Journalist Independent, MAKASSAR – PSM Makassar tidak cukup hanya menguasai bola untuk mengamankan kemenangan saat menjamu Persebaya Surabaya.
Di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Kamis (22/10/2026), Juku Eja harus mampu mengubah dominasi menjadi peluang sekaligus menjaga pertahanan agar tidak menjadi sasaran serangan balik.
Tantangan itu membuat duel pekan keenam Super League 2026/2027 menarik sebagai pertemuan dua pelatih yang pernah membawa PSM meraih gelar.
Darije Kalezic kini menangani PSM Makassar, sedangkan Bernardo Tavares memimpin Persebaya Surabaya. Keduanya pernah meninggalkan jejak prestasi di klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan tersebut.
Kalezic membawa PSM menjuarai Piala Indonesia 2019, sementara Tavares mempersembahkan gelar Liga 1 musim 2022/2023 setelah menukangi tim selama sekitar tiga setengah tahun.
Pertemuan kali ini bukan sekadar reuni. Kedua pelatih datang dengan pendekatan yang berbeda dan sama-sama membutuhkan poin.
PSM ingin memperbaiki posisi di papan bawah, sedangkan Persebaya berusaha menjaga jarak dengan tim-tim teratas klasemen.
Kalezic cenderung mendorong PSM bermain dengan penguasaan bola dan mengambil inisiatif serangan.
Pola itu memberi kesempatan kepada tim untuk mengendalikan tempo dan menekan lawan sejak awal.
Namun, pendekatan agresif juga menuntut koordinasi pertahanan yang rapi, terutama ketika banyak pemain bergerak naik membantu serangan.
Garis pertahanan yang tinggi dapat meninggalkan ruang di belakang bek.
Jika kehilangan bola pada saat pemain belum kembali ke posisinya, PSM berisiko menghadapi serangan cepat yang langsung mengarah ke area pertahanan.
Situasi seperti ini bisa dimanfaatkan Persebaya, yang terbiasa menunggu lawan maju sebelum melancarkan transisi.
Karena itu, pekerjaan Kalezic bukan hanya menambah jumlah pemain di area serang.
PSM perlu memastikan ada pemain yang menjaga keseimbangan, menutup jalur umpan pertama lawan, dan segera menekan setelah kehilangan penguasaan bola.
Tanpa antisipasi tersebut, dominasi permainan justru dapat membuka peluang bagi Persebaya.
Persebaya Bisa Menunggu dan Menghukum Kesalahan
Tavares dikenal dengan pendekatan yang lebih pragmatis. Saat masih melatih PSM, pelatih asal Portugal itu kerap mengandalkan pertahanan kompak, disiplin antarlini, lalu serangan balik cepat. Pola tersebut ikut mengantar Juku Eja menjadi juara Liga 1 2022/2023.
Di Persebaya, pendekatan itu berpotensi kembali menjadi senjata saat menghadapi mantan klubnya.
Bajul Ijo tidak harus mengejar penguasaan bola jika bisa menjaga ruang, memancing PSM maju, lalu menyerang ketika menemukan celah.
Umpan langsung ke depan dan distribusi bola ke sisi sayap dapat menjadi pilihan untuk mempercepat serangan.
PSM perlu waspada terhadap momen ketika serangan mereka terhenti.
Jika pemain terlalu fokus mengejar gol dan terlambat mengantisipasi bola kedua, Persebaya bisa memanfaatkan ruang yang terbuka.
Disiplin saat bertahan akan sama pentingnya dengan kreativitas ketika membangun serangan.
Dari sisi klasemen, tekanan terhadap kedua tim juga berbeda. PSM berada di peringkat ke-14 dengan lima poin, hanya terpaut empat poin dari PSIM Yogyakarta yang berada di posisi teratas zona degradasi.
Kemenangan di kandang akan membantu PSM menjauh dari ancaman papan bawah sekaligus menjaga momentum setelah meraih hasil positif sebelumnya.
Persebaya berada di peringkat ketujuh dengan sembilan poin, terpaut tiga angka dari pemuncak klasemen Persija Jakarta. Tambahan tiga poin di Parepare akan menjaga peluang mereka tetap bersaing di papan atas.
Mantan pelatih PSM Makassar, Syamsuddin Umar, menilai tuan rumah perlu membangun serangan secara berkelanjutan, bukan berhenti setelah satu upaya gagal.
Ia menyarankan pendekatan yang disebutnya sebagai double attack: ketika serangan pertama kandas, PSM harus segera merebut bola dan menyiapkan serangan berikutnya.
“Menyerang gagal, menyerang lagi,” kata Syamsuddin.
Menurut dia, PSM tidak boleh memaksakan semua serangan menembus tengah jika jalur tersebut tertutup.
Pemain bisa memperlebar permainan melalui sayap atau mencoba umpan terobosan ketika ruang terbuka.
Variasi ini dapat membuat pertahanan Persebaya sulit menjaga bentuknya sepanjang pertandingan.
Namun, serangan berulang harus disertai kesiapan menghadapi bola yang lepas.
Syamsuddin mengingatkan pentingnya membaca arah bola setelah upaya menyerang gagal, sehingga PSM dapat melakukan tekanan ulang dan tidak memberi lawan kesempatan melancarkan serangan balik dengan leluasa.
Ia juga menyoroti peran Sergio Aguero di lini tengah PSM. Menurut Syamsuddin, kehadiran pemain tim nasional Malaysia itu membantu menjaga keseimbangan permainan.
Aguero perlu menjaga posisinya agar tidak terlalu jauh meninggalkan area tengah, terutama saat pemain lain bergerak ke depan.
Keseimbangan tersebut bisa menjadi kunci untuk mempertahankan ritme sekaligus menghambat transisi Persebaya.
Jika PSM mampu menguasai bola, menyerang melalui beberapa jalur, dan cepat membentuk pertahanan setelah kehilangan bola, peluang mereka untuk mengendalikan pertandingan akan lebih besar.
Dukungan Suporter Jadi Modal Tambahan
Bermain di Stadion Gelora BJ Habibie memberi PSM kesempatan memanfaatkan dukungan suporter di Parepare.
Atmosfer kandang dapat menambah energi pemain, tetapi tekanan untuk menang juga harus dikelola agar tim tidak terburu-buru ketika membangun serangan.
PSM membutuhkan permainan agresif yang terukur, bukan sekadar menaikkan jumlah pemain di depan. Sementara itu, Persebaya berpeluang memanfaatkan setiap kesalahan posisi untuk menyerang dengan cepat.
Pertarungan Kalezic dan Tavares pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing membaca perubahan situasi.
Jika PSM mampu menekan tanpa meninggalkan ruang terlalu besar, mereka bisa memaksimalkan keuntungan sebagai tuan rumah.
Namun, jika serangan terlalu mudah dipatahkan, pola serangan balik Persebaya dapat menjadi ancaman serius bagi Juku Eja. (*)






