Saham BBCA Kembali Diuji Setelah Rumor Merger DBS Dibantah, Intip Level Kunci BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI

Journalist Independent
Bank BCA
Bank BCA (Ist)
Journalist Independent, JAKARTA — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belum sepenuhnya pulih dari gejolak akibat rumor merger dengan DBS Indonesia.
Meski kembali menghijau pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, pergerakan saham bank swasta terbesar di Indonesia ini masih menyimpan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor.

BBCA mengakhiri perdagangan di level Rp4.980 per saham atau menguat 0,81 persen. Namun, kenaikan tersebut belum cukup meyakinkan karena saham ini masih terkoreksi 0,90 persen dalam sepekan.

Sebelumnya, pada Kamis (29/10/2026), BBCA sempat mengalami tekanan jual setelah DBS membantah kabar rencana penggabungan usaha dengan BCA.

BCA kemudian menyampaikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (30/10/2026).

Perseroan menegaskan rumor merger dengan anak perusahaan DBS tersebut tidak benar. Dengan demikian, spekulasi aksi korporasi yang sempat memengaruhi pergerakan harga BBCA tidak memiliki konfirmasi dari kedua pihak.

Kondisi ini membuat investor perlu kembali memperhatikan fundamental pergerakan pasar, terutama aktivitas investor asing, distribusi dan akumulasi saham, serta kemampuan harga menembus level psikologis Rp5.000.

Level Rp5.000 Jadi Penentu Arah Saham BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI

Dalam perdagangan Jumat, kenaikan BBCA belum disertai akumulasi kuat berdasarkan pembacaan broker summary. Aktivitas investor asing juga menunjukkan kecenderungan keluar selama dua hari terakhir setelah sebelumnya sempat masuk ketika rumor merger ramai diperbincangkan.

Level Rp5.000 kini menjadi area penting. Jika BBCA mampu menembus dan bertahan di atasnya, saham ini berpeluang melanjutkan penguatan menuju Rp5.300 hingga Rp5.500. Sebaliknya, kegagalan melewati Rp5.000 berpotensi membuat pergerakan kembali melemah atau bergerak mendatar.

Tekanan juga membayangi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saham ini ditutup turun 0,36 persen ke Rp2.800.

Baca Juga  Pertamina Salurkan B50 dari Terminal BBM hingga SPBU di Seluruh Indonesia

Aksi distribusi besar dan keluarnya investor asing membuat area Rp2.800 perlu diperhatikan. Jika level tersebut jebol, BBRI berpotensi menguji Rp2.500. Sebaliknya, kemampuan bertahan di atasnya membuka peluang menuju Rp3.000 hingga Rp3.050.

Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berakhir stagnan di Rp3.720. Area Rp3.800 menjadi resistance penting. Jika gagal menembusnya, harga berisiko melemah menuju Rp3.500. Aktivitas investor asing yang masih menunjukkan tekanan jual juga perlu menjadi perhatian.

Berbeda dengan ketiga saham tersebut, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menunjukkan sinyal pemulihan. Saham ini menguat 2,47 persen ke Rp3.320 pada Jumat, disertai indikasi akumulasi.

Area Rp3.300 menjadi level yang harus dipertahankan BBNI untuk menjaga momentum penguatan. Jika mampu bertahan, saham ini berpeluang menguji Rp3.500 dan selanjutnya menuju area Rp3.650. Namun, apabila kembali turun, investor perlu memperhatikan support berikutnya di Rp3.200 hingga Rp3.000.

Perbandingan harga penutupan keempat saham pada 30 Oktober 2026 menunjukkan BBCA di Rp4.980, BBRI Rp2.800, BMRI Rp3.720, dan BBNI Rp3.320.

Bagi investor, kondisi tersebut menunjukkan bahwa saham perbankan besar belum bergerak dalam tren pemulihan yang seragam. BBCA masih menunggu konfirmasi penembusan Rp5.000, BBRI dan BMRI menghadapi tekanan jual, sedangkan BBNI mulai memperlihatkan peluang rebound.

Karena itu, keputusan entry sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga yang terlihat murah. Konfirmasi pergerakan harga, volume transaksi, aktivitas investor asing, dan kemampuan mempertahankan level support tetap menjadi pertimbangan penting.

Seluruh level teknikal tersebut merupakan skenario analisis, bukan jaminan pergerakan harga maupun rekomendasi membeli atau menjual saham. (*)