Peretasan Binance Rp114 Triliun Diselidiki AS, Trump Soroti Dugaan Keterlibatan Korea Utara

Journalist Independent
Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman yang sebelumnya telah disiapkan militer AS.

Journalist Independent, JAKARTA — Nilai aset kripto yang hilang dalam serangan terhadap Binance mencapai angka fantastis, sekitar US$6,3 miliar atau setara Rp114,17 triliun.

Kasus yang disebut sebagai salah satu peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto ini bahkan menarik perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pemerintah AS kini menyelidiki kemungkinan keterlibatan kelompok peretas Korea Utara, meski identitas pelaku belum terungkap.

Trump menyampaikan bahwa otoritas AS masih mengumpulkan informasi mengenai serangan tersebut. Saat wartawan menanyakan dugaan keterlibatan peretas Korea Utara, dia belum memberikan kesimpulan.

“Kami belum tahu pasti. Kami sedang mencermatinya,” ujar Trump di Gedung Putih, Jumat (30/10/2026).

Trump mengakui pembobolan Binance sebagai aksi peretasan. Dia juga menyoroti risiko keamanan transaksi aset digital yang menurutnya memiliki karakter berbeda dari sistem keuangan konvensional. Kemudahan transaksi melalui teknologi kripto, kata dia, tetap menyimpan ancaman keamanan yang perlu mendapat perhatian.

Binance Jamin Saldo Pengguna

Kecurigaan terhadap kelompok peretas Korea Utara muncul setelah sejumlah perusahaan intelijen blockchain menelusuri jejak transaksi aset curian.

TRM Labs menyatakan memiliki tingkat keyakinan tinggi bahwa kelompok TraderTraitor berada di balik serangan tersebut.

Kelompok ini disebut memiliki hubungan dengan Lazarus Group, jaringan peretas yang selama ini dikaitkan dengan Korea Utara.

Chainalysis juga menyampaikan dugaan serupa. Namun, Binance belum mengumumkan identitas pelaku secara resmi.

Serangan terjadi pada Kamis (29/10/2026). Pemeriksaan awal Binance menunjukkan peretas membobol sejumlah dompet digital yang perusahaan gunakan untuk memproses transaksi. Mereka kemudian memindahkan aset senilai sekitar US$6,3 miliar tanpa izin.

Binance menduga akses ilegal bermula dari pembobolan komputer jinjing milik salah seorang teknisi. Akan tetapi, pemeriksaan lanjutan menemukan sejumlah titik pembobolan lain sehingga perusahaan masih menelusuri keseluruhan jalur serangan.

Baca Juga  Mehdi Hasan Confronts Piers Morgan With FBI Document Naming Trump

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, lebih dahulu mengonfirmasi insiden tersebut melalui media sosial. Dia menegaskan bahwa serangan itu tidak mengancam saldo pelanggan.

“User funds are safe!” tulis Zhao.

Manajemen Binance juga menggandeng penerbit aset kripto dan perusahaan analisis blockchain untuk melacak serta membekukan dana hasil peretasan. Hingga Jumat (30/10/2026), perusahaan melaporkan sekitar US$3 miliar aset terdampak telah berhasil dibekukan melalui jaringan blockchain.

Untuk menutup kerugian, Binance menyiapkan dana perusahaan lebih dari US$6,34 miliar. Dana tersebut berasal dari kas perusahaan dan Secure Asset Fund for Users (SAFU), yaitu cadangan perlindungan bagi pengguna ketika terjadi insiden keamanan.

Binance memastikan pengguna tidak perlu menanggung kerugian akibat pembobolan tersebut. Perusahaan sempat menghentikan penarikan dana untuk memeriksa keamanan dan memperbaiki sistem, sebelum memulihkan layanan secara bertahap.

Besarnya nilai pencurian ini melampaui kerugian sekitar US$1,5 miliar dalam peretasan Bybit pada Februari 2025. Otoritas AS sebelumnya mengaitkan kasus Bybit dengan kelompok peretas Korea Utara.

Kini, penyelidikan terhadap Binance berlanjut untuk mengungkap pelaku dan menelusuri sisa aset yang belum berhasil diamankan. (*)