Partai Trump Kalah dalam Pemilu AS, Iran Akhirnya Buka Suara

Journalist Independent
Mojtaba Khamenei

Journalist Independent – Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) 2026 mendapat perhatian di Iran. Demokrat berhasil merebut kendali Kongres AS dari Partai Republik, tetapi para pejabat Teheran meragukan perubahan komposisi politik di Washington akan membawa perubahan besar terhadap kebijakan Presiden Donald Trump terhadap Iran.

Hasil pemilu yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026) itu membuat Demokrat menguasai dua kamar Kongres, yakni Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri dominasi Partai Republik di Kongres selama dua tahun terakhir pemerintahan Trump.

Meski demikian, kemenangan Demokrat belum langsung mengubah arah kebijakan AS. Komposisi baru Kongres dijadwalkan mulai bekerja pada Januari 2027. Hingga saat itu, Partai Republik masih memegang kendali mayoritas di kedua kamar.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menilai perubahan kekuatan politik di AS tidak akan otomatis mengakhiri permusuhan Washington terhadap Teheran.

Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan melalui akun media sosialnya pada Rabu (4/11/2026), Mojtaba memperingatkan pihak-pihak yang berharap kemenangan Demokrat akan mengubah sikap AS terhadap Iran.

“Jika masih ada yang menyimpan sedikit harapan akan perubahan perilaku atau pergeseran partisan dan faksional dalam sistem dominasi, atau yang membayangkan bahwa dengan memberikan konsesi kepada AS mereka bisa mencegahnya dari permusuhan terhadap bangsa Iran, mereka sangat keliru,” kata Mojtaba, dikutip Kamis (5/11/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan sikap Teheran yang tidak ingin menggantungkan harapan pada perubahan komposisi partai di Kongres AS. Pemerintah Iran menilai kebijakan Washington terhadap negaranya tidak semata-mata ditentukan oleh partai yang menguasai lembaga legislatif.

Mojtaba juga memperingatkan bahwa jika AS kembali melakukan serangan, respons Iran akan berlangsung dalam skala yang lebih besar. Ia turut mengklaim tindakan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan serta pengelolaan Selat Hormuz merupakan bagian dari perlawanan terhadap dominasi Washington.

Baca Juga  Jet Tempur F-16 AS Jatuh Saat Hendak Mendarat di Jerman, Pilot Selamat

Sikap tersebut muncul ketika perang antara AS dan Iran masih menjadi persoalan utama dalam hubungan kedua negara. Kemenangan Demokrat di Kongres pun memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan perubahan pendekatan Washington terhadap konflik tersebut.

Namun, para pejabat Iran tidak sepenuhnya melihat hasil pemilu sebagai jaminan berakhirnya perang. Mereka menilai perubahan politik di AS belum tentu diikuti perubahan kebijakan luar negeri, terutama terkait konflik dengan Teheran.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan pandangan yang lebih terbuka terhadap pesan penolakan perang dari masyarakat Amerika.

Melalui pernyataan di media sosial X, Ghalibaf menegaskan bahwa militer Iran tetap menyiapkan diri menghadapi kemungkinan negosiasi maupun konflik bersenjata.

“Amerika mengatakan tidak pada perang, dan kami mendukung pesan tersebut,” tulisnya.

Ghalibaf juga memperingatkan Washington agar tidak mengabaikan pesan yang disampaikan masyarakat Amerika melalui pemilu. Ia menyebut perlawanan Iran dapat menjadi mimpi buruk bagi AS apabila pemerintah negara tersebut tidak mengubah pendekatannya.

Di sisi lain, hasil pemilu AS turut mencerminkan ketidakpuasan sebagian pemilih terhadap kebijakan pemerintahan Trump, termasuk dampak perang Iran terhadap perekonomian. Kenaikan harga energi dan tekanan biaya hidup menjadi sejumlah persoalan yang ikut memengaruhi hasil pemilu.

Kemenangan Demokrat memberikan kekuatan baru bagi oposisi untuk mengawasi kebijakan pemerintahan Trump. Dengan menguasai Senat dan DPR, Demokrat memiliki ruang lebih besar untuk menghambat sejumlah agenda pemerintah serta melakukan penyelidikan terhadap kebijakan presiden.

Meski demikian, perubahan kekuatan di Kongres tidak serta-merta berarti kebijakan militer dan luar negeri AS akan langsung berubah. Presiden tetap memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan, sementara Kongres memiliki kewenangan pengawasan dan legislasi.

Di tengah situasi tersebut, upaya diplomatik untuk mencegah pertempuran kembali masih menjadi perhatian. Sejumlah pihak di kawasan Timur Tengah juga menginginkan konflik tidak kembali meluas karena dampaknya terhadap keamanan regional dan perekonomian global.

Baca Juga  Trump Isyaratkan Peristiwa Besar terhadap Iran dalam Waktu Dekat, Serangan Baru Jadi Sorotan

Dengan demikian, kemenangan Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS menjadi perkembangan politik penting bagi hubungan Washington dan Teheran. Namun, pernyataan Mojtaba Khamenei menunjukkan Iran belum melihat hasil pemilu tersebut sebagai jaminan perubahan sikap AS terhadap negaranya.