NEWS  

Harga Emas Antam 3 November 2026 Bangkit, Buyback Naik Rp25.000 per Gram

Journalist Independent
Susunan emas replika. (dok. Wahdah/Journalist Independent)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Kenaikan juga terjadi pada harga jual kembali atau buyback yang melonjak Rp25.000 per gram.

Berdasarkan data perdagangan hari ini, harga emas Antam tercatat Rp2.541.000 per gram, sebelumnya di harga Rp2.531.000. Sementara itu, harga buyback berada di level Rp2.311.000 per gram.

Penguatan harga emas Antam sejalan dengan pergerakan emas dunia. Di pasar spot, harga emas ditutup pada US$3.944,8 per troy ons pada perdagangan Senin. Angka tersebut melonjak 1,78 persen dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu.

Kenaikan ini terjadi setelah harga emas sempat tertekan cukup dalam. Pada Jumat (30/10/2026), emas dunia ditutup di level US$3.875,8 per troy ons, menjadi posisi terendah dalam setahun terakhir.

Harga yang sempat terkoreksi tajam diduga menarik minat investor untuk kembali masuk ke pasar. Aksi beli saat harga melemah atau buy the dip menjadi salah satu faktor yang mendorong pemulihan harga emas.

Strategist Global X ETFs, Justin Lin, melihat adanya aktivitas pembelian saat harga turun. Investor, termasuk kemungkinan sejumlah bank sentral, diperkirakan kembali menambah kepemilikan emas mereka.

“Kami melihat ada aksi pembelian dip di pasar. Investor, dan mungkin sejumlah bank sentral, sepertinya akan menambah kepemilikan emas mereka. Namun, emas masih berada dalam posisi rawan,” kata Lin, seperti dikutip Bloomberg News.

Selain aksi beli, perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut memberi sentimen positif bagi pasar emas.

Bloomberg News melaporkan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pemerintahannya telah memperoleh mandat dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk membuka negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) guna mencapai perdamaian.

Baca Juga  Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2,559 Juta per Gram, Diprediksi Bisa Tembus Rp2,8 Juta pada Akhir 2026

Kabar tersebut langsung menekan harga minyak. Minyak mentah Brent ditutup anjlok 8,17 persen menjadi US$104,17 per barel pada perdagangan Senin.

Turunnya harga energi memunculkan harapan meredanya tekanan inflasi. Jika tekanan harga energi berkurang, bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, memiliki ruang untuk tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga.

Kondisi suku bunga menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, emas cenderung kurang menarik ketika suku bunga meningkat karena investor memiliki pilihan aset lain yang menawarkan imbal hasil.

Sebaliknya, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat memberi ruang bagi emas untuk kembali menguat. Meski demikian, seperti diingatkan Lin, pergerakan harga emas masih rentan terhadap perubahan sentimen pasar. (ar)