yang turun 1,21% dan sektor barang baku yang melemah 1,14%.

Pada perdagangan tersebut, nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp36,2 triliun dengan volume 48,41 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,53 juta kali.

Sebanyak 258 saham berakhir menguat, sementara 378 saham melemah dan 157 saham lainnya bergerak stagnan.

Arus Dana Asing Masih Jadi Perhatian

Tekanan terhadap IHSG juga muncul dari aksi jual investor asing. Hingga Oktober 2026, arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia disebut telah mencapai sekitar Rp83 triliun secara year to date.

Tekanan tersebut menjadi perhatian karena mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.

Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil surat utang Amerika Serikat tenor 10 tahun yang berada di level tinggi sekitar 5,3%. Yield yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus membuat saham di pasar berkembang menghadapi tekanan valuasi.

Kondisi cadangan devisa Indonesia turut menjadi perhatian. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada September 2026 sebesar US$146,3 miliar, sedikit turun dibandingkan posisi Agustus sebesar US$146,5 miliar.

IHSG Masih Punya Peluang Berbalik Menguat

Meski perdagangan berakhir negatif, sejumlah indikator teknikal masih menunjukkan peluang pemulihan IHSG.

Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih mampu bertahan di atas MA5 dan MA10. Penyempitan histogram negatif MACD juga berlanjut, sementara Stochastic RSI bergerak naik di area pivot.

“Penyempitan histogram negatif MACD masih berlanjut dan Stochastic RSI melanjutkan kenaikannya di area pivot,” ujar Phintraco Sekuritas.

Berdasarkan analisis tersebut, IHSG masih memiliki peluang menguji area 6.200 hingga 6.230 apabila mampu kembali mendapatkan momentum pembelian.

Panin Sekuritas juga melihat ruang penguatan masih terbuka. IHSG berpotensi bergerak menuju MA50 di sekitar 6.327 dan resistance 6.371 sebelum berupaya menutup gap pada level 6.586.

Namun, indeks perlu terlebih dahulu menembus dan bertahan di atas MA20 yang berada di sekitar 6.253.

“Di sisi lain, support terdekat di range 5.967–6.035,” kata Panin Sekuritas.

Dengan BYAN menjadi salah satu pemberat utama IHSG di tengah perubahan rencana akuisisi oleh Haji Isam, perhatian pasar kini tertuju pada dua hal sekaligus: perkembangan transaksi saham Bayan Resources dan kemampuan IHSG keluar dari tekanan jual saham-saham berkapitalisasi besar. (*)