Konsumsi Pertalite dan Solar Melonjak, Pertamina Atur Ulang Distribusi BBM

Journalist Independent
Ilustrasi Antrean BBM (PT Pertamina)
Ilustrasi Antrean BBM (PT Pertamina)

Journalist Independent, JAKARTA — Antrean kendaraan di sejumlah SPBU Bondowoso, Jawa Timur, mendorong Pertamina Patra Niaga menyesuaikan strategi distribusi bahan bakar minyak (BBM).

Perusahaan menghadapi lonjakan konsumsi Pertalite hingga 20 persen, sementara kepadatan lalu lintas di jalur Ketapang-Banyuwangi berpotensi menghambat ketepatan waktu pengiriman pasokan.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan perusahaan terus memantau kebutuhan energi masyarakat dan mengevaluasi situasi di lapangan.

Pertamina juga memperkuat koordinasi antarterminal serta menyiapkan armada distribusi untuk menjaga kelancaran penyaluran BBM di Bondowoso dan daerah sekitarnya.

“Pertamina Patra Niaga terus memperkuat koordinasi dan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi. Kami memastikan setiap dinamika di lapangan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang tepat, dengan tetap mengedepankan keandalan layanan dan kepentingan masyarakat,” kata Kitty dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).

Peningkatan konsumsi Pertalite sekitar 16 hingga 20 persen dibandingkan kondisi normal menjadi salah satu faktor yang memicu antrean di SPBU.

Pertamina mengaitkan kenaikan tersebut dengan meningkatnya aktivitas masyarakat serta peralihan sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Di sisi lain, pekerjaan perbaikan dermaga yang berdampak pada kepadatan lalu lintas di jalur Ketapang-Banyuwangi menambah tantangan distribusi.

Kondisi ini membuat perusahaan perlu mengatur kembali pengiriman agar SPBU yang membutuhkan tambahan pasokan bisa memperoleh prioritas.

Pertamina Prioritaskan SPBU yang  Butuh Pasokan

Untuk mengantisipasi gangguan layanan, Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian suplai dengan memprioritaskan SPBU yang mengalami peningkatan kebutuhan. Perusahaan juga mengoptimalkan alternatif pemenuhan pasokan dari terminal terkait dan memastikan kesiapan mobil tangki untuk mendukung distribusi.

Koordinasi dengan Integrated Terminal (IT) Tanjungwangi dan IT Surabaya turut diperkuat guna menjaga kelancaran pengiriman. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengantisipasi perubahan kebutuhan sekaligus menekan risiko keterlambatan pasokan ke lembaga penyalur.

“Koordinasi dengan Integrated Terminal (IT) Tanjungwangi dan IT Surabaya juga diperkuat untuk mendukung kelancaran pengiriman BBM,” ujar Kitty.

Selain memperkuat distribusi, Pertamina meningkatkan pengawasan penyaluran BBM di SPBU, termasuk penerapan QR Code sesuai ketentuan. Pengawasan tersebut bertujuan mendukung penyaluran BBM subsidi agar sesuai aturan dan menjangkau konsumen yang berhak.

Perusahaan juga mengantisipasi pembelian berulang yang terindikasi bertujuan menjual kembali BBM dengan harga lebih tinggi. Praktik semacam itu berpotensi mengganggu pemerataan pasokan dan membuat konsumen lain kesulitan mendapatkan bahan bakar sesuai kebutuhan.

Kitty mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan serta menggunakan BBM sesuai kebutuhan. Ia juga meminta konsumen mengikuti informasi dari kanal resmi Pertamina untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai layanan dan distribusi.

“Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, membeli dan menggunakan BBM sesuai kebutuhan, serta memperoleh informasi dari kanal informasi resmi Pertamina,” tuturnya.

Masyarakat yang ingin meminta informasi atau menyampaikan keluhan mengenai layanan dan penyaluran BBM dapat menghubungi Pertamina Contact Center 135.

Makassar Uji Coba Pengaturan Layanan Biosolar

Upaya menata penyaluran BBM juga berlangsung di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mulai menguji skema clusterisasi layanan Biosolar di sejumlah SPBU penyalur untuk mengatur pola kedatangan kendaraan, terutama bus dan truk.

Pertamina menjalankan uji coba tersebut bersama Pemerintah Kota Makassar. Skema ini bertujuan membuat proses pengisian lebih tertata sekaligus mengurangi penumpukan antrean yang dapat mengganggu arus lalu lintas di sekitar SPBU.

Salah satu lokasi penerapan uji coba ialah SPBU 74.902.31 di Jalan AP Pettarani, Makassar. Melalui pengaturan waktu pelayanan berdasarkan kelompok kendaraan, Pertamina berharap kedatangan bus dan truk tidak terkonsentrasi pada waktu yang sama.

Dari sisi ketersediaan, Pertamina menyatakan penyaluran Biosolar di Makassar tetap dijaga untuk memenuhi kebutuhan konsumen sesuai ketentuan.

Uji coba clusterisasi berfokus pada pengelolaan layanan dan pergerakan kendaraan, bukan mengubah ketentuan mengenai penerima BBM subsidi.

Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan skema tersebut masih dalam tahap pengujian.

Pertamina bersama pemerintah kota akan mengevaluasi efektivitasnya sebelum memutuskan kemungkinan penerapan yang lebih luas.

“Pengaturan layanan melalui clusterisasi saat ini masih dalam tahap uji coba di SPBU penyalur Biosolar di Kota Makassar. Kami bersama Pemerintah Kota Makassar akan melihat efektivitas pelaksanaannya, mulai dari pengaturan waktu pengisian hingga dampaknya terhadap antrean dan lalu lintas. Hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk menentukan skema layanan yang paling sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Lilik.

Evaluasi Antrean dan Kelancaran Lalu Lintas

Selama uji coba, Pertamina dan pengelola SPBU memantau panjang antrean, pola kedatangan kendaraan, realisasi penyaluran, serta efektivitas pengaturan waktu pengisian. Pengelola juga menata kendaraan di area pelayanan agar antrean tidak meluber ke jalan raya.

Jika kepadatan meningkat, petugas SPBU akan mengatur posisi kendaraan supaya antrean tetap berada di area yang ditentukan dan tidak menghambat pengguna jalan lain.

Hasil pemantauan menjadi bahan evaluasi bersama Pemerintah Kota Makassar untuk menentukan apakah skema clusterisasi perlu diperluas ke SPBU lain.

Pertamina belum menetapkan penerapan yang lebih luas sebelum menilai hasil uji coba dan kondisi masing-masing lokasi.

Pertamina turut mengingatkan masyarakat agar menggunakan Biosolar sesuai peruntukan dan kebutuhan.

Jika konsumen menemukan kendala pelayanan atau indikasi pelanggaran penyaluran BBM, laporan dapat disampaikan melalui Pertamina Customer Solution (PCS) 135 agar petugas menindaklanjutinya sesuai ketentuan.

Langkah di Bondowoso dan Makassar menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam menjaga layanan energi. Di Bondowoso, perusahaan berfokus menyesuaikan pasokan menghadapi lonjakan konsumsi dan hambatan pengiriman.

Sementara di Makassar, Pertamina menguji penataan waktu pelayanan untuk mengurangi antrean kendaraan berat.

Keduanya menitikberatkan koordinasi, pengawasan, dan evaluasi agar penyaluran BBM berlangsung lebih tertib serta kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (*)