Golkar Sulsel Incar 22 Kursi DPRD, IAS Ingatkan Kader Jangan Jauh dari Rakyat

Journalist Independent
Ketua Golkar Sulsel IAS
Ketua Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS). (dok. HO)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai menata kekuatan. Di tengah rangkaian pelantikan pengurus, orientasi kader, hingga Musyawarah Daerah (Musda) di sejumlah kabupaten dan kota, partai berlambang pohon beringin itu tengah menyiapkan jalan untuk kembali menjadi kekuatan politik dominan di Sulsel.

Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), bahkan memasang target ambisius. Dari 14 kursi yang kini dimiliki di DPRD Sulsel, Golkar membidik 22 kursi pada kontestasi legislatif mendatang.

Target itu bukan sekadar penambahan angka. Bagi IAS, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.

“Kita sekarang memiliki 14 kursi, ke depan kita mau Golkar kembalikan kejayaannya dan merebut 22 kursi untuk DPRD Provinsi Sulawesi Selatan,” tegas IAS dalam arahannya pada kegiatan orientasi kader.

Pernyataan IAS menjadi sinyal bahwa konsolidasi yang sedang berlangsung tidak boleh berhenti pada penataan struktur organisasi. Pelantikan pengurus dan Musda di daerah harus menjadi langkah awal untuk menggerakkan kembali mesin politik Golkar hingga ke tingkat paling bawah.

Mantan Wali Kota Makassar dua periode itu menginginkan seluruh kader bergerak dalam satu barisan. Struktur partai harus hidup, bukan hanya tercatat dalam susunan kepengurusan. Kader juga dituntut mampu menjaga hubungan dengan masyarakat dan memperkuat basis dukungan di wilayah masing-masing.

IAS menyadari, target 22 kursi tidak bisa dicapai hanya dengan mengandalkan nama besar Golkar atau kekuatan jaringan politik yang selama ini dimiliki. Partai harus membuktikan kehadirannya melalui kerja nyata.

Perhatian khusus pun diarahkan kepada anggota Fraksi Golkar di seluruh tingkatan DPRD. Mereka diminta tidak berjarak dengan konstituen, apalagi hanya muncul ketika menjelang pemilu atau saat partai menggelar agenda internal.

Baca Juga  Raja Juli Geram soal Gugatan Gibran: Manuver Politik Tak Beradab!

Anggota fraksi, menurut IAS, harus menjadi penghubung antara partai dan masyarakat. Aspirasi warga perlu didengar, persoalan mereka dikawal, dan kebutuhan masyarakat diperjuangkan melalui lembaga legislatif.

Ia bahkan mengibaratkan anggota Fraksi Golkar sebagai pasukan khusus dalam organisasi militer. Perumpamaan itu menggambarkan tuntutan disiplin, kesiapan, dan kemampuan bergerak di lapangan.

“Anggota Fraksi seperti pasukan khusus dalam sebuah organisasi militer,” tegasnya.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa IAS menempatkan kerja anggota legislatif sebagai salah satu kunci untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap Golkar. Kursi parlemen bukan hanya simbol kekuatan politik, tetapi juga ruang untuk membuktikan keberpihakan kepada masyarakat.

Dengan demikian, pekerjaan Golkar Sulsel hingga penghujung 2026 tidak sebatas merampungkan agenda Musda dan menyusun kepengurusan baru. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan konsolidasi itu menghasilkan mesin partai yang solid, kader yang bekerja, dan basis dukungan yang semakin kuat. (man)