JAKARTA – Penyakit jantung dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Kondisi ini membuat seseorang yang merasa sehat belum tentu terbebas dari risiko penyempitan pembuluh darah yang dapat berujung pada serangan jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah lulusan Universitas Padjadjaran, Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), M.Kes, AIFO-K, FIHA, FICA, FAsCC, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk mulai menjaga kesehatan jantung.
Menurutnya, mengenali faktor risiko dan menerapkan pola hidup sehat merupakan bagian penting dalam mencegah penyakit jantung. Langkah tersebut antara lain rutin berolahraga, menjaga pola makan, mencukupi waktu tidur, mengelola stres, serta berhenti merokok.
“Kalau kita mengubah pola hidup, tidur lebih teratur, menurunkan berat badan dengan komposisi yang baik, dengan latihan, olahraga, atur makan, kekakuan pembuluh darah mungkin bisa berubah,” kata Vito, dikutip dari Antara, Rabu (7/10/2026).
Dokter yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu menjelaskan, penyempitan pembuluh darah pada tingkat tertentu belum tentu menimbulkan keluhan.
Ia mencontohkan, penyempitan sekitar 30-40 persen dapat berlangsung tanpa gejala yang dirasakan seseorang. Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan karena dapat berkembang dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan jantung.
Tidak adanya keluhan, kata Vito, juga bisa membuat seseorang tidak menyadari adanya masalah pada pembuluh darah.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya aktivitas fisik. Seseorang yang lebih banyak duduk dan jarang berolahraga belum tentu merasakan gejala meski kondisi pembuluh darahnya mulai mengalami penyempitan.
“Jadi karena tidak tahu, merasa tidak ada keluhan. Yang kedua, tidak pernah bergerak, atau sering terlalu lama duduk,” ujarnya.
Vito menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan mengandalkan obat. Perubahan gaya hidup juga memiliki peran penting dalam menekan faktor risiko penyakit jantung.
Berdasarkan pengalamannya menangani pasien, ia menyebut sekitar 90 persen pasiennya tidak berolahraga.
Karena itu, aktivitas fisik perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, disertai pengaturan pola makan dan upaya menjaga berat badan tetap sehat.
Menurutnya, perubahan pola hidup sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan baru dimulai ketika seseorang telah mengalami gangguan jantung.
Selain olahraga dan pola makan, Vito mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan waktu tidur.
Kurang tidur, menurut dia, juga merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan jantung. Ia menyebut tidur sering kali menjadi bagian dari gaya hidup yang justru paling diabaikan.
“Kemudian, tidur. Tidur kurang adalah faktor risiko (penyakit jantung). Tidur ini paling orang abaikan,” katanya.
Ia juga memasukkan stres sebagai faktor yang perlu dikelola bersama pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur.
Kebiasaan merokok juga menjadi perhatian dalam upaya menjaga kesehatan jantung. Vito mengingatkan bahwa berhenti merokok merupakan salah satu perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko.
Menurutnya, sebagian orang masih mengabaikan anjuran tersebut meski sudah berulang kali diingatkan mengenai bahaya merokok.
“Kalau mereka mau berhenti merokok, sangat bagus,” ujarnya.
Vito menekankan, pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum terjadi kerusakan atau penyempitan pembuluh darah. Merasa sehat dan tidak mengalami keluhan bukan berarti seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung.
Karena itu, mengenali faktor risiko, aktif bergerak, menjaga pola makan, tidur cukup, mengelola stres, dan berhenti merokok menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung sejak dini. (*)






