Apa Gerangan Trump Minta Bos UFC Dana White Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih?

Journalist Independent
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menawarkan jabatan sekretaris pers Gedung Putih kepada bos Ultimate Fighting Championship (UFC) Dana White. (Foto: Saul Loeb/AFP/Bloomberg)

Journalist Independent, Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menawarkan jabatan sekretaris pers Gedung Putih kepada bos Ultimate Fighting Championship (UFC) Dana White di tengah perombakan jajaran pemerintahannya. Tawaran tidak biasa itu muncul setelah Partai Republik kalah dalam pemilu paruh waktu dan kehilangan kendali atas Kongres AS.

Trump mengumumkan tawaran tersebut melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Sabtu (7/11/2026). Dia juga meminta White membawa sejumlah petarung UFC untuk menjadi asistennya jika menerima jabatan tersebut.

“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Dana White yang hebat, seorang petarung dan pejuang tangguh, telah ditawari jabatan Sekretaris Pers Amerika Serikat,” tulis Trump.

Trump menyebut enam nama petarung yang ingin dibawa White, yakni Islam Makhachev, Khabib Nurmagomedov, Justin Gaethje, Daniel Cormier, Amanda Nunes, dan Kayla Harrison. Mereka diminta membantu White menjalankan tugas sebagai juru bicara pemerintahannya.

“Kita membutuhkan orang-orang ini untuk membela kita dari kelompok kiri yang gila. Dana akan menjadi sekretaris pers yang berbeda dari siapa pun sebelumnya. Dana, terimalah pekerjaan ini!” ujar Trump.

Kedekatan Trump dan Dana White

Tawaran itu tidak lepas dari hubungan dekat Trump dengan White. Keduanya telah saling mengenal sejak awal 2000-an, ketika Trump menjadi tuan rumah sejumlah pertandingan UFC di kasino miliknya.

Hubungan mereka semakin erat setelah White mendukung Trump dalam kampanye pemilihan presiden 2016. White juga beberapa kali tampil dalam kegiatan politik Partai Republik, termasuk konvensi nasional partai tersebut pada 2016, 2020, dan 2024.

Trump dan White kemudian semakin sering terlihat bersama dalam sejumlah acara UFC. Pada Juni 2026, keduanya menggelar pertandingan UFC di halaman Gedung Putih dalam rangka perayaan 250 tahun kemerdekaan AS.

Baca Juga  Peretasan Binance Rp114 Triliun Diselidiki AS, Trump Soroti Dugaan Keterlibatan Korea Utara

Kedekatan tersebut membuat nama White muncul dalam pertimbangan Trump untuk mengisi posisi juru bicara pemerintah. Namun, jabatan sekretaris pers bukan posisi seremonial karena pejabat yang mendudukinya harus menyampaikan kebijakan pemerintah dan menjawab pertanyaan wartawan mengenai keputusan presiden.

Status Tawaran Masih Jadi Perhatian

White belum memberikan kepastian terbuka mengenai penerimaan tawaran tersebut. Saat menghadiri acara tinju di London pada Sabtu, dia menyampaikan rencana bertemu Trump di Gedung Putih pada Senin (9/11/2026).

Sementara itu, laporan CNN yang dikutip Sky News menyebut seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan White menolak gagasan itu. Namun, laporan Reuters menyebut White berencana bertemu Trump pada Senin, sehingga belum ada kepastian bahwa pertemuan tersebut akan berujung pada penerimaan jabatan.

Posisi sekretaris pers Gedung Putih sendiri sedang kosong setelah Katie Zacharia meninggalkan jabatan tersebut hanya dalam waktu 5 hari. Sebelumnya, Karoline Leavitt juga telah meninggalkan posisi itu pada akhir Agustus 2026.

Trump Rombak Gedung Putih Usai Partai Republik Kalah

Tawaran kepada White muncul bersamaan dengan perombakan jajaran Gedung Putih setelah Partai Republik kehilangan kendali atas DPR dan Senat AS dalam pemilu paruh waktu pada 3 November 2026. Kemenangan Demokrat membuat Trump harus menghadapi Kongres yang dikuasai oposisi dan berpotensi menggelar penyelidikan terhadap pemerintahannya.

Trump sebelumnya mengumumkan penunjukan penasihat lamanya, Stephen Miller, sebagai kepala staf Gedung Putih. Miller menggantikan Susie Wiles yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut dan akan mulai bertugas pada Senin (9/11/2026).

Penunjukan Miller dinilai menunjukkan Trump tidak berniat mengubah arah kebijakannya setelah kekalahan partai. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters, “Dia tidak mengubah arah.”

Miller dikenal sebagai tokoh garis keras yang berperan besar dalam kebijakan imigrasi pemerintahan Trump. Sejak Trump kembali menjabat pada 2025, Miller menjadi salah satu penggerak kebijakan pengetatan imigrasi, termasuk target penangkapan 3.000 orang setiap hari.

Baca Juga  Intelijen Ukraina Sebut 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia, Ini Respons Pemerintah

Kebijakan tersebut menuai kritik karena turut menyasar imigran yang tidak memiliki catatan kriminal. Survei Reuters/Ipsos yang diselesaikan pada awal November menunjukkan 36% responden menyetujui kebijakan pengetatan imigrasi, sedangkan 54% menyatakan tidak setuju.

Miller juga terlibat dalam perombakan birokrasi federal yang menyebabkan puluhan ribu pegawai negeri diberhentikan pada 2025. Dalam kebijakan luar negeri, dia mendukung operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di kawasan Karibia dan Pasifik, serta serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Di sisi lain, kemenangan Demokrat membuat Trump menghadapi tekanan politik yang lebih besar. Sejumlah politikus Demokrat telah mengisyaratkan akan menggunakan kendali Kongres untuk memanggil pejabat pemerintahan dan sekutu Trump dalam berbagai penyelidikan.

Perombakan tim komunikasi dan penunjukan Miller memperlihatkan langkah Trump menghadapi situasi politik baru di Washington. Adapun tawaran kepada White masih menunggu kejelasan, termasuk apakah bos UFC tersebut benar-benar akan mengambil peran sebagai juru bicara Gedung Putih. (*)